Apa hubungan antara proses bernapas dengan sensor elektronik?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami instrumentasi medis.
Melalui pengembangan spirometer portabel, mahasiswa D3 Radiologi dapat diperkenalkan pada hubungan antara fenomena fisiologis dan sistem elektronik yang menghasilkan data pengukuran.
Spirometri berkaitan dengan pengukuran fungsi paru. Beberapa parameter penting yang digunakan adalah Forced Vital Capacity atau FVC dan Forced Expiratory Volume in the first second atau FEV₁.
Dalam perangkat yang dikembangkan, proses pengukuran dimulai dari aliran udara melalui mouthpiece. Perubahan tekanan kemudian dideteksi oleh sensor MPX5500DP.
Sensor menghasilkan sinyal yang selanjutnya diproses menggunakan Arduino Uno. Data yang telah diolah kemudian ditampilkan melalui Nextion Display.
Rangkaian tersebut memberikan contoh nyata bagaimana tubuh manusia dapat menjadi sumber input bagi sebuah sistem instrumentasi.
Bagi mahasiswa radiologi, pemahaman tersebut dapat membantu menghubungkan materi fisiologi dengan teknologi kesehatan.
Selama ini, pembelajaran mengenai sistem tubuh dan pembelajaran mengenai alat dapat dipahami sebagai dua hal berbeda. Padahal, perangkat medis pada dasarnya bekerja dengan mengubah fenomena fisik atau fisiologis menjadi informasi yang dapat digunakan.
Spirometer portabel ini dirancang untuk memperlihatkan proses tersebut secara lebih konkret.
Tidak hanya menghasilkan angka, sistem juga dirancang menampilkan grafik pernapasan. Visualisasi tersebut dapat digunakan untuk membahas hubungan antara gerakan pernapasan dan data yang dihasilkan alat.
Penelitian ini juga memasukkan pengujian menggunakan syringe kalibrasi. Langkah tersebut memperkenalkan aspek penting lainnya, yakni bagaimana memastikan sistem pengukuran memberikan hasil yang sesuai dengan nilai acuan.
Dari sisi pendidikan, perangkat ini memiliki potensi untuk digunakan dalam pembelajaran berbasis praktik.
Namun, potensi tersebut perlu dibedakan dari bukti efektivitas pembelajaran. Penelitian yang dilakukan belum melibatkan evaluasi pre-test dan post-test terhadap mahasiswa.
Dengan demikian, penelitian saat ini lebih tepat dipahami sebagai tahap pengembangan media pembelajaran dan pengujian teknis awal.
Tahap berikutnya dapat dilakukan dengan melibatkan mahasiswa secara langsung. Peneliti dapat mengukur pengetahuan sebelum dan sesudah penggunaan alat, kemampuan melakukan prosedur pengukuran, pemahaman terhadap prinsip instrumentasi, serta pengalaman mahasiswa saat menggunakan perangkat.
Jika tahapan tersebut dilakukan, spirometer portabel tidak hanya menjadi sebuah prototipe teknologi, tetapi dapat berkembang menjadi media pembelajaran yang telah memiliki bukti empiris mengenai manfaat pendidikannya. *