RUANG hidup gajah di Riau kian menyempit. Perambahan sawit ilegal dan persoalan relokasi warga kini menjadi tantangan terakhir untuk menyelamatkan Gajah Sumatera dari ancaman punah di wilayah ini.
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), yang dahulu dikenal sebagai salah satu benteng terakhir hutan dataran rendah Sumatera, kini berada di titik kritis. Kawasan yang semestinya menjadi rumah aman bagi Gajah Sumatera justru berubah menjadi ruang konflik yang terus menekan keberlangsungan hidup satwa dilindungi tersebut.
Setiap hari, jalur jelajah gajah terputus oleh hamparan kebun sawit ilegal dan permukiman yang perlahan menginvasi kawasan konservasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, laju perambahan hutan di Tesso Nilo mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Lebih dari 80 persen tutupan hutan alaminya dilaporkan telah hilang dan sebagian besar beralih fungsi menjadi perkebunan sawit ilegal.
Akibatnya, kawasan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan berubah menjadi arena konflik antara manusia dan satwa liar. Kematian gajah akibat racun atau jerat, termasuk kasus yang menimpa gajah latih Rahman, menjadi peringatan keras bahwa populasi gajah di Tesso Nilo telah berada di ambang batas terakhir.
Inti persoalan di Tesso Nilo terletak pada terputusnya habitat. Koridor alami yang dibutuhkan gajah untuk mencari pakan, berkembang biak, dan menjaga keragaman genetik kini terfragmentasi menjadi petak-petak hutan kecil yang terisolasi. Kondisi ini membuat gajah kehilangan ruang gerak yang aman dan berkelanjutan.
Dua faktor utama yang mempercepat kerusakan koridor tersebut adalah ekspansi sawit ilegal berskala besar dan persoalan permukiman serta relokasi penduduk di dalam kawasan. Kombinasi keduanya menciptakan siklus berbahaya. Kehilangan habitat membuat gajah kekurangan makanan, mendorong satwa keluar kawasan hutan untuk mencari pakan.
Situasi ini meningkatkan risiko konflik dengan manusia, yang pada akhirnya berujung pada kematian gajah dan kerugian bagi warga. Krisis konservasi pun terus berulang tanpa penyelesaian mendasar.
Untuk mencegah kepunahan lokal Gajah Sumatera, diperlukan langkah mendesak yang tidak semata bertumpu pada penegakan hukum. Pendekatan yang dibutuhkan harus menyentuh aspek keadilan sosial dan ekologis secara bersamaan.
Upaya penyelamatan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan berlandaskan dua prinsip utama, yakni restorasi ekologis dan keadilan sosial.
Krisis di Tesso Nilo bukan hanya soal satwa atau penguasaan lahan. Kondisi ini mencerminkan kegagalan kolektif dalam mengelola ruang hidup secara berkelanjutan. Jika koridor ekologis Tesso Nilo tidak segera diselamatkan, jejak kaki Gajah Sumatera di wilayah ini berisiko benar-benar hilang.
Tujuan utama konservasi adalah mencapai kondisi tanpa konflik, ketika tidak ada lagi gajah yang mati akibat benturan dengan manusia dan masyarakat tidak kehilangan sumber penghidupan.
Target tersebut hanya dapat dicapai jika pemerintah, penegak hukum, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan masyarakat lokal bersatu dalam komitmen yang sama dan bertindak secara nyata.
Upaya ini merupakan kesempatan terakhir untuk memastikan Gajah Sumatera tidak sekadar bertahan, tetapi mampu kembali bergerak bebas di jalur-jalur alaminya.
Tesso Nilo tidak boleh berakhir sebagai monumen kepunahan. Tindakan yang diambil hari ini menjadi penentu, apakah kawasan ini akan tetap bernapas sebagai habitat hidup, atau menjadi saksi bisu hilangnya salah satu ikon satwa Sumatera. *
