Program Dunsanak Mercubaktijaya Dorong Kemandirian Anak Tunagrahita Lewat Kreasi Manik-Manik

by Redaksi
A+A-
Reset
Tim pengabdian Universitas Mercubaktijaya Padang foto bersama guru dan siswa SLB Bundo Kanduang Padang usai pembukaan Program Dunsanak Meronce.

PADANG, KP – Keterampilan hidup menjadi salah satu bekal penting bagi anak tunagrahita agar dapat tumbuh lebih mandiri dan berpartisipasi di tengah masyarakat.

Hal inilah yang mendorong Universitas Mercubaktijaya Padang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat mengembangkan Program Dunsanak (Dunia Usaha Anak) Meronce di SLB Bundo Kanduang Padang.

Program yang dilaksanakan pada Senin, 18-30 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 15 siswa tunagrahita dan dua orang guru SLB Bundo Kanduang Padang.

Kegiatan difokuskan pada pelatihan dan pendampingan keterampilan meronce manik-manik menjadi berbagai produk aksesoris.

Program Dunsanak hadir dari kondisi bahwa kegiatan keterampilan meronce di SLB Bundo Kanduang sebelumnya masih menghadapi sejumlah keterbatasan.

Kegiatan meronce baru dilakukan sekitar satu kali dalam seminggu dan produk yang dihasilkan masih sederhana, terutama gelang dan kalung yang umumnya digunakan oleh siswa sendiri.

Keterbatasan alat, variasi bahan, serta belum adanya pendampingan tenaga ahli membuat hasil karya siswa belum optimal untuk dipasarkan.

Melalui program ini, tim pengabdian memberikan in house training kepada guru dan siswa.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan manik-manik, tujuan dan teknik meronce, pengenalan alat dan bahan, langkah-langkah meronce, hingga pengembangan kreasi aksesoris.

Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan simulasi dan praktik secara langsung.

Tidak berhenti pada keterampilan membuat produk, Program Dunsanak juga memperkenalkan konsep sederhana kewirausahaan.

Siswa diarahkan untuk menghasilkan produk yang lebih bervariasi dan sesuai dengan minat pasar, seperti gelang nama, kalung nama, gantungan telepon genggam, gantungan tas, dan berbagai aksesoris lainnya.

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual hasil karya siswa.

Ketua tim pengabdian, Aida Minropa, SKM., M.Kes, bersama tim melihat bahwa aktivitas meronce memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan kerajinan.

Proses memasukkan manik-manik ke dalam benang melatih koordinasi mata dan tangan, ketelitian, konsentrasi, serta keterampilan motorik halus siswa.

“Melalui kegiatan yang sederhana dan dilakukan secara bertahap, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk menghasilkan sebuah karya. Ketika mereka berhasil menyelesaikan produk, muncul rasa bangga dan percaya diri bahwa mereka juga mampu menghasilkan sesuatu,” kata Aida Minropa menuturkan tentang semangat yang menjadi dasar pelaksanaan program.

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung.

Siswa terlibat dalam memilih warna dan bentuk manik-manik, menyusun pola, hingga menyelesaikan produk sesuai kemampuan masing-masing.

“Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu mengikuti proses meronce dan menghasilkan berbagai aksesoris sederhana,” ujarnya.

Bagi tim pengabdian, aspek penting lainnya adalah keberlanjutan.

Guru tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dipersiapkan untuk melanjutkan kegiatan keterampilan tersebut setelah program selesai.

Tim juga menyusun handbook meronce manik-manik sebagai panduan agar kegiatan dapat terus dikembangkan di lingkungan sekolah.

Dari sisi ekonomi, produk hasil karya siswa memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi unit usaha sederhana berbasis sekolah.

Tim memperkenalkan penggunaan identitas produk, kemasan, serta strategi promosi melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok.

Dengan demikian, karya siswa tidak hanya berhenti sebagai hasil pembelajaran, tetapi memiliki peluang untuk dikenal dan dipasarkan kepada masyarakat.

Aida menyebut, Program Dunsanak merupakan bentuk pemberdayaan yang mengintegrasikan life skill, kreativitas, keterampilan motorik, kepercayaan diri, dan kewirausahaan.

Tim berharap kegiatan meronce dapat dilaksanakan secara rutin dan berkembang menjadi salah satu program unggulan SLB Bundo Kanduang.

Ke depan, pengembangan Program Dunsanak diharapkan tidak hanya berfokus pada keterampilan meronce, tetapi juga dapat diperluas pada pengemasan produk, pemasaran digital, dan pengembangan kewirausahaan.

Dengan dukungan sekolah, guru, orang tua, pemerintah, dan berbagai pihak terkait, karya anak tunagrahita diharapkan dapat menjadi bagian dari proses menuju kehidupan yang lebih mandiri dan produktif. (ak)

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0