PADANG PARIAMAN, KP — Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis menyampaikan, dunia saat ini tengah memasuki era volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas) atau VUCA, yang ditandai dengan perubahan kehidupan modern super cepat.
Apabila institusi keluarga rapuh, maka anak-anak dipastikan bakal kehilangan tempat paling aman untuk bertumbuh dan berkembang secara sehat.
“Memperkuat keluarga bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan bangsa,” ujarnya.
Di tengah derasnya penetrasi teknologi digital saat ini, lanjutnya, anak-anak semakin mudah mengakses berbagai informasi tanpa batas. Tanpa adanya pendampingan intensif dari orang tua, kondisi tersebut dikhawatirkan berpotensi besar menggerus nilai-nilai moral dan masa depan generasi muda. Oleh karena itu, penguatan fungsi pengasuhan di tingkat domestik mendesak untuk ditingkatkan agar anak tidak kehilangan arah.
Bupati juga mengingatkan bahwa Indonesia sedang menikmati momentum bonus demografi yang menjadi jembatan emas menuju visi Indonesia Emas 2045. Peluang besar ini hanya dapat dikapitalisasi menjadi keuntungan strategis apabila kualitas generasi yang dilahirkan benar-benar cerdas dan kompetitif.
“Sebaliknya, bonus demografi tersebut justru berisiko berbalik menjadi beban struktural negara jika kualitas SDM gagal dipersiapkan secara matang sejak awal,” kata bupati.
Ia berharap para orang tua tidak membiarkan gawai dan layar digital mengambil alih peran serta fungsi utama pengasuhan di dalam rumah. Kehadiran ayah dan ibu, tegasnya, tidak boleh sebatas pemenuhan fisik semata, melainkan wajib diwujudkan melalui kedekatan emosional, komunikasi dua arah yang hangat, serta keterlibatan aktif dalam mendengarkan setiap cerita anak guna membentengi mereka dari berbagai ancaman sosial seperti perundungan, tawuran, hingga jeratan narkoba. (ak/*)