JAKARTA, KP – Rumah Sakit Indonesia di Gaza kewalahan dengan banyaknya korban serangan Israel ke wilayah tersebut, terutama dengan dua serangan besar-besaran di kamp pengungsi Jabalia yang terjadi dalam waktu 24 jam. Rumah sakit tersebut merupakan satu-satunya rumah sakit operasional yang tersisa di bagian utara Gaza.
Banyaknya jumlah korban luka memaksa rumah sakit bekerja 50 kali lipat melebihi kapasitasnya karena kekurangan pasokan medis dan bahan bakar.
Kementerian Kesehatan setempat menyatakan, rumah sakit terpaksa mengambil keputusan serius dengan mematikan generator utama karena kekurangan bahan bakar yang ekstrim dan hanya mengandalkan generator kecil di bawahnya hanya untuk menjaga ICU tetap berjalan. Kondisi tersebut membawa bayang-bayang menakutkan bahwa rumah sakit hanya akan menjadi kamar mayat yang besar.
Saat ini pasukan Israel terus merangsek masuk ge Gaza dari empat arah berbeda. Pertempuran sengit terjadi antara tentara Israel dan kelompok Palestina di wilayah tersebut. Banyak orang terbunuh, banyak rumah hancur. Warga yang tidak dapat melarikan diri terjebak di zona perang ini. Pasalnya, jalan menuju bagian selatan Gaza telah ditutup, tidak ada jalan bagi orang untuk keluar. Siapapun yang berada di Gaza utara akan tetap berada di sana.
PROSES EVAKUASI WNI DARI GAZA MASIH TERHAMBAT
Sementara itu, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Judha Nugraha menyebut, proses evakuasi tujuh warga Indonesia dari Gaza, Palestina masih terkendala situasi keamanan.
“Pintu perbatasan Rafah sudah dibuka secara terbatas. Namun saat ini lokasi tempat tinggal para WNI masih terjadi pertempuran, sehingga evakuasi yang aman belum bisa dilakukan,” kata Judha, Kamis (2/11).
Meski demikian, ia memastikan bahwa dua keluarga WNI yang masing-masing tinggal di Gaza utara dan Gaza selatan dalam kondisi selamat di tengah pertempuran yang terus berkecamuk antara Israel dan kelompok Hamas Palestina.
“Komunikasi dengan para WNI terus dilakukan, kondisi mereka selamat di lokasi masing-masing,” kata Judha.
Menurutnya, tim evakuasi dari KBRI Kairo telah bersiaga di Perbatasan Rafah antara Mesir dan Gaza, sejak Rabu sore (1/11).
Tercatat ada 10 WNI berada di Gaza, yang tiga di antaranya merupakan relawan MER-C di Rumah Sakit Indonesia, yaitu Fikri Rofiul Haq, Reza Aldilla Kurniawan, dan Farid Zanzabil Al Ayubi. Ketiganya menolak dievakuasi dan memilih untuk melanjutkan kerja kemanusiaan mereka di Gaza. Sedangkan tujuh WNI yang akan dievakuasi terdiri dari dua keluarga WNI, yaitu keluarga Abdillah Onim dan keluarga Muhammad Hussein beserta anak-anak mereka.
Indonesia Kirim Bantuan
Pemerintah Indonesia menjadwalkan mengirim bantuan berupa alat-alat kesehatan, sanitasi, makanan, kantong tidur, dan perlengkapan musim dingin seberat 30 ton yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertahanan, PMI, Baznas, dan Forum Zakat untuk warga Palestina di Gaza.
Bantuan kemanusiaan itu diangkut dua pesawat C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara, yang juga membawa total 42 kru pesawat dan dua perwira menengah TNI dari Kementerian Pertahanan yang bertugas sebagai penghubung (liaison officer).
“Pengiriman akan dilaksanakan Sabtu (4/11) melalui Lanud Halim Perdanakusuma,” kata Kepala Biro Humas Sekretariat Jenderal Kemhan RI, Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha di Jakarta, Kamis (2/11).
Menurutnya, pengiriman bantuan masih berproses terutama terkait izin-izin yang diurus oleh Kementerian Luar Negeri RI.
Mabes Polri juga menyiapkan satu pesawat charter Boing 737 Garuda Indonesia untuk ikut mengangkut bantuan dari Indonesia ke Gaza. Dengan demikian, total ada tiga pesawat yang mengangkut paket bantuan dari Indonesia ke Gaza via Mesir.
Tiga unit pesawat itu rencananya berangkat dari Base Ops Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma di Jakarta pada Sabtu (4/11) pukul 08.30 WIB. Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan melepas rombongan yang mengangkut bantuan kemanusiaan itu. Rombongan pesawat dari RI itu dijadwalkan tiba di Mesir pada Senin (6/11).
Rute penerbangan dalam misi kemanusiaan ini yakni Halim (Jakarta)-Aceh-Yangon (Myanmar)-New Delhi (India)-Abu Dhabi (Uni Emirat Arab)-Jeddah (Arab Saudi)-El Arish (Mesir). Bantuan itu nantinya diserahterimakan ke Bulan Sabit Merah Mesir, kemudian disalurkan ke Gaza oleh UNRWA. Sebab, hanya Bulan Sabit Merah Mesir yang diberi wewenang untuk membawa masuk bantuan ke Gaza. Saat ini Kemlu RI masih menunggu persetujuan dari PBB mengenai barang-barang bantuan yang dapat masuk ke Gaza. (ilc)