TANAH DATAR, KP — Madrasah dan pesantren di kawasan barat Danau Singkarak ditantang melompati batas konvensional demi memikat minat murid baru pasca-terdampak bencana galodo. Sekolah swasta diminta tidak hanya bertahan, tetapi menciptakan nilai tambah unik agar tetap menjadi pilihan utama para orang tua.
Hal ini ditekankan Kepala Kantor Kemenag Tanah Datar, Hendri Pani Dias, saat membuka Lokakarya Tahun Pelajaran 2026/2027 bagi tiga lembaga madrasah swasta di MTsS Muhammadiyah Padang Laweh Malalo, Kamis (23/7). Tiga sekolah yang terlibat dalam ajang ini meliputi MTsS Muhammadiyah Padang Laweh Malalo, MAS PPTI Malalo, dan Yastu Malalo.
“Kalau madrasah atau pesantren kita mau diminati masyarakat, pastikan kita memiliki kelebihan yang menjadi alasan anak atau orang tua memilih tempat kita,” ujar Hendri Pani Dias.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Kemenag menawarkan terobosan kurikulum modern yang bisa diadopsi madrasah swasta, seperti program dua bahasa (bilingual), kelas kecerdasan buatan (AI), coding, hingga robotik. Para pengajar juga diminta memetakan potensi tiap siswa secara spesifik agar bisa diasah lewat berbagai kompetisi.
Selain mutu akademik, madrasah diajak mandiri secara finansial dengan mengoptimalkan potensi alam sekitar. Pemanfaatan air Danau Singkarak untuk budidaya perikanan, usaha perkebunan, hingga perdagangan mendorong lahirnya unit bisnis baru penggali dana operasional sekolah.
“Kita bisa memanfaatkan air danau, misal untuk perikanan, atau sektor lainnya seperti perkebunan, atau perdagangan. Intinya ada unit usaha yang bisa menambah uang masuk madrasah,” kata Hendri.
Lokakarya yang diikuti 40 guru dan tenaga kependidikan ini menghadirkan Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Hendri serta Pengawas Madrasah Zulhendri sebagainarasumber. Pelatihan ini memfokuskan guru pada penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan ‘deep learning’ agar suasana kelas terasa menyenangkan, berkesadaran penuh, dan relevan dengan kehidupan siswa. (yon)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!