PAYAKUMBUH, KP – Sabtu pagi (16/9/2023), menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi warga Kelurahan Nunang Daya Bangun, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh. Sebuah bau busuk yang menyengat selama tiga hari berturut-turut akhirnya membawa mereka pada sebuah temuan mengerikan.
Di dalam toilet bekas Bioskop Karya, sesosok mayat pria terbaring dalam posisi tertelungkup. Bekas bioskop yang sudah lama tak terawat, tanpa atap dan dipenuhi tanaman liar, itu mendadak ramai didatangi warga guna menyaksikan langsung olah tempat kejadian perkara yang dilakukan oleh Tim Identifikasi Satreskrim Polres Payakumbuh.
Identitas korban segera terungkap. Ia adalah Bambang Irawan, pria berusia 45 tahun yang lebih akrab disapa Robert Cabiak. Sehari-hari, Robert bekerja sebagai buruh angkat atau buruh bongkar muat barang di Pasar Payakumbuh. Warga Kelurahan Nunang Daya Bangun ini juga dikenal sebagai anggota Serikat Pekerja Transport Indonesia.
Kronologi Penemuan Mayat
Semua berawal ketika seorang saksi bernama Cecen Sandra Vilo (41 taun), seorang karyawan Aneka Motor Payakumbuh, disuruh oleh bosnya untuk membersihkan pekarangan di belakang toko karena adanya bau busuk yang sudah menyengat selama tiga hari. Ia pun menelusuri asal bau tersebut hingga ke arah toilet di bekas bioskop. Di sanalah ia menemukan mayat Robert dalam keadaan tertelungkup.
Saksi segera memberitahukan penemuannya kepada rekan-rekannya dan melaporkannya kepada warga serta polisi. Mendapat laporan tersebut, polis langsung mendatangi lokasi dan melakukan olah TKP. Tak lama berselang, Tim SAR Limapuluh Kota turut membantu mengevakuasi mayat ke RSUD Adnaan WD Payakumbuh. Selanjutnya, jenazah diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, di Padang untuk mengetahui penyebab pasti kematian.
Dari lokasi kejadian, pihak kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti yang menjadi petunjuk awal dalam penyelidikan. Barang-barang tersebut antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik korban, kartu pengenal lainnya, topi yang identik dengan milik Robert, serta kartu BPJS.
Yang menarik perhatian adalah dua potongan kayu yang ditemukan di lokasi. Keberadaan potongan kayu ini memicu berbagai spekulasi, meskipun hingga kini belum ada keterangan resmi dari polisi mengenai kaitannya dengan penyebab kematian Robert.
Identitas korban dipastikan setelah dilakukan pencocokan dengan istri korban. Barang-barang yang ditemukan di TKP memang diakui identik dengan milik Robert. Namun, di balik barang-barang bukti yang telah diamankan, pertanyaan besar tak kunjung terjawab sampai saat ini, apa sebenarnya yang menyebabkan Robert Cabiak meregang nyawa di tempat yang sunyi itu?
Kendala utama yang dihadapi oleh Satreskrim Polres Payakumbuh adalah belum adanya dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka. Dalam proses hukum di Indonesia, minimal dua alat bukti diperlukan untuk menaikkan status perkara dari penyelidikan ke penyidikan dan menetapkan tersangka. Tanpa itu, kasus ini masih terus berputar di tahap penyelidikan, meski sudah lebih dari tiga tahun berlalu.
Spekulasi dan Motif yang Tak Jelas
Di tengah ketidakpastian penyebab kematian, berbagai spekulasi negatif terus berkembang liar di tengah masyarakat Payakumbuh. Dua isu utama yang paling santer terdengar adalah terkait persoalan hutang piutang dan keterlibatan narkoba. Robert yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh angkat di Pasar Payakumbuh memang dikenal memiliki mobilitas tinggi dan berinteraksi dengan banyak orang, sehingga dugaan-dugaan itu pun muncul ke permukaan.
Namun, hingga saat ini semua itu hanyalah sekadar dugaan yang belum bisa dibuktikan di mata hukum. Pihak kepolisian sendiri belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengarah pada motif tertentu. Sehingga, publik hanya bisa berspekulasi dan menunggu. Ketidakpastian ini justru membuat kasus ini semakin berlapis-lapis misterinya.
Tiga Kapolres Berganti, Akankah Tirai Terbuka?
Waktu terus berjalan, namun kematian Bambang Irawan alias Robert Cabiak tak kunjung menemui titik terang. Sejak peristiwa naas pada September 2023 itu, telah terjadi pergantian kepemimpinan di tubuh Polres Payakumbuh sebanyak tiga kali.
Baik jabatan Kapolres maupun Kasat Reskrim telah berganti tiga orang, namun kasus ini masih tetap menjadi ‘tunggakan’ yang tak terselesaikan. Bahkan, bangunan eks Bioskop Karya yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP) penemuan jasad Robert pun telah beralih fungsi menjadi pasar pabukoan saat Ramadan.
Pada Jumat (31/7, sebuah harapan baru muncul di tengah kebuntuan penyelidikan. AKBP Irwan Andeta, yang baru beberapa hari menjabat sebagai Kapolres Payakumbuh menggantikan AKBP Ricky Ricardo yang kini bertugas di Pesisir Selatan, memberikan pernyataan tegas di hadapan puluhan wartawan yang tergabung dalam PWI Kota Payakumbuh-Kabupaten 50 Kota.
Dalam acara silaturahmi yang digelar di Kantor PWI di Pusat Kota Payakumbuh itu, Irwan dengan lugas menyatakan bahwa kasus kematian Robert Cabiak akan menjadi prioritas utamanya sebagai Kapolres yang baru.
Didampingi oleh Kasat Reskrim yang baru, Iptu Andrio Surya Putra Siregar, AKBP Irwan Andeta mengungkapkan niatnya untuk segera menelisik konstruksi permasalahan di balik ketidakmampuan mengungkap kasus ini selama hampir tiga tahun.
“Nanti saya lihat, konstruksi permasalahannya, kenapa tidak terungkap. Kendalanya nanti kita lihat. Semua kasus yang jadi tunggakan pasti saya atensi,” ujarnya.
Lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 2012 itu menegaskan bahwa semua tunggakan kasus akan diberlakukan sama untuk menjadi atensi, termasuk kasus kematian Bambang Irawan. Ia mengakui bahwa proses penyelidikan pasti tidak mudah dan akan menemui berbagai kendala, namun yang terpenting adalah kasus ini menjadi fokus perhatian di Polres Payakumbuh.
Masyarakat Payakumbuh khususnya keluarga Robert Cabiak kini kembali menaruh harapan. Setelah tiga kali pergantian Kapolres dan tiga kali pergantian Kasat Reskrim, mampukah AKBP Irwan Andeta dan Iptu Andrio Surya Putra Siregar menjadi ‘jawaban’ atas kebuntuan ini?
Hanya waktu yang akan menjawab, seiring dengan langkah-langkah penyelidikan yang kini kembali diintensifkan di bawah komando baru Polres Payakumbuh. (Doddy Sastra)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!