Dosen Unbrah Kembangkan Alat Cek Hemoglobin Tanpa Jarum Berbasis IoT

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T, M.Sc (Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah)

by Redaksi
A+A-
Reset

PERKEMBANGAN teknologi kesehatan terus menghadirkan berbagai inovasi yang memberikan kemudahan bagi masyarakat. Salah satu inovasi terbaru datang dari dosen Universitas Baiturrahmah (Unbrah) Padang yang berhasil mengembangkan alat pengukur kadar hemoglobin (Hb) tanpa pengambilan darah atau non-invasif berbasis Internet of Things (IoT).

Penelitian yang dilakukan oleh Fauzyah Aprillia bersama tim ini bertujuan menghadirkan solusi pemeriksaan hemoglobin yang lebih nyaman, praktis, dan mudah diakses oleh masyarakat. Selama ini, pemeriksaan kadar hemoglobin masih didominasi oleh metode invasif yang mengharuskan pengambilan sampel darah melalui tusukan pada ujung jari atau pembuluh darah. Bagi sebagian orang, terutama anak-anak maupun lansia, prosedur tersebut sering menimbulkan rasa takut, tidak nyaman, bahkan berpotensi menyebabkan infeksi apabila tidak dilakukan sesuai prosedur.

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti mencoba menghadirkan alternatif pemeriksaan yang tidak memerlukan pengambilan darah. Alat yang dikembangkan memanfaatkan sensor optik MAX30100 yang mampu membaca perubahan volume darah melalui pancaran cahaya merah dan inframerah pada ujung jari. Data yang diperoleh kemudian diproses oleh mikrokontroler NodeMCU ESP8266 untuk memperkirakan kadar hemoglobin seseorang menggunakan model kalibrasi yang telah dikembangkan sebelumnya. Pendekatan penelitian ini dirancang untuk menghasilkan perangkat pemantauan hemoglobin non-invasif yang terhubung dengan teknologi Internet of Things.

Tidak hanya mampu melakukan pengukuran, perangkat ini juga memiliki kemampuan mengirimkan hasil pemeriksaan secara langsung ke aplikasi Blynk pada telepon pintar melalui jaringan Wi-Fi. Dengan demikian, hasil pemeriksaan dapat dipantau secara real time tanpa harus berada di laboratorium ataupun fasilitas kesehatan.

Menurut Fauzyah Aprillia, pengembangan teknologi ini diharapkan mampu mendukung transformasi layanan kesehatan menuju era digital. Masyarakat dapat melakukan skrining awal kadar hemoglobin secara lebih mudah sebelum memutuskan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap apabila diperlukan.

Hemoglobin sendiri merupakan protein penting di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru menuju seluruh jaringan tubuh. Apabila kadar hemoglobin menurun, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen sehingga muncul berbagai keluhan seperti mudah lelah, pusing, lemas, hingga penurunan produktivitas. Oleh karena itu, pemeriksaan hemoglobin menjadi bagian penting dalam mendeteksi anemia maupun berbagai gangguan kesehatan lainnya. Latar belakang penelitian ini menekankan pentingnya pemeriksaan hemoglobin karena anemia masih menjadi masalah kesehatan global, sementara metode pemeriksaan konvensional masih bergantung pada pengambilan darah.

Dalam proses pengembangannya, alat dirancang menggunakan beberapa komponen utama, yaitu sensor MAX30100 sebagai pembaca sinyal optik, NodeMCU ESP8266 sebagai pengolah data sekaligus penghubung internet, layar LCD sebagai penampil hasil pengukuran, baterai isi ulang sebagai sumber daya, serta aplikasi Blynk sebagai media pemantauan melalui smartphone. Integrasi seluruh komponen tersebut menghasilkan sebuah perangkat portabel yang mudah dibawa dan digunakan kapan saja.

Pengujian terhadap prototipe menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Berdasarkan pengujian terhadap 30 sampel, alat mampu mencapai tingkat akurasi rata-rata sebesar 95,91 persen dibandingkan alat pemeriksaan hemoglobin invasif yang digunakan sebagai standar pembanding. Selain itu, nilai korelasi antara hasil pengukuran alat dengan alat referensi juga sangat tinggi, menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu memperkirakan kadar hemoglobin dengan tingkat kesesuaian yang baik.

Keunggulan lain dari inovasi ini adalah kemampuannya mendukung layanan kesehatan jarak jauh atau telemonitoring. Tenaga kesehatan maupun pengguna dapat melihat hasil pemeriksaan melalui aplikasi di smartphone secara langsung. Hal ini membuka peluang pemanfaatan perangkat pada pelayanan kesehatan primer, kegiatan skrining masyarakat, daerah terpencil, hingga pemantauan pasien di rumah.

Selain memberikan kenyamanan karena tidak memerlukan pengambilan darah, penggunaan komponen elektronik yang relatif terjangkau membuat biaya pengembangan perangkat menjadi lebih rendah dibandingkan peralatan laboratorium konvensional. Kondisi ini membuka peluang bagi pengembangan alat kesehatan karya anak bangsa yang dapat diproduksi dengan biaya lebih ekonomis namun tetap memiliki performa yang baik.

Meski demikian, peneliti menyampaikan bahwa penelitian ini masih memerlukan pengembangan lanjutan. Jumlah responden masih terbatas sehingga diperlukan pengujian pada populasi yang lebih besar dan lebih beragam. Selain itu, pengembangan algoritma berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) juga menjadi salah satu arah penelitian berikutnya agar akurasi pengukuran dapat terus ditingkatkan.

Inovasi yang dikembangkan oleh dosen Universitas Baiturrahmah ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui pemanfaatan Internet of Things, sensor optik, dan sistem pemantauan digital, penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju layanan pemeriksaan kesehatan yang lebih modern, praktis, serta mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0

Have any thoughts?

Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!