Home » Makan Tabungan dan Ngutang Demi Bertahan Hidup

Makan Tabungan dan Ngutang Demi Bertahan Hidup

CURHAT WARGA DI TENGAH SULITNYA EKONOMI

Redaksi
A+A-
Reset

JAKARTA, KP – Kenaikan harga bahan makanan pokok dan komoditas lainnya menjelang akhir tahun membuat sebagian masyarakat harus mengencangkan ikat pinggangnya. Meminjam uang menjadi salah satu opsi bertahan hidup ketika keuangan sudah cekak di akhir bulan.

Zulkifli, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu lembaga negara mengakui harus memutar otak untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari. Bapak satu orang anak ini tersenyum kecut ketika mengingat meme ‘agar silaturahmi tidak terputus, pinjam dulu seratus’. Pasalnya, tanpa sadar dia menjadi salah satu orang yang melakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Pasti ada aja pinjem, tapi enggak besar. Ada aja gitu minjem, misalnya Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu, nanti kalau ada rezeki diganti,” kata dia, dikutip dari laman CNBC, Senin (4/11).

Dia mengakui bahwa melakukan pinjaman itu karena terpaksa. Pasalnya, penghasilan dia dan istrinya sudah habis setengahnya untuk cicilan rumah KPR. Setengah penghasilan yang tersisa, kata dia, habis untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Dia mengakui menjadi salah satu keluarga yang kelimpungan ketika harga beras melonjak naik akibat musim kering panjang.

“Iya tuh, agak chaos juga, sempat naik sebelum musim hujan, biasanya setiap beli harganya Rp 70 ribu, waktu itu hampir Rp 90 ribu, alhamdulillah sekarang sudah turun,” kata dia.

Ketika anggaran keluarga sudah sangat terbatas, Zulkifli mengakui hal yang bikin makin pusing adalah kebutuhan dadakan, misalnya ketika anak sakit. Ketika kebutuhan dadakan itu muncullah, Zulkifli mengaku harus meminjam duit ke kerabatnya.

“Sekali beli obat bisa habis Rp 200 ribu,” ungkapnya.

Meski demikian, Zulkifli masih merasa beruntung karena semua pengeluarannya itu tidak sampai membuatnya menghabiskan tabungan. Dia mengatakan menggunakan tabungan berencana sehingga tak bisa diambil seenaknya. Dengan kondisi barang-barang yang semakin mahal, Zulkifli mengatakan berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan uang ketika bekerja. Bujet untuk wisata dan nongkrong di kedai kopi, kata dia, sama sekali dihilangkan.

“Ya udah lah, jalanin aja,” ucapnya.

Makin berkurangnya daya beli masyarakat yang dirasakan oleh Zulkifli tergambar dalam Mandiri Spending Index per awal November tahun ini. Sebesar 60 persen lebih pengeluaran masyarakat menengah ke bawah dihabiskan untuk consumer goods, seperti makanan, sabun, dan shampoo.

Data Mandiri Spending Index per awal November juga menunjukkan belanja kelompok lower sedikit melambat di November, sementara middle dan higher masih menguat. Kelompok lower (bawah) adalah konsumen dengan rata-rata tabungan di bawah Rp 1 juta, menengah (middle) antara Rp1 – Rp10 Juta, sementara kelompok higher (atas) adalah mereka dengan tabungan di atas Rp10 juta.

Data tersebut juga mencatat, Indeks tabungan kelas bawah anjlok ke 47,4 persen pada November dari sekitar 100 pada April 2023. Indeks tabungan melemah sejalan dengan naiknya indeks belanja. Indeks belanja melonjak ke 269,2 pada awal November. Indeks jauh lebih tinggi dibandingkan per awal tahun ini yang hanya di kisaran 200. Sepanjang periode 2022, indeks bahkan berada di bawah 150.

Makin mahalnya biaya hidup di RI juga dirasakan seorang freelancer bernama Firdaus (30 tahun). Dia merasakan harga-harga melambung tinggi, sementara pendapatannya sebagai freelancer tak menentu.

“Struggle sebenarnya sekarang,” tuturnya.

Untuk mengakali beratnya biaya hidup itu, Firdaus yang bekerja di bidang design grafis itu mengatakan hanya mengeluarkan duit untuk kebutuhan-kebutuhan kerja saja, seperti pulsa dan kuota internet. Dia terpaksa puasa merokok karena harganya yang makin naik. Sementara untuk kebutuhan makan, dia mengatakan memilih untuk makan di rumah supaya uangnya tidak habis.

“Rokok paling berasa, naiknya mahal banget. Gorengan juga jadi mahal sekarang Rp5.000 dapat 3, biasanya 4,” sebutnya.

Meski dengan gaya hidup hemat itu, Firdaus mengatakan masih dibuat pusing apabila ada kebutuhan yang tidak bisa diperkirakan. Misalnya saja ketika hape-nya tiba-tiba rusak bulan lalu. Di satu sisi dia tak mau tabungannya terpakai untuk membeli ponsel. Namun di sisi lain sangat berat membeli ponsel dengan pendapatan bulanannya. Opsi yang dia tempuh akhirnya adalah meminjam duit ke kerabat.

HARGA KOMODITAS MELAMBUNG

Kenaikan harga cabai menjadi biang keladi inflasi di sebagian besar daerah. Di Jakarta misalnya, harga cabai kini mencapai Rp 120 ribu per kilogram (kg).

Berdasarkan data panel harga pangan Badan Pangan Nasional atau Bapanas per Senin (4/12), kenaikan terjadi pada hampir seluruh komoditas pangan secaa nasional. Rata-rata harga cabai merah kriting naik Rp1.620 menjadi Rp 69.990 per kg, cabai rawit merah naik menjadi Rp 84.440 per kg, bawang merah naik menjadi Rp29.970 per kg,bawang putih bonggol naik menjadi Rp 35.860, dan minyak goreng kemasan naik menjadi Rp17.400 per liter.

Lalu, harga daging ayam ras naik menjadi Rp34.370 per kg, gula konsumsi naik menjadi Rp17.210 per kg, terigu naik menjadi Rp13.610 per kg, ikan tongkol naik menjadi Rp33.550 per kg, dan ikan bandeng naik menjadi Rp 33.850 per kg. Di sisi lain, minyak goreng curah turun menjadi Rp14.640 per kg.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada November 2023 sebesar 0,38 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan laju inflasi November 2023 dibandingkan periode yang sama tahun 2022 berada pada 2,86 persen, meningkat dibanding posisi Oktober 2023 sebesar 2,56 persen (yoy).

Inflasi antara lain disumbang kenaikan harga cabai yang memberikan andil 0,16 persen, komoditas cabe rawit andil inflasi 0,08 persen, bawang merah 0,03 persen, beras 0,02 persen, serta gula pasir dan telur ayam ras masing-masing 0,01 persen. (cnbc/kdc)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?