BATAM, KP – Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono meminta maaf atas pernyataannya terkait memiting terhadap peserta unjuk rasa yang dia sampaikan saat memberi arahan kepada prajurit TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta.
Yudo menjelaskan, diksi ‘piting’ itu hanya sebuah perumpamaan agar para prajurit tidak menggunakan senjata untuk meredam massa yang ricuh.
“Saya mohon maaf. Sekali lagi, saya mohon maaf atas pernyataan kemarin, yang mungkin masyarakat menilai salah (soal) dipiting. Itu saya nggak tahu, karena bahasa saya itu orang ndeso (kampung), yang biasa mungkin dulu waktu kecil kan sering piting-pitingan dengan teman saya. Saya pikir, dipiting lebih aman, karena memang kami tidak punya alat,” kata Yudo kepada wartawan usai membuka latihan bersama ASEAN Solidarity Exercise 01 Natuna 2023 (ASEX-01 N) di Dermaga Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (19/19).
Dia menjelaskan, kata itu keluar saat dia menjawab pertanyaan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Mochamad Hasan yang meminta bantuan alat penanggulangan huru-hara (PHH). Saat itu, Yudo menjelaskan bahwa dia memberikan perumpamaan tentang penanganan aksi massa yang tidak perlu selalu menggunakan senjata.
Dalam kesempatan yang sama, Yudo juga menegaskan bahwa TNI tidak mengerahkan pasukan untuk kegiatan-kegiatan pengamanan aksi unjuk rasa, termasuk seperti yang terjadi di Rempang. Yudo menjelaskan, prajurit dikerahkan jika TNI menerima permintaan bantuan pasukan pengamanan dari kepolisian.
“Tidak ada saya mengerahkan pasukan, karena tidak ada permintaan untuk pengerahan pasukan sebanyak itu, karena (itu) perumpamaan saja. Tetapi, kalau pengertian masyarakat lain-lain, pada kesempatan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” kata Yudo.
Dia menyebut, sejauh ini pasukan yang diminta untuk membantu pengamanan di Rempang ialah anggota kodim dan korem.
“Tidak ada perintah pengerahan pasukan. Bahkan, awal sebelum terjadinya itu, saya sudah kirim Danpuspom TNI untuk memastikan jangan sampai TNI terlibat. Baru kemarin dia pulang. Kami kerahkan Puspom TNI untuk mengawasi itu sehingga kami berharap tidak ada pasukan TNI yang arogan,” ujar Yudo Margono.
Permintaan maaf Panglima TNI itu menyusul viralnya video berisi pernyataan Panglima TNI Laksamana Yudo Margono di media sosial X/Twitter. Dalam potongan video, Yudo mengucapkan ‘dari masyarakatnya itu satu orang miting satu itu kan, umpamanya masyarakat seribu, ya kita keluarkan seribu, satu miting satu kan selesai,” kata Yudo.
Secara umum, Yudo awalnya dalam video itu menyampaikan poin-poin soal netralitas TNI kepada jajarannya. Dalam satu momen, dibuka sesi tanya jawab. Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan Mayjen Mochammad Hasan sempat menyampaikan kebutuhan pihaknya soal peralatan untuk menangani huru-hara. Hasan juga menyinggung soal peristiwa demonstrasi di depan Kantor BP Batam beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bersama Kepolisian dan BIN, aparat berusaha menjaga situasi kondusif
“Kami menangani di sana bersama Kepolisian, BIN, itu kami lebih mengutamakan agar situasi tetap kondusif, dan kami mohon bantuan PHH (Penanggulangan Huru Hara) diberikan kepada kami,” kata Hasan.
Yudo merespons pernyataan Hasan. Ia mengatakan untuk penanganan demo, prajurit diperintahkan untuk menahan diri. Namun, lanjtunya, yang terjadi saat itu di Batam adalah aksi anarkis yang mengarah kepada pidana lantaran massa melempar batu kepada aparat.
Yudo pun mengatakan bakal melengkapi perlengkapan PHH untuk Kodam Bukit Barisan.
“Kalau emang seperti itu nanti kita berikan, saya tidak memberikan itu karena saya khawatir mindset berubah kembali lagi seperti orde baru. Kita justru di depan membawa tameng dan pentungan, itu kan sebenarnya tugas kepolisian, ketika kepolisian enggak mampu, baru TNI yang maju. Saya melihat kemarin itu mampu, tapi kok digebuki,” katanya.
Setelahnya, tayangan video terputus-putus sehingga tidak jelas apa yang dikatakan Yudo. Video kembali berjalan dan Yudo menyinggung soal memiting itu.
“(Video terputus-putus)…lebih dari masyarakatnya itu satu orang miting satu itu kan, TNI-nya, umpamanya masyarakat seribu, ya kita keluarkan seribu, satu miting satu kan selesai, enggak usah pakai alat, dipiting aja satu-satu,” kata Yudo. (cnn)
