Dosen Universitas Mercubaktijaya Latih Kader Kesehatan Manfaatkan Pare dan Kayu Manis untuk Dukung Pengendalian Diabetes

by Ahmad Kharisma
A+A-
Reset
Ketua Tim Pengabdi Universitas Mercubaktijaya Dr. Ns. Febriyanti, M.Kep., menyerahkan bantuan alat pembuat herbal teknologi tepat guna kepada perwakilan kader kesehatan usai sosialisasi pemanfaatan pare dan kayu manis.

PADANG, KP – Pemanfaatan bahan herbal lokal sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif pengendalian diabetes melitus terus didorong melalui pemberdayaan masyarakat. Salah satunya dilakukan Universitas Mercubaktijaya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan peran kader kesehatan dalam pemanfaatan pare dan kayu manis secara aman dan terarah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Juli hingga Agustus 2026 tersebut melibatkan 10 kader kesehatan dan 10 penderita diabetes melitus (DM).

Tim pelaksana terdiri dari Dr. Ns. Febriyanti, M. Kep., Yani Maidelwita, SKM, M.Biomed., Ph.D, Dr. Sri Handayani, SKM, M.Kes., dan mahasiswa dari Universitas Mercubaktijaya, yang berasal dari bidang keperawatan, informatika kesehatan, kesehatan masyarakat.

Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan herbal lokal secara tepat. Berdasarkan asesmen awal, sekitar 70 persen penderita DM telah mengenal pare dan kayu manis, namun belum memanfaatkannya secara terarah dalam konteks pengelolaan diabetes.

Sebanyak 80 persen masih melakukan pengolahan herbal secara tradisional tanpa memperhatikan kebersihan, takaran, dan frekuensi konsumsi secara jelas. Sementara itu, 90 persen belum pernah mendapatkan pendampingan kader mengenai pemanfaatan herbal lokal yang aman.

Kondisi tersebut mendorong tim pengabdian untuk tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga mengembangkan pendekatan yang lebih aplikatif melalui edukasi, demonstrasi, praktik langsung, teknologi tepat guna, pendampingan, serta evaluasi.

Materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar mengenai diabetes melitus, pola hidup sehat, pemanfaatan pare dan kayu manis sebagai bahan herbal lokal pendukung, prinsip keamanan konsumsi, serta teknik pengolahan yang higienis.

Salah satu kegiatan utama adalah praktik pembuatan teh pare dan teh kayu manis. Para kader diperkenalkan secara langsung dengan tahapan pemilihan bahan, pembersihan, pengirisan, pengeringan, penyiapan bahan teh, penakaran hingga pengemasan.

Produk olahan teh pare dan kayu manis hasil inovasi tim pengabdian Universitas Mercubaktijaya yang dikemas hienis dan terukur untuk membantu pengendalian gula darah penderita diabetes.

Produk olahan teh pare dan kayu manis hasil inovasi tim pengabdian Universitas Mercubaktijaya yang dikemas hienis dan terukur untuk membantu pengendalian gula darah penderita diabetes.

Untuk mendukung proses tersebut, peserta juga diperkenalkan dan diberikan wadah  teknologi tepat guna berupa alat pengering, grinder atau blender kering, timbangan digital, kemasan food grade, dan hand sealer. Kader juga mendapatkan SOP sederhana mengenai persiapan bahan, pengolahan, pengeringan, penakaran, pengemasan, dan penyimpanan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang cukup besar. Rata-rata skor pengetahuan kader meningkat dari 54,8 sebelum kegiatan menjadi 86,0 setelah kegiatan, atau meningkat sebesar 31,2 poin. Peningkatan tersebut terutama terlihat pada aspek keamanan dan pengolahan herbal serta kemampuan kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Peningkatan juga terjadi pada kelompok penderita diabetes melitus. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 53,6 menjadi 85,0, atau bertambah 31,4 poin. Peningkatan terbesar terlihat pada pemahaman mengenai pengolahan herbal dan keamanan penggunaannya.

Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan menghasilkan keterampilan praktis kader dalam mengolah pare dan kayu manis menjadi produk teh herbal. Produk tersebut dikemas menggunakan bahan food grade dengan memperhatikan kebersihan dan penakaran bahan.

Tim menegaskan bahwa pemanfaatan pare dan kayu manis dalam kegiatan ini bukan dimaksudkan sebagai pengganti pengobatan medis diabetes, tetapi sebagai bahan herbal lokal pendukung edukasi kesehatan dan pola hidup sehat. Hal ini penting agar masyarakat tidak menghentikan terapi medis yang sedang dijalani hanya karena menggunakan bahan herbal.

Kegiatan tersebut juga menempatkan kader sebagai bagian penting dalam keberlanjutan program. Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, kader diharapkan mampu menyampaikan kembali informasi kepada penderita DM dan masyarakat serta mengulangi praktik pengolahan herbal secara lebih higienis dan terarah.

Secara keseluruhan, program ini menghasilkan lima capaian utama, yaitu meningkatnya pengetahuan kader, meningkatnya pengetahuan penderita DM, meningkatnya keterampilan kader dalam pembuatan teh pare dan teh kayu manis, tersedianya SOP sederhana pengolahan herbal, serta dihasilkannya produk teh herbal berbahan pare dan kayu manis.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan melalui pendampingan kader yang lebih berkelanjutan dan diintegrasikan dengan kegiatan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM). Dengan demikian, potensi bahan lokal dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari edukasi kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat peran kader dalam mendukung upaya promotif dan preventif pengendalian diabetes melitus. (ak/*)

Tim pengabdian Universitas Mercubaktijaya memaparkan materi edukasi dan memperagakan pemilihan bahan herbal lokal yang berkualitas di hadapan para kader dan penderita diabetes.

Tim pengabdian Universitas Mercubaktijaya memaparkan materi edukasi dan memperagakan pemilihan bahan herbal lokal yang berkualitas di hadapan para kader dan penderita diabetes.

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0