Buwas Geram Ada Isu Beras Plastik

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso

PADANG, KP – Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso geram terhadap oknum yang dinilainya menyebarkan informasi tidak benar atau hoaks terkait beras plastik. Dia mengaku telah meminta Satgas Pangan atau kepolisian segera menangkap pelaku penyebar hoaks itu.

“Kami juga bekerjasama dengan Satgas Pangan dari Kepolisian untuk meminta pengawasan dan penindakan terhadap pihak-pihak yang terbukti menyebarkan berita bohong (hoaks) mengenai beras sintetis ini agar pelaku segera ditangkap sehingga tidak membuat gaduh di situasi saat ini,” kata Buwas dalam keterangannya, dikutip Jumat (13/10).

“Jangan hanya minta maaf. Minta maaf selesai, tidak, harus ada tindak lanjut secara hukum, jangan hal ini dibiarkan,” imbuhnya.

Buwas mengatakan, isu beras sintetis ini dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak senang di tengah upaya serius pemerintah melakukan stabilisasi pasokan dan harga beras dengan menggencarkan program bantuan pangan beras. Untuk itu Buwas meminta masyarakat lebih cermat dan jangan mudah terprovokasi dengan hoaks ini.

Menurutnya tidak masuk akal ada beras plastik. Sebab, harga plastik lebih mahal dari beras.

“Beras sama plastik itu (lebih) mahal plastik. Jadi nggak masuk akal. Kalau plastik dibikin beras, itu nilainya tinggi. Mahal. Sangat tidak mungkin,” ungkapnya.

Buwas juga memastikan tidak ada yang namanya temuan beras plastik. Berdasarkan pengalamannya, dugaan beras plastik hanya sebuah kesalahpahaman. Buwas lantas menceritakan pengalamannya saat menjadi Kebareskrim Polri, di mana dulu sempat ada isu beras plastik padahal itu bukan plastik.

“Waktu saya jadi Kabareskrim, ada (kabar) beras plastik. Ternyata itu bukan beras plastik. Hasil pemeriksaan kita, itu beras yang dibuat dari singkong. Diproses dulu menjadi seperti mie, baru diproses jadi beras. Makanya mengkilap. Tapi bukan dari beras asli,” ucapnya.

Dia memastikan, beras impor dari negara asal yang masuk ke gudang Bulog sudah melalui beberapa kali proses pemeriksaan. Sebelum dimuat ke kapal di negara asal, beras impor terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan oleh surveyor independent kemudian setelah sampai di Indonesia dilakukan pemeriksaan lagi oleh Badan Karantina Indonesia.

“Jadi yang ada di gudang-gudang Bulog sudah sangat dipastikan aman semuanya,” katanya.

Sementara, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Indonesia M. Adnan menegaskan, semua barang yang masuk ke Indonesia diperlakukan sesuai prosedur, yaitu pemeriksaan administrasi, kesehatan, dan keamanan pangan termasuk impor beras yang dilaksanakan oleh Bulog.

“Semua kapal impor yang tiba termasuk impor beras ini harus diperiksa dulu oleh Badan Karantina Indonesia, setelah dinyatakan aman baru bisa dibongkar,” jelasnya.

“Ternyata itu bukan beras plastik, hasil pemeriksaan kita, penyidikan kita, itu beras yang dibuat dari singkong. Diproses dulu menajdi seperti mie, baru diproses jadi beras. Makanya mengkilap. Tapi bukan dari beras asli,” tegas Buwas.

Terpisah, Wakil Ketua Halal Center Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono meragukan isu soal beredarnya beras plastik atau beras sintetis. Menurutnya, polimer plastik saat dipanaskan atau dikukus hanya akan berubah jadi plastik panas. Bahkan, jika terlalu panas ia malah akan mengkerut atau mengkeret, bukan malah mengembang.

“Begitu pula kalau memang ada beras plastik. Saat dipanaskan ia hanya akan berubah menjadi beras plastik panas, bukan berubah menjadi nasi,” ujarnya.

Nanung menjelaskan industri nasi palsu, telur palsu, ikan (tempura) palsu, kobis palsu, sayur palsu sesungguhnya memang ada di Jepang dan di China. Namun, produk-produk tersebut sebatas sebagai bahan display menu masakan di depan restoran siap saji dan bukan untuk dikonsumsi. Dengan klarifikasi ini ia berharap masyarakat tidak resah dan menambah literasi di masyarakat. (kdc)

Related posts

Banjir dan Longsor Terjang Pasaman: Satu Orang Tewas, Ratusan KK Terisolasi

Pohon Durian Tumbang Timpa Rumah di Lubuk Kilangan 

Harga Cabai di Padang Anjlok ke Rp18 Ribu, Pasokan Melimpah Tekan Harga Pasar