Tak Perlu Lagi Takut Jarum, Kini Hemoglobin Bisa Dicek Lewat Ujung Jari 

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T, M.Sc (Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah)

by Redaksi
A+A-
Reset

BAGI sebagian orang, pemeriksaan darah menjadi pengalaman yang menegangkan. Rasa takut terhadap jarum suntik, ketidaknyamanan saat pengambilan sampel darah, hingga kekhawatiran terhadap infeksi sering kali membuat masyarakat enggan memeriksakan kondisi kesehatannya. Padahal, pemeriksaan kadar hemoglobin merupakan salah satu langkah penting untuk mendeteksi anemia dan berbagai gangguan kesehatan sejak dini.

Kini, harapan baru hadir melalui inovasi teknologi yang dikembangkan oleh dosen Universitas Baiturrahmah (Unbrah) Padang. Melalui penelitian di bidang teknologi kesehatan, tim peneliti berhasil mengembangkan alat pengukur kadar hemoglobin tanpa pengambilan darah atau non-invasif yang cukup digunakan dengan meletakkan ujung jari pada sebuah sensor. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan pengalaman pemeriksaan yang lebih nyaman sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan skrining kesehatan.

Hemoglobin merupakan protein yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal, seseorang dapat mengalami anemia dengan berbagai gejala seperti mudah lelah, tubuh terasa lemas, pusing, sesak napas saat beraktivitas, hingga menurunnya konsentrasi dan produktivitas. Oleh karena itu, pemeriksaan hemoglobin menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Selama ini, pemeriksaan hemoglobin umumnya dilakukan melalui pengambilan sampel darah menggunakan tusukan pada ujung jari atau melalui pembuluh darah vena. Meskipun metode tersebut memiliki tingkat akurasi yang tinggi, prosesnya memerlukan tenaga kesehatan, peralatan laboratorium, bahan habis pakai, serta prosedur yang relatif lebih lama. Selain itu, metode invasif juga dapat menimbulkan rasa nyeri dan kurang nyaman bagi sebagian pasien. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan metode pemeriksaan hemoglobin yang lebih sederhana, aman, dan nyaman tanpa mengurangi kualitas hasil pengukuran.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim peneliti mengembangkan sebuah perangkat yang memanfaatkan sensor optik MAX30100. Sensor ini bekerja dengan memancarkan cahaya merah dan inframerah ke jaringan pada ujung jari. Cahaya yang dipantulkan kemudian dibaca oleh sensor untuk menangkap perubahan volume darah yang terjadi setiap detak jantung. Informasi optik tersebut diproses menjadi sinyal photoplethysmography (PPG) yang selanjutnya digunakan untuk memperkirakan kadar hemoglobin melalui model kalibrasi yang telah dikembangkan dalam penelitian. Prinsip kerja perangkat memanfaatkan hubungan antara intensitas sinyal optik dengan kadar hemoglobin tanpa memerlukan pengambilan sampel darah.

Agar alat dapat bekerja secara mandiri, sensor dihubungkan dengan mikrokontroler NodeMCU ESP8266 yang berfungsi mengolah data hasil pembacaan sensor. Nilai hemoglobin yang telah dihitung kemudian langsung ditampilkan pada layar LCD sehingga pengguna dapat mengetahui hasil pemeriksaannya hanya dalam waktu singkat. Tidak berhenti di situ, perangkat juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) sehingga hasil pengukuran dapat dikirim secara otomatis ke aplikasi Blynk pada telepon pintar melalui jaringan Wi-Fi. Dengan demikian, hasil pemeriksaan dapat dipantau secara real time dari mana saja selama perangkat terhubung ke internet.

Menurut tim peneliti, kemampuan mengirim data secara langsung ke smartphone menjadi salah satu keunggulan utama perangkat ini. Teknologi tersebut membuka peluang bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan pasien secara jarak jauh, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses laboratorium yang terbatas. Selain itu, hasil pemeriksaan dapat terdokumentasi secara digital sehingga lebih mudah dipantau dari waktu ke waktu.

Dalam proses pengujian, perangkat dibandingkan dengan alat pemeriksaan hemoglobin invasif yang telah digunakan sebagai standar. Hasilnya menunjukkan performa yang sangat menggembirakan. Dari pengujian terhadap 30 responden, perangkat mampu mencapai tingkat akurasi rata-rata sebesar 95,91 persen dengan nilai kesalahan pengukuran yang rendah. Korelasi antara hasil pengukuran alat yang dikembangkan dengan alat referensi juga sangat kuat, menunjukkan bahwa perangkat memiliki potensi besar sebagai media skrining awal kadar hemoglobin.

Keunggulan lain dari alat ini adalah desainnya yang portabel. Seluruh komponen utama, mulai dari sensor, mikrokontroler, layar LCD, hingga baterai isi ulang, dirancang dalam bentuk yang ringkas sehingga mudah dibawa dan digunakan di berbagai lokasi. Perangkat tidak memerlukan ruang laboratorium khusus maupun peralatan tambahan yang rumit. Kondisi ini membuat alat berpotensi dimanfaatkan pada kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, posyandu, puskesmas, daerah terpencil, hingga pelayanan kesehatan berbasis rumah atau home care. Penelitian juga menyoroti bahwa integrasi sensor optik, komunikasi nirkabel, dan desain portabel meningkatkan kemudahan penggunaan perangkat untuk skrining awal dan pemantauan kesehatan.

Bagi masyarakat, inovasi ini membawa harapan baru. Pemeriksaan hemoglobin yang sebelumnya identik dengan jarum suntik kini dapat dilakukan dengan lebih nyaman. Walaupun perangkat ini masih ditujukan sebagai alat skrining awal dan bukan pengganti pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh, kehadirannya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Semakin mudah proses pemeriksaan dilakukan, semakin besar pula peluang mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Tim peneliti juga menegaskan bahwa penelitian masih akan terus dikembangkan. Pengujian pada jumlah responden yang lebih besar, penyempurnaan model kalibrasi, serta pemanfaatan algoritma kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi langkah berikutnya untuk meningkatkan akurasi dan memperluas kemampuan perangkat. Dengan pengembangan tersebut, alat diharapkan tidak hanya menjadi inovasi laboratorium, tetapi juga dapat diproduksi secara lebih luas sebagai perangkat kesehatan karya anak bangsa yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Inovasi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mampu mengubah cara masyarakat memperoleh layanan kesehatan. Jika selama ini pemeriksaan hemoglobin identik dengan rasa takut terhadap jarum suntik, ke depan masyarakat mungkin cukup meletakkan ujung jari pada sebuah sensor untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Sebuah langkah kecil dalam teknologi, namun berpotensi memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0

Have any thoughts?

Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!