MASYARAKAT Pasia Laweh, Agam, sepertinya punya urat nyali yang sudah putus. Beberapa hari lalu viral video warga setempat menyapa seekor harimau di kebun pisang seolah sedang menyapa tetangga yang lewat. Pakai bahasa Minang halus pula.
Bukannya lari kencang, warga kita ini malah mengajak ‘Inyiak’ berdialog sambil merekam pakai HP. Ditanya apa kabarnya dan kenapa menampakkan diri. Mungkin dipikirnya harimau itu lagi mau cari teman curhat karena bosan di dalam hutan.
Tapi urusan jadi makin serius saat tim Patroli Anak Nagari (Pagari) turun ke lapangan hari Sabtu (28/2). Niatnya mau pasang kamera jebak biar tahu si belang ini jantan atau betina, eh, malah didatangi langsung. Bayangkan, jaraknya cuma lima meter. Jarak segitu kalau harimau mau melompat, jangankan sempat lari, mau teriak minta tolong pun mungkin suaranya sudah tertinggal di tenggorokan.
Beruntung, si raja hutan itu masih punya harga diri dan memilih menghindar daripada harus melayani adu pandang dengan tim patroli.
Fenomena ‘mengajak bicara’ harimau ini memang sudah jadi tradisi turun-temurun di Ranah Minang. Kita menyebutnya Inyiak, sosok yang dihormati dan dianggap penjaga nagari. Tapi tolong diingat, rasa hormat itu harus dibarengi dengan akal sehat.
Bagaimanapun, harimau itu predator puncak dengan berat ratusan kilogram, bukan kucing oren di pasar yang bisa kita panggil-panggil pakai suara lucu. Lima meter itu jarak maut, bukan jarak buat foto bareng.
Catatan penting buat kita semua, kemunculan harimau di kebun warga ini sebenarnya sebuah sinyal. Apakah rumahnya di hutan sudah tidak nyaman lagi? Atau makanannya yang sudah habis?
BKSDA Sumbar sekarang sudah tambah enam kamera lagi buat memantau pergerakan si belang. Tugas kita sekarang adalah patuh aturan, jangan dulu pergi ke ladang sendirian, apalagi saat hari masih pagi sekali atau menjelang magrib.
Kita tentu tidak ingin hubungan ‘diplomatik’ antara manusia dan Inyiak ini berakhir dengan korban jiwa di salah satu pihak. Jangan terlalu berani hanya karena merasa sudah akrab lewat video viral. Alam punya batasnya sendiri, dan harimau tetaplah binatang liar yang butuh ruang.
Kalau Inyiak menampakkan diri lagi, lebih baik pelan-pelan menjauh dan lapor ke petugas. Biarkan para ahli yang menanganinya lewat kamera jebak. Kita cukup menonton aksinya lewat layar HP saja, tidak perlu sampai harus tatap muka jarak dekat seolah-olah mau minta tanda tangan. Keselamatan itu nomor satu, karena nyawa kita cuma satu. *
