Home » Ibu dengan Gangguan Kesehatan Mental dapat Merenggut Nyawa

Ibu dengan Gangguan Kesehatan Mental dapat Merenggut Nyawa

Oleh: Riskha Hanifa Nasution

Redaksi
A+A-
Reset

IBU memiliki peran yang sangat fundamental dalam sebuah keluarga terutama dalam menentukan generasi penerus di masa depan. Kesehatan fisik dan khususnya kesehatan emosional seorang ibu perlu diperhatikan karena ibu yang sehat akan berdampak kepada perkembangan anak.

Data yang ada di indonesia khususnya ibu ditemukan lebih dari 50% ibu mengalami tekanan psikososial yang signifikan secara klinis, termasuk depresi (48%), kecemasan (67%), dan masalah hubungan (19%).

Pada beberapa tahun ini terdapat kasus ibu yang mengalami depresi hingga stress yang menyebabkan terjadinya perlakuan kekerasan pada anak. Dimana ibu melampiaskan kemarahan, kekesalan dan beban pikirannya terhadap anak.

Berbagai kasus kekerasan terhadap anak yang dilatarbelakangi gangguan pada kesehatan emosional ibu kerap terjadi. Salah satu contoh kasus yang dimuat oleh media Kompas pada tanggal 9 Maret 2024, ditemukan tewas seorang anak berinisial AAMS (5) karena dibunuh ibunya Siti Nurul Fazila (26), di Perumahan Burgundy Residence, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Berdasarkan penuturan psikolog, meyebutkan bahwa sang ibu membunuh anaknya mengalami skizofrenia atau dalam bahasa latinnya Dementia Praecox. Skizofrenia merupakan penyakit gangguan mental berat yang memengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi.

Penderita skizofrenia bisa mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala perilaku yang di alami penderita Skizofrenia ditandai dengan gejala positif (perilaku yang muncul, tetapi seharusnya tidak ada) dan gejala negatif (perilaku yang tidak muncul, tetapi seharusnya ada).

Penelitian Junida (2015) menunjukkan bahwa kesehatan psikologis ayah jauh lebih baik dibandingkan kesehatan psikologis ibu. Ibu yang rentan terhadap gangguan psikologis akan mengalami Stres yang mempengaruhi tanggung jawab orang tua dalam mengasuh anaknya karena akan menghambat pekerjaan yang dilakukan sehari-hari dan dapat menimbulkan permasalahan pada tumbuh kembang anak.

Robbins & Coulter (2007) memaparkan gejala awal stres bisa menyebabkan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan detak jantung, menaikan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan memicu serangan jantung. Sehingga mempengaruhi perubahan dalam kebiasaan dan produktivitas.

Dengan memperhatikan kesehatan mental ibu maka akan mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang mana kesehatan ibu menjadi arah kebijakan dan strategi prioritas dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Seperti penelitian Jex, Bliese, Buzzell, dan Primeau (2001) yang sejalan dengan teori sosio-kognitif dari Bandura, seseorang yang memiliki coping aktif yang tinggi akan dapat mengelola kesehatan mentalnya sendiri. Maka kemampuan untuk mengelola kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting dalam mengatasi keadaan stres atau depresi yang dialami seseorang.

Dengan adanya coping aktif akan mendukung integritas ego untuk menjadi problem solving (pemecahan masalah). Seseorang akan menerima ujian atau cobaan yang sedang dihadapi dengan lapang dada. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

(Disusun dari berbagai Sumber)

 

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?