AGAM, KP — Kabar duka menyelimuti ranah Minangkabau seiring berpulangnya salah satu budayawan sekaligus tokoh adat terkemuka, Yus Datuak Parpatiah Guguak, Sabtu (28/3) sekitar pukul 16.30 WIB. Almarhum mengembuskan napas terakhir pada usia 83 tahun, di Rumah Tuo Suku Sikumbang, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Kepergian sosok yang dikenal sebagai maestro gurindam, pituah, dan petatah-petitih ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Minangkabau baik di ranah maupun di rantau. Semasa hidupnya, tokoh yang memiliki nama asli Yusbir ini dikenal sangat konsisten dalam menjaga serta melestarikan nilai-nilai adat dan kearifan lokal melalui berbagai karya rekaman kaset serta video yang menjangkau hingga mancanegara.
Aktivis budaya di Sungai Batang, Rudi Yudistira, mengonfirmasi kabar wafatnya sesepuh Minangkabau tersebut. Menurutnya, almarhum sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Bukittinggi saat bulan Ramadan lalu, namun telah diizinkan pulang menjelang Idul Fitri dan sempat menerima tamu saat Lebaran.
Almarhum Yus Datuak Parpatiah lahir di Maninjau, Kabupaten Agam, pada 7 April 1939. Selama berkarir sejak era 1980-an, pituah dan nasihat yang disampaikannya dikenal mampu menyentuh hati serta memperkuat jati diri generasi muda Minangkabau. Karya-karyanya tidak hanya menjadi pengingat nilai adat, tetapi juga menjadi pengobat rindu bagi para perantau terhadap kampung halaman.
Almarhum meninggalkan seorang istri, Ermaini, serta tiga orang anak yakni Elivia, Ervan, dan Ellen Yunita. Kepergian maestro ini merupakan kehilangan besar bagi dunia adat dan budaya Sumatera Barat yang selama ini menjadikan pesan-pesan almarhum sebagai fondasi karakter di tengah dinamika zaman.
Ribuan Pelayat Antar Kepergian Almarhum ke Peristirahatan Terakhir
Ribuan pelayat mengantarkan Sang Maestro Adat Alam Minangkabau, Yus Dt Parpatiah, ke tempat peristirahatan terakhir di pandam pekuburan keluarga di Ikua Koto, Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Minggu pagi (29/3). Suasana duka begitu terasa di wilayah Kabupaten Agam seiring dengan kondisi cuaca mendung sejak pagi hari yang seolah ikut mewakili kesedihan masyarakat melepas sosok yang dikenal sangat baik dan ramah tersebut.
Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di rumah duka untuk memberikan kesempatan bagi para pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang menjadi panduan bagi banyak kalangan dalam khazanah adat Minangkabau.
Prosesi pemakaman tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Bupati Agam Beni Warlis, Sekretaris Kabupaten Agam Dr M Lutfie AR, serta beberapa pejabat daerah lainnya. Kehadiran mereka berbaur dengan ribuan pelayat dari berbagai unsur, terutama anak kemenakan kaum suku Caniago yang datang dari berbagai daerah termasuk dari organisasi KBRC.
Sekab Agam Dr M Lutfie AR mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya sosok panutan yang selama hidupnya banyak memberikan pelajaran tentang falsafah hidup di alam Minangkabau. Menurutnya berbagai petuah adat almarhum yang sinkron dengan berbagai kebijakan pemerintah menjadi tatanan tersendiri dalam memperkuat kehidupan bermasyarakat.
Lutfie menyampaikan bahwa atas nama pribadi serta pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Kabupaten Agam sangat merasa kehilangan sosok almarhum. “Semoga beliau diberikan tempat terbaik oleh Allah di Syurga, dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini,” ujarnya saat berada di lokasi pemakaman. Hingga kini ungkapan duka cita terus mengalir baik secara langsung maupun melalui berbagai platform media sosial sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sang maestro adat. (ak/*)