GELOMBANG tsunami tidak pernah memberi aba-aba. Dalam hitungan menit, air laut bisa meluluhlantakkan kota, rumah, dan kehidupan manusia. Karena itu, upaya melatih kesigapan masyarakat seperti ‘Tsunami Drill 2025’ yang digelar kemarin layak diapresiasi setinggi-tingginya.
Kegiatan ini merupakan ‘latihan hidup’ secara harfiah, bagi masyarakat di daerah yang berada di garis rawan bencana potensi gempa dan tsunami akibat aktivitas megathrust Mentawai.
Di Kota Padang, lebih dari seratus ribu warga ikut ambil bagian dalam simulasi tersebut. Dari Bungus hingga Koto Tangah, masyarakat berbondong-bondong mengikuti arahan evakuasi, meniti jalur aman, menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Namun di balik kesuksesan kegiatan ini, ada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Latihan yang dilakukan tidak cukup jika kesadaran kolektif hanya muncul sesaat. Banyak warga masih belum memahami tanda-tanda alam, belum hafal jalur evakuasi, bahkan belum tahu di mana lokasi shelter terdekat. Pemerintah daerah bersama BPBD perlu menanamkan budaya siaga bencana secara rutin dan berkelanjutan di sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan RT.
Simulasi juga seharusnya melibatkan masyarakat secara lebih interaktif, bukan hanya instruktif. Dengan cara itu, masyarakat akan memiliki pengetahuan dan keterampilan nyata untuk bertindak cepat tanpa panik saat bencana datang.
Infrastruktur mitigasi juga harus terus diperkuat. Jalur evakuasi perlu ditata lebih jelas, rambu-rambu diperbanyak, dan sistem peringatan dini diperluas lagi jangkauannya hingga kawasan pesisir yang padat penduduk.
Kita patut memberi penghargaan kepada Pemko Padang, BPBD, BMKG, dan seluruh elemen yang terlibat dalam simulasi terbesar di Indonesia ini. Tapi apresiasi saja tidak cukup. Pemerintah, lembaga pendidikan, media massa, dan komunitas kebencanaan harus terus bersinergi membangun budaya sadar risiko. Sebab, mitigasi bukan sekadar soal seberapa tinggi shelter atau seberapa keras sirine berbunyi, tetapi seberapa siap mental dan perilaku warga ketika waktu genting itu tiba.
Padang sudah berulang kali diuji oleh gempa besar, dan sejarah itu tidak boleh terulang dengan kerugian yang sama. Latihan seperti ‘Tsunami Drill’ harus menjadi gerakan permanen, gerakan untuk menyelamatkan masa depan kota ini dari gelombang yang tak diundang, tapi niscaya datang suatu saat.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat edukasi kebencanaan sejak dini melalui kurikulum sekolah, memperluas sistem peringatan dini berbasis teknologi, dan memastikan setiap warga mengenal jalur evakuasi di lingkungan masing-masing.
Hanya dengan kesiapsiagaan yang nyata, Padang dan daerah pesisir lainnya di Sumbar bisa benar-benar menjadi kota tangguh bencana di garis merah megathrust dunia. *
