“Bu, kalau tulang saya difoto, nanti kulitnya ke mana?”
Pertanyaan polos dari seorang siswi kelas 2 itu langsung bikin satu kelas pecah tawa. Suasana Senin pagi (15/6/2026), di SDN 30 Kubu Dalam mendadak hangat dan riuh.
Hari itu, sekolah di kawasan Padang Selatan ini jadi salah satu dari 10 SD yang disambangi Kelas Inspirasi Padang ke-10.
Sejak pukul 07.30 WIB, halaman sekolah sudah dipenuhi 302 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Mereka berbaris rapi, pakai seragam lengkap dengan topi, mengikuti upacara pembukaan.
Kepala SDN 30 Kubu Dalam Mustakim, S.Pd.I., M.Pd , tampak sumringah menyambut puluhan relawan yang datang membawa cerita tentang dunia kerja.

Sebanyak 302 siswa SDN 30 Kubu Dalam kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti upacara pembukaan Kelas Inspirasi Padang ke-10.
“Kelas Inspirasi ini penting sekali. Anak-anak jadi tahu kalau cita-cita itu banyak. Gak cuma yang mereka lihat di TV,” kata Pak Mustakim usai upacara.
Tahun ini, panitia memang mendatangkan puluhan relawan dari beragam latar belakang. Ada banyak profesi yang dikenalkan hari itu. Salah satunya 7 profesi ini: dokter, pilot, ahli sistem informasi, dosen, guru, pelindung hewan, sampai penyiar radio.
Saya sendiri kebagian tugas mengenalkan profesi radiografer. Bukan ke satu kelas besar, tapi mengajar bergantian dalam 3 sesi.
Sesi pertama di kelas 1, sesi kedua di kelas 2, dan sesi ketiga di kelas 3.
Total 154 siswa yang ikut “kenalan” dengan pekerjaan yang sering disebut “tukang foto” tulang di rumah sakit.
Sesi pertama saya masuk ke kelas 1. Wajah-wajah kecil itu menatap bingung saat saya bilang kerja di rumah sakit tapi bukan dokter.
“Bu Fauzyah itu tukang foto tulang,” kata saya sambil nunjukin gambar alat rontgen yang besarnya kayak robot.
Mereka melongo, lalu ada yang nyeletuk, “Tulangnya kelihatan Bu?”
Sesi kedua di kelas 2 lebih heboh. Pertanyaan “kulitnya ke mana?” muncul di sini.
Saya jawab pakai bahasa anak-anak. “Kalau difoto rontgen, yang tebal kayak tulang jadi putih di gambar. Yang tipis kayak kulit jadi tembus, makanya gak kelihatan. Kayak bayangan kalau kena lampu.”
Mereka langsung pegang-pegang tulang pipi sendiri.
Sesi ketiga di kelas 3 paling rame. Karena sudah lebih besar, pertanyaannya kritis. “Bu, kalau patah tulang gimana fotonya?”
Nah, di sini ‘games’ saya keluarin. Karena alat rontgen gak mungkin dibawa ke sekolah, saya cuma bawa gambar.
Tapi biar gak bosen, setiap sesi saya selingi pertanyaan pancingan dan games.
“Siapa di sini yang pernah jatuh dari sepeda?”
Hampir semua angkat tangan.
“Nah, kalau tangannya sakit dan bengkak, dokter perlu foto biar tahu tulangnya geser apa enggak. Yang motoin namanya radiografer.”
Games andalan saya “Tebak Gambar Tulang”. Saya tunjukin foto rontgen kartun: ada gambar tulang tangan, kaki, sampai tengkorak yang dibuat lucu. Yang bisa jawab dapat stiker bintang. Rebutan mereka luar biasa.
Ada juga games “Gaya Pesawat Rontgen”. Saya minta mereka berdiri, kaki dibuka, tangan direntangkan kayak huruf X.
“Ini posenya kalau mau foto dada,” kata saya. Satu kelas ngakak sambil ikutan gaya.

Penulis mengenalkan profesi radiografer lewat gambar dan games interaktif.
Satu jam di tiap kelas berasa cuma 10 menit. Gak ada anak yang melamun. Semua sibuk tanya, jawab, dan ketawa.
Seorang siswa kelas 1 bahkan berbisik ke temannya, “Besok aku mau jadi tukang foto tulang aja.”
Usai 3 sesi kelas, kegiatan belum selesai. Panitia sudah menyiapkan satu sudut di lorong sekolah. Kertas manila putih besar ditempel di dinding, diberi judul “Dinding Inspirasi”.
Satu per satu, 154 siswa dari kelas 1, 2, dan 3 yang tadi ikut sesi saya berjalan tertib ke sana. Di tangan mereka sudah ada kertas post-it warna-warni dan spidol.

Usai mengikuti 3 sesi kelas, 154 siswa kelas 1, 2, dan 3 SDN 30 Kubu Dalam berjalan menuju Dinding Inspirasi untuk menuliskan cita-citanya.
“Silakan tulis cita-cita kalian di sini ya. Apa aja boleh,” kata saya.
Langsung saja, dinding putih itu diserbu. Ada yang nulis “dokter” pakai huruf besar-besar. Ada yang nulis “pilot” sambil digambar pesawat. Ada yang nulis “guru seperti Ibu Desi”. Yang bikin saya terharu, banyak sekali yang menulis “radiografer” atau “tukang foto tulang”.
Dalam 15 menit, Dinding Inspirasi penuh. Warna-warni kertas itu jadi bukti, 154 anak baru saja kenal dunia yang lebih luas.
Sebelum pulang, kami berfoto bersama di depannya. Mereka pegang kertas cita-citanya tinggi-tinggi, senyumnya lebar.

Momen bahagia penulis bersama 154 siswa kelas 1, 2, dan 3 SDN 30 Kubu Dalam di depan Dinding Inspirasi yang sudah penuh tulisan cita-cita.
“Kami bangga sekali jadi 1 dari 10 sekolah lokasi Kelas Inspirasi Padang ke-10,” ujar Pak Mustakim.
“Tadi 302 siswa ikut upacara. Lalu anak-anak kelas 1, 2, 3 yang 154 orang itu dikenalkan banyak profesi oleh relawan dalam beberapa sesi. Pulangnya mereka bawa mimpi baru. Itu yang paling mahal,” imbuhnya.
Bagi saya, Kelas Inspirasi bukan soal mengajar. Tapi soal menyalakan. Menyalakan rasa ingin tahu anak tentang dunia kerja yang gak pernah mereka bayangkan.
Tugas radiografer itu sederhana: bantu dokter lihat tulang yang sakit. Tapi butuh hati yang sabar, tangan yang telaten, dan senyum buat pasien yang takut.
Siapa tahu, 20 tahun lagi, salah satu anak yang hari ini nulis “radiografer” di Dinding Inspirasi itu sudah pakai baju dinas biru. Dia berdiri di ruang rontgen RSI Siti Rahmah Padang, lalu bilang ke pasien kecilnya dengan lembut: “Ayo dek, senyum ya. Kita foto tulangnya biar cepat sembuh…”
Kelas Inspirasi Padang ke-10 membuktikan, cita-cita besar selalu dimulai dari perkenalan kecil di ruang kelas. Dan tawa hari ini, bisa jadi semangat seumur hidup. *