AGAM, KP – Ayu Elsih (32 tahun) tidak pernah membayangkan kebebasannya sudah di depan mata. Perempuan asal Nagari Garagahan, Kabupaten Agam itu awalnya hanya bisa pasrah di sebuah kamp penipuan daring yang terisolasi di kawasan hutan Myawaddy, Myanmar. Di bawah pengawasan ketat milisi bersenjata, hidupnya berada dalam teror penyiksaan setiap hari.
Operasi pembebasan berlangsung tanpa peringatan apapun. Aparat keamanan dan militer Myanmar bergerak cepat menyusup ke dalam komplek kamp tersembunyi tersebut untuk membebaskan para korban.
Ayu Elsih bersama rekannya, Susi (34 tahun) asal Tanjung Pinang, berhasil diselamatkan dari lokasi penyekapan. Keduanya telah disekap selama kurang lebih satu bulan dan dipaksa bekerja dalam jaringan operasi penipuan (scam) daring internasional.
Operasi pembebasan itu merupakan bagian dari operasi militer besar-besaran yang digelar pemerintah Junta Myanmar, Sabtu lalu (25/7). Dalam operasi tersebut, pasukan Myanmar mengamankan 777 penipu online (scammer). Mereka terdiri dari 620 pria Tiongkok, 11 wanita Tiongkok, 3 wanita Thailand, 32 pria Myanmar, dan 111 wanita Myanmar.
Para prajurit juga menyita barang-barang yang digunakan dalam kejahatan siber tersebut, termasuk 85 komputer, 183 ponsel, dan satu perangkat internet satelit Starlink.
Sebelum dipulangkan ke Tanah Air, Ayu dan Susi terlebih dahulu menjalani perawatan medis oleh otoritas setempat. Penanganan ini dilakukan untuk memulihkan kondisi fisik mereka yang mengalami luka akibat tindakan penyiksaan selama berada dalam sekapan.
Setelah kondisi kesehatan mereka dinyatakan stabil, proses kepulangan langsung dirancang melalui jalur udara. Ayu dan Susi diterbangkan dari Myanmar dengan melintasi rute transit di Thailand dan Kuala Lumpur, Malaysia.
Perjalanan udara yang memakan waktu sekitar dua hari tersebut berlangsung cepat. Karena proses pemulangan yang efisien, keduanya tidak sempat dibawa ke Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Myanmar.
Rombongan akhirnya mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, pada Rabu pagi (29/7). Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau, Kombes Pol Imam Riyadi, memimpin langsung proses penjemputan kedua korban di bandara.
Operasi pembebasan dan pemulangan ini merupakan hasil koordinasi erat lintas instansi. Pemerintah Kabupaten Agam bergerak sejak informasi penyekapan Ayu ramai beredar di media sosial. Koordinasi dilakukan secara intensif melibatkan TNI, Polri, BP2MI, Imigrasi, serta Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Sumbar. Di tingkat pusat, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI di Myanmar dan Thailand terus berdiplomasi dengan otoritas setempat.
Saat ini Ayu dan Susi berada di shelter aman milik BP3MI Kepulauan Riau di Batam. Keduanya juga telah resmi membuat laporan kepolisian di Polda Kepri untuk mengusut jaringan perdagangan orang yang memberangkatkan mereka.
Di sisi lain, Permkab Agam terus berkoordinasi dengan pihak keluarga mengenai penjemputan Ayu di Batam. Otoritas setempat masih menunggu kepastian dari keluarga karena Ayu diketahui juga memiliki kerabat yang tinggal di Yogyakarta.
Kepala Badan Kesbangpol Agam, Bambang Warsito menyatakan, koordinasi lintas sektor terus berjalan agar proses kepulangan Ayu ke kampung halaman dapat segera terealisasi. Pemerintah berkomitmen memastikan keamanan dan pemulihan korban hingga kembali ke lingkungan keluarga.
“Kami masih menunggu kepastian dari pihak keluarga mengenai siapa yang akan berangkat menjemput Ayu di Batam. Sehingga proses pemulangan ke Kabupaten Agam dapat segera terlaksana,” jelasnya, Kamis (30/7).
Kisah kelam ini bermula dari tawaran pekerjaan sebagai juru masak restoran di Thailand. Ayu, seorang anak yatim piatu asal Nagari Garagahan , tergiur mengubah nasib dan memutuskan berangkat. Ia bertemu dengan Susi di Sulawesi, lalu melanjutkan perjalanan ke Batam. Keduanya kemudian diselundupkan secara ilegal melalui Malaysia hingga akhirnya terdampar di kamp penipuan daring Myawaddy, Myanmar.
Di lokasi tersebut, keduanya mengalami tindak kekerasan yang memprihatinkan. Dalam rekaman video yang sempat beredar, tangan mereka terikat kabel plastik, tubuh mereka mengalami luka fisik, dan gigi korban dicopot secara paksa oleh pengelola kamp.
Kasus ini menjadi perhatian nasional setelah video penyelewengan tersebut viral pertengahan Juli 2026. Kementerian Luar Negeri merespons dengan mengirimkan nota diplomatik resmi kepada pemerintah Myanmar untuk melacak keberadaan para korban, hingga akhirnya operasi militer berhasil mnembebaskan kedua perempuan malang itu. (ak/*)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!