PADANG, KP — Presiden Prabowo Subianto resmi memberikan lampu hijau bagi rencana pembangunan jalan tol Lembah Anai di Sumatera Barat. Proyek strategis ini disetujui sebagai solusi permanen untuk memperkuat konektivitas wilayah sekaligus memitigasi risiko gangguan transportasi di jalur utama Padang–Bukittinggi yang kerap lumpuh akibat bencana alam.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa rencana ini telah dipaparkan langsung kepada Presiden dan mendapatkan respons positif. Pembangunan jalan bebas hambatan ini dinilai mendesak mengingat kondisi geografis Lembah Anai yang sangat rentan terhadap longsor dan banjir bandang, seperti yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu.
“Jalan tol Lembah Anai termasuk salah satu yang sudah sempat saya sampaikan ke Presiden Prabowo dan sudah beliau oke,” ujar Dody Hanggodo dalam keterangannya dikutip Minggu (18/1).
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Roy Rizali Anwar, menjelaskan bahwa meskipun telah mendapat persetujuan Presiden, proyek ini masih berada pada tahap awal desain. Sejumlah prosedur ketat harus dilalui sebelum memasuki fase konstruksi, mulai dari pra-studi kelayakan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), hingga perencanaan dinding penahan tanah (DPT) yang komprehensif mengingat ekstremnya medan di kawasan tersebut.
“Saat ini masih dalam tahapan desain dan persiapan studi kelayakan serta Amdal untuk menuju proses pembangunan konstruksi. Pembiayaan proyek ini nantinya bisa bersumber dari APBN, pinjaman, maupun skema pembiayaan alternatif lainnya dengan membuka peluang bagi keterlibatan investor swasta,” jelas Roy.
Terkait pendanaan, Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Wida Nurfaida, menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan penjajakan awal dengan lembaga keuangan internasional. Proyek Tol Lembah Anai ini telah dipaparkan kepada Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) sebagai salah satu sumber pendanaan potensial untuk mempercepat realisasi fisik di lapangan.
Hadirnya tol ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi tulang punggung baru bagi kelancaran distribusi logistik dan pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan. Dengan infrastruktur yang lebih tangguh, risiko keterisolasian wilayah tengah Sumatera Barat akibat bencana hidrometeorologi di masa depan dapat ditekan seminimal mungkin. (mas)
