Tiap Hari Minggu pagi pada awal bulan, diadakan kegiatan ‘Subuh Mubarakah’ di Masjid Raya Sumbar dengan jemaahnya mayoritas ASN Pemprov Sumbar.
Biasanya, pelaksanaan Subuh Mubarakah tersebut berlangsung tertib dan khidmat, diikuti penuh keseriusan oleh jemaah yang mayoritas kalangan dewasa. Sementara remaja dan anak-anak tak begitu mendominasi.
Khusus pelaksanaan Subuh Mubarakah Minggu kemarin (4/6), muncul celah-celah yang agak memprihatinkan. Misalnya, saat Sekda Hansastri mewakili gubernur memberikan sambutan, sejumlah jemaah tampak meninggalkan ruangan lantai dua Masjid Raya Sumbar, terutama lelaki. Entah kenapa mereka keluar, padahal acara belum selesai. Sementara, ‘suara bagalau’ terdengar dari area jemaah wanita. Suara tak diharapkan itu makin menggema dari luar lantai dua bagian timur.
Sungguh tidak begitu khidmat pelaksanaan Subuh Mubarakah tersebut. Masih untung, saat ustad berceramah, suasana kembali tenang dan khidmat.
Sangat disesalkan kurang khidmatnya suasana Subuh Mubarakah tersebut. Apakah ada hubungannya dengan ketidakhadiran Pak Gubernur Mahyeldi karena sedang tugas ke luar daerah? Yang jelas, banyaknya jemaah yang keluar saat Pak Sekda memberi kata sambutan sangat mengganggu suasana. Begitu juga suara ‘bagalau’ ibuk-ibuk di beranda lantai 2 masjid, juga terasa sangat mengganggu.
Kurang tertibnya pelaksanaan Subuh Mubarakah Minggu pagi kemarin jangan sampai berulang lagi pada waktu lainnya. Cukuplah peristiwa kemarin menjadi yang terakhir.
Terlepas dari persoalan itu, namun peran Pemprov Sumbar dalam memelihara kebersihan Masjid Raya Sumbar pantas diapresiasi. Sebab, sejak pemprov turun tangan, lingkungan masjid kebanggaan Sumbar ini jadi terlihat begitu ‘tacelak’. Kita berharap pada momen-momen tertentu, pemprov rutin mengadakan acara-acara khas Islami, termasuk mendatangkan ustad populer di Masjid Raya Sumbar ini. *
