Runtuhnya Tembok Angkuh ‘Les Bleus’

by Redaksi
A+A-
Reset

TEXAS, KP – Ada yang namanya takdir, dan ada yang namanya mimpi buruk berulang. Bagi tim nasional Prancis, Spanyol telah menjelma menjadi kedua hal menakutkan tersebut secara bersamaan di atas panggung tertinggi sepak bola.

Ambisi besar ‘Les Bleus’ untuk mencatatkan sejarah emas menembus partai final Piala Dunia sebanyak tiga kali secara beruntun hancur lebur di bawah terik atmosfer AT&T Stadium, Arlington, Texas. Melalui performa yang teramat klinis, ‘La Roja’ sukses membungkam sang rival dengan skor meyakinkan 2-0, pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung Rabu dinihari WIB (15/7).

Kemenangan ini tidak hanya mengantarkan armada Luis de la Fuente ke partai puncak untuk pertama kalinya sejak edisi 2010 silam. Lebih dari itu, hasil krusial tersebut menegaskan dominasi absolut Spanyol yang kini resmi menyingkirkan Prancis di babak semifinal tiga turnamen besar secara berturut-turut.

Rantai penderitaan Prancis bermula sejak Euro 2024, berlanjut ke UEFA Nations League 2025, hingga puncaknya terjadi di tanah Amerika Utara. Kegagalan ini sekaligus memutus mimpi Deschamps untuk menyamai rekor legendaris milik Jerman Barat periode 1982-1990 dan Brasil era 1994-2002 yang lolos ke final tiga kali beruntun.

Pertandingan baru berjalan 22 menit ketika petaka pertama menghampiri lini pertahanan Prancis melalui sebuah keputusan wasit Ivan Barton yang menunjuk titik putih. Bek kiri Lucas Digne yang berniat menyapu bola liar di area terlarang justru melakukan kontak fisik dan menjatuhkan Lamine Yamal di dalam kotak penalti.

Mikel Oyarzabal yang maju sebagai eksekutor tanpa celah menaklukkan Mike Maignan untuk membawa Spanyol memimpin 1-0 melalui gol kelimanya di turnamen ini.

Penderitaan Prancis kian sempurna memasuki menit ke-30 setelah bek tengah andalan mereka, William Saliba, terpaksa ditarik keluar akibat menderita cedera punggung. Kehilangan Saliba memaksa Deschamps memasukkan Maxence Lacroix lebih awal guna menambal kerapatan benteng pertahanan skuadnya. Sang pelatih juga terpaksa merombak lini tengah di awal babak kedua dengan memasukkan Manu Kone untuk menggantikan Adrien Rabiot yang sudah terkena kartu kuning sejak menit kedelapan.

Paruh pertama pertandingan berakhir dengan statistik yang teramat miris bagi Prancis, di mana mereka sama sekali gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran.

Memasuki babak kedua, Spanyol justru semakin mendominasi jalannya permainan dengan mempertontonkan kombinasi operan yang sangat rapi antarlini. Pada menit ke-58, kerja sama apik antara Dani Olmo dan Pedro Porro berhasil menggandakan keunggulan bagi skuad La Roja. Porro yang beroperasi sebagai bek kanan melakukan akselerasi cepat ke depan sebelum melepaskan tembakan mendatar akurat yang kembali bersarang ke pojok gawang Maignan.

Skor berubah menjadi 2-0, membuat gemuruh ribuan pendukung Spanyol seketika membakar atmosfer seisi stadion di Texas.

Enam menit berselang, Lamine Yamal nyaris memperlebar keunggulan menjadi tiga gol setelah menerima umpan terobosan matang dan berhasil mengecoh kawalan ketat Digne. Namun, selebrasi gol remaja ajaib tersebut harus kandas setelah hakim garis mengangkat bendera pertanda dirinya sudah berdiri dalam posisi offside.

Prancis sempat memperoleh peluang emas pada menit ke-83 memanfaatkan blunder Unai Simon yang keluar terlalu jauh dari sarangnya untuk menyapu bola. Bola liar jatuh di kaki Desire Doue, namun Simon dengan sigap berhasil pulih untuk menggagalkan upaya tembakan cungkil dari pemain pengganti tersebut.

Salah satu sorotan utama dari kegagalan total Prancis di laga ini adalah sang kapten sekaligus mesin gol utama mereka, Kylian Mbappe yang ‘mati kutu’. Datang dengan status mentereng sebagai top skor sementara turnamen lewat koleksi delapan gol, penyerang Real Madrid itu dibuat tidak berdaya oleh pertahanan baja Spanyol.

Sepanjang 90 menit laga berjalan, Mbappe hanya mampu melepaskan tiga tembakan di mana dua di antaranya melenceng dan satu diblok. Frustrasi sang megabintang memuncak ketika dirinya dihadiahi kartu kuning akibat menendang Unai Simon yang sedang berusaha mengamankan bola di udara.

Kemenangan impresif ini sekaligus mengantarkan Spanyol mengukir sejumlah rekor fantastis, termasuk catatan 37 pertandingan tidak terkalahkan dalam waktu normal di bawah asuhan De la Fuente.

Tambahan dua gol ini juga menjadikan Spanyol sebagai tim paling produktif lewat koleksi 13 gol sepanjang keikutsertaan mereka di satu edisi Piala Dunia.

La Roja juga sukses menyamai rekor enam kemenangan beruntun milik generasi juara 2010 dengan status sebagai pemilik lini pertahanan terbaik karena baru kebobolan satu gol.

Usai laga, Didier Deschamps dengan jantan mengakui bahwa anak asuhnya kalah di semua sektor dari Spanyol, baik secara taktik maupun ketahanan fisik.

Gelandang Prancis Rayan Cherki bahkan dengan blak-blakan menyebut timnya kalah karena bermain tanpa kepercayaan diri menghadapi dominasi lawan.

Sebaliknya, Pedro Porro yang dinobatkan sebagai pemain terbaik laga menyebut pencapaian ini sebagai mimpi yang menjadi nyata bagi seluruh skuad. Keberhasilan ini membuat De la Fuente dengan penuh percaya diri berani mendeklarasikan bahwa Spanyol saat ini merupakan tim nasional terbaik di dunia. Spanyol kini tinggal duduk manis menantikan calon lawan mereka di partai final antara Inggris atau Argentina yang baru saja bertanding pada Kamis dini hari WIB (16/7) tadi. (ak)

Leave a Comment