YOGYAKARTA, KP — Perayaan seni multimedia ‘Kirana Viramantra’ yang digelar Kementerian Kebudayaan di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Yogyakarta, menjadi sorotan nasional. Kegiatan ini dinilai relevan sebagai model kolaborasi budaya yang dapat diterapkan di berbagai daerah, termasuk Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan yang memadukan seni tradisi, teknologi digital, dan pelibatan komunitas kreatif tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan agenda kebudayaan di ranah lokal.
Event tersebut menghadirkan karya teater, musik, tari, hingga ‘video mapping’. Pementasan utama ‘Goro-Goro Diponegoro’ diangkat kembali dalam format drama musikal berbasis Macapat, menunjukkan cara kreatif menghidupkan nilai sejarah bagi generasi muda.
Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsu Rijal menyebut, Kirana Viramantra sebagai ruang refleksi dan inovasi.
“Tugas kita bukan membuat masa lalu menjadi museum yang membeku, tetapi memanfaatkan kebudayaan tanpa mencabut nilai luhur di dalamnya agar dapat menyapa generasi baru secara relevan,” ujarnya.
Pesan ini selaras dengan tantangan di Sumbar, yang memiliki kekayaan tradisi Minangkabau (seperti randai, silek, saluang, dan talempong), namun membutuhkan pendekatan kreatif agar lebih dekat dengan masyarakat urban.
Sementara, Kepala Museum Monjali, Yudi Pranowo, menekankan pentingnya kolaborasi, di mana museum harus menjadi ruang publik yang terbuka bagi seniman dan komunitas kreatif.
Pandangan ini relevan bagi Sumbar, di mana Museum Adityawarman maupun pusat kebudayaan lainnya berpotensi dikembangkan menjadi ruang kreatif yang hidup dan interaktif.
Perwakilan seniman, Fayafla, menegaskan bahwa dukungan pemerintah terhadap kegiatan kolaboratif mampu mendorong pelaku seni menafsir kembali situs-situs sejarah melalui medium yang lebih segar. Pendekatan ini dapat menginspirasi Sumbar dalam memanfaatkan situs sejarah seperti Istana Pagaruyung, Gunuang Padang, hingga benteng-benteng bersejarah sebagai lokasi perhelatan seni berbasis cahaya dan multimedia.
Kirana Viramantra tidak hanya menampilkan teater, tetapi juga instalasi cahaya, karya komunitas kreatif, serta lokakarya ‘video mapping’ yang melibatkan mahasiswa dan seniman muda. Pendekatan inklusif ini memberi gambaran bagaimana sebuah festival budaya dapat memperkuat ekosistem kreatif daerah sekaligus menanamkan kembali nilai kepahlawanan.
Melalui acara ini, Kementerian Kebudayaan memperlihatkan bahwa nilai sejarah dapat dihidupkan kembali melalui bahasa seni yang dekat dengan publik, menjadikannya inspirasi penting bagi strategi pemajuan budaya daerah di Sumbar. (fai)