Memahami alat kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar menghafal nama komponen dan fungsi masing-masing bagian. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana sebuah alat mengubah fenomena tubuh menjadi informasi yang dapat dibaca.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan spirometer portabel untuk pembelajaran mahasiswa D3 Radiologi.
Perangkat yang dikembangkan menggunakan sensor tekanan MPX5500DP, Arduino Uno, dan Nextion Display. Ketiganya ditempatkan dalam sebuah sistem portabel yang dirancang untuk memperlihatkan proses pengukuran fungsi pernapasan.
Pengembangan media pembelajaran berbasis perangkat medis menjadi penting karena mahasiswa radiologi nantinya berhadapan dengan berbagai teknologi kesehatan dalam lingkungan pelayanan kesehatan.
Melalui spirometer, mahasiswa dapat mempelajari sebuah alur pengukuran secara langsung.
Udara pernapasan menjadi input fisiologis. Sensor menangkap perubahan tekanan. Sinyal kemudian diakuisisi dan diproses oleh mikrokontroler. Setelah itu, sistem menghasilkan parameter pengukuran dan menyajikannya pada layar.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa instrumentasi medis merupakan bidang yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu.
Ada fisiologi yang menjelaskan sistem pernapasan, elektronika yang berkaitan dengan sensor dan sinyal, pemrograman yang mengatur proses pengolahan data, serta konsep pengukuran yang menentukan kualitas hasil.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development. Setelah prototipe dikembangkan, dilakukan pengujian teknis menggunakan syringe kalibrasi.
Salah satu hasil pengujian yang tercantum dalam penelitian menunjukkan penggunaan volume acuan 1 liter sebanyak lima kali. Hasil FVC yang tercatat adalah 0,98 L, 0,99 L, 1,01 L, 0,99 L, dan 1,00 L, dengan nilai rata-rata 0,994 L.
Dari pengujian tersebut tercantum rata-rata error sebesar 1 persen.
Hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai performa pengukuran pada kondisi pengujian tersebut. Namun, penelitian juga menegaskan pentingnya melengkapi dan memverifikasi data pengujian lainnya sebelum digunakan untuk menyimpulkan akurasi keseluruhan perangkat.
Yang tidak kalah penting, penelitian ini belum melakukan pengukuran peningkatan hasil belajar mahasiswa.
Artinya, perangkat telah dikembangkan sebagai media pembelajaran, tetapi klaim bahwa alat tersebut meningkatkan nilai atau prestasi mahasiswa masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Tahap berikutnya dapat dilakukan melalui pembelajaran praktikum dengan pre-test dan post-test, serta pengukuran usability dan pengalaman pengguna.
Dengan cara tersebut, inovasi alat tidak hanya berhenti pada keberhasilan membuat prototipe, tetapi dapat dilanjutkan menjadi penelitian pendidikan yang mengukur manfaatnya secara empiris. *