TRANSFORMASI digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Jika dahulu pelayanan kesehatan identik dengan pemeriksaan yang hanya dapat dilakukan di rumah sakit atau laboratorium, kini kemajuan teknologi memungkinkan berbagai parameter kesehatan dipantau secara real time melalui perangkat pintar yang terhubung dengan internet. Salah satu teknologi yang menjadi motor penggerak perubahan tersebut adalah Internet of Things (IoT).
Internet of Things merupakan konsep yang memungkinkan berbagai perangkat elektronik saling terhubung melalui jaringan internet untuk mengirimkan, menerima, dan mengolah data secara otomatis. Dalam bidang kesehatan, teknologi ini membuka peluang lahirnya berbagai inovasi, mulai dari alat pemantau tekanan darah, kadar oksigen, denyut nadi, hingga perangkat pemeriksaan hemoglobin yang dapat diakses melalui telepon pintar.
Melihat perkembangan tersebut, dosen Universitas Baiturrahmah (Unbrah) Padang mengembangkan sebuah perangkat pemeriksaan hemoglobin non-invasif berbasis Internet of Things. Inovasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi digital dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat.
Selama ini, pemeriksaan hemoglobin masih didominasi oleh metode konvensional yang memerlukan pengambilan sampel darah. Selain membutuhkan tenaga kesehatan dan peralatan laboratorium, proses tersebut juga memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini sering menjadi kendala, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Melalui pemanfaatan teknologi IoT, proses pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih sederhana. Perangkat yang dikembangkan memanfaatkan sensor optik MAX30100 untuk membaca sinyal aliran darah pada ujung jari tanpa harus mengambil sampel darah. Sinyal tersebut kemudian diproses oleh mikrokontroler NodeMCU ESP8266, yang sekaligus berfungsi sebagai penghubung perangkat dengan jaringan internet. Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan sensor MAX30100, NodeMCU ESP8266, layar LCD, dan komunikasi Wi-Fi untuk memperkirakan kadar hemoglobin serta mengirimkan hasilnya ke aplikasi Blynk secara real time.
Salah satu keunggulan utama dari teknologi ini adalah kemampuan mengirimkan hasil pemeriksaan secara otomatis ke aplikasi Blynk pada smartphone. Begitu proses pengukuran selesai, nilai hemoglobin langsung ditampilkan pada layar LCD perangkat dan pada saat yang sama dikirim ke aplikasi melalui koneksi Wi-Fi. Pengguna tidak perlu lagi mencatat hasil pemeriksaan secara manual karena seluruh data dapat dipantau secara digital.
Kemampuan tersebut memberikan manfaat yang sangat besar dalam mendukung pelayanan kesehatan modern. Tenaga kesehatan dapat memantau kondisi pasien tanpa harus selalu bertemu secara langsung. Pasien yang menjalani pemantauan rutin juga tidak harus datang ke rumah sakit setiap kali ingin mengetahui perkembangan kondisi kesehatannya. Semua informasi dapat diakses melalui perangkat yang terkoneksi dengan internet.
Dalam dunia medis, konsep seperti ini dikenal sebagai remote patient monitoring atau pemantauan pasien jarak jauh. Teknologi ini semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan yang cepat, efisien, dan mampu menjangkau masyarakat hingga ke daerah terpencil. Latar belakang penelitian juga menegaskan bahwa integrasi IoT pada perangkat medis memungkinkan komunikasi dengan aplikasi seluler dan platform berbasis cloud sehingga mendukung pemantauan kesehatan secara real time dan meningkatkan akses terhadap informasi kesehatan.
Bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis sangat luas, penerapan Internet of Things dalam bidang kesehatan menjadi peluang besar. Banyak daerah yang masih memiliki keterbatasan tenaga medis maupun laboratorium kesehatan. Dengan adanya perangkat kesehatan yang mampu mengirimkan data secara daring, proses skrining awal dapat dilakukan lebih cepat sehingga pasien yang memerlukan pemeriksaan lanjutan dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
Penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Baiturrahmah menunjukkan bahwa teknologi tersebut tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga menghasilkan performa yang sangat baik. Berdasarkan hasil pengujian terhadap 30 sampel, perangkat mampu mencapai tingkat akurasi rata-rata sebesar 95,91 persen dibandingkan alat pemeriksaan hemoglobin invasif yang digunakan sebagai standar. Nilai korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa perangkat memiliki kemampuan yang baik dalam memperkirakan kadar hemoglobin sebagai media skrining awal.
Selain memiliki tingkat akurasi yang tinggi, perangkat juga dirancang dalam bentuk yang portabel. Seluruh komponen elektronik ditempatkan dalam sebuah alat berukuran ringkas sehingga mudah dibawa ke berbagai lokasi pelayanan kesehatan. Penggunaan baterai isi ulang membuat perangkat dapat digunakan tanpa harus selalu terhubung dengan sumber listrik. Keunggulan tersebut menjadikan alat berpotensi dimanfaatkan pada kegiatan bakti sosial, pelayanan kesehatan keliling, pemeriksaan di daerah terpencil, maupun pelayanan kesehatan berbasis rumah.
Tidak hanya itu, penerapan teknologi IoT juga membantu proses dokumentasi data kesehatan. Selama ini, hasil pemeriksaan sering kali masih dicatat secara manual sehingga berisiko hilang atau sulit ditelusuri kembali. Dengan sistem digital, data dapat tersimpan secara lebih rapi dan mudah diakses ketika diperlukan. Hal ini mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efisien sekaligus mempermudah proses evaluasi kondisi pasien dari waktu ke waktu.
Meskipun demikian, para peneliti menyadari bahwa pengembangan teknologi kesehatan tidak berhenti pada tahap prototipe. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan jumlah responden, memperbaiki model kalibrasi, serta mengembangkan algoritma yang lebih cerdas agar tingkat akurasi semakin tinggi. Selain itu, aspek keamanan data dan integrasi dengan sistem informasi kesehatan juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan perangkat berbasis Internet of Things di masa depan. Penelitian merekomendasikan validasi pada populasi yang lebih besar serta pengembangan metode kalibrasi yang lebih maju untuk meningkatkan akurasi dan memperluas penerapan perangkat.
Kehadiran inovasi ini membuktikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong transformasi digital di sektor kesehatan. Melalui pemanfaatan Internet of Things, berbagai keterbatasan pelayanan kesehatan konvensional mulai dapat diatasi. Pemeriksaan menjadi lebih cepat, hasil dapat dipantau secara real time, dan masyarakat memperoleh akses yang lebih mudah terhadap layanan kesehatan modern.
Di masa mendatang, teknologi seperti ini diperkirakan akan semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang kesehatan. Tidak hanya untuk pemeriksaan hemoglobin, tetapi juga untuk pemantauan penyakit kronis, kesehatan lansia, hingga layanan telemedicine. Dengan terus berkembangnya inovasi berbasis IoT, Indonesia memiliki peluang besar untuk menghadirkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih dekat dengan masyarakat. *
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!