Anak Sudah Makan, tetapi Sudahkah Tumbuh Optimal?

Oleh: Prof. Dr. Helmizar, SKM, M.Biomed dan Nadya Sabrina, S.Gz

by Redaksi
A+A-
Reset

DALAM penelitian pada 2023 terhadap 202 anak di enam puskesmas di Kota Padang, sekitar dua dari tiga anak mengalami defisit berat asupan zat besi. Separuhnya belum mencukupi kebutuhan karbohidrat.

Pada saat yang sama, dua dari tiga anak justru memiliki asupan protein dalam kategori lebih. Gambaran ini mengingatkan kita pada satu hal: anak yang sudah makan belum tentu tumbuh optimal.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi masih sering terlupakan, baik di meja makan keluarga maupun di ruang pelayanan kesehatan.

Penampilan Fisik Menyesatkan

Anak yang gemuk sering dianggap sehat, sedangkan anak bertubuh kecil langsung dicurigai kurang gizi. Padahal status gizi tidak bisa dinilai dari penampilan.

Berat badan, panjang atau tinggi badan, dan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu memberi gambaran yang jauh lebih bermakna.

Hubungan antara makanan dan pertumbuhan pun tidak lurus. Asupan energi dan zat gizi yang kurang dapat menghambat pertambahan berat badan, dan jika berlangsung lama serta disertai faktor lain, dapat berkontribusi pada gangguan pertumbuhan.

Namun, anak yang makan dalam jumlah cukup belum tentu tumbuh baik. Kualitas dan keragaman pangan, frekuensi makan, infeksi, pola asuh, dan lingkungan tempat tinggal ikut menentukan seberapa baik tubuh memanfaatkan zat gizi.

Temuan dari Padang

Penelitian kepada anak di bawah 2 tahun menunjukkan masalah kecukupan gizi yang nyata. Sekitar 32 persen anak mengalami kekurangan asupan energi, 34 persen kekurangan asupan lemak, dan 50 persen kekurangan asupan karbohidrat.

Di sisi lain, sekitar 67 persen anak memiliki asupan protein dalam kategori lebih.

Gambaran zat gizi mikro tidak kalah mengkhawatirkan kekurangan asupan ditemukan pada sekitar 76 persen anak untuk zat besi, 42 persen untuk zink, dan 51 persen untuk kalsium. Hanya sekitar 7 persen anak yang asupan zat besinya tergolong normal.

Sebaliknya, sekitar sepertiga anak memiliki asupan zink dan kalsium dalam kategori lebih, sehingga sebaran asupan di antara anak timpang: sebagian kekurangan, sebagian lain berlebih.

Zat besi, zink, dan kalsium berperan dalam pembentukan darah, daya tahan tubuh, dan pertumbuhan tulang.

Temuan ini menggambarkan asupan makanan, bukan diagnosis kekurangan zat gizi, yang memerlukan pemeriksaan tersendiri.

Temuan ini juga tidak mewakili seluruh anak di Padang, tetapi cukup menunjukkan pola yang perlu diwaspadai.

Satu hal jelas: kelebihan protein tidak menutupi kekurangan zat gizi lain, karena setiap zat gizi punya fungsi yang berbeda. Piring yang tampak penuh belum tentu seimbang.

Posyandu: Dari Pencatatan ke Tindakan

Posyandu adalah kesempatan emas untuk mengenali masalah sejak dini. Namun menimbang dan mengukur anak tidak boleh berhenti pada angka di buku KIA atau sistem pelaporan.

Hasil pengukuran perlu dibandingkan dengan standar pertumbuhan, lalu ditelaah bersama riwayat pertumbuhan, pola makan, dan kondisi kesehatan anak.

Jika berat badan tidak bertambah sebagaimana mestinya, petugas perlu menelusuri penyebabnya, bukan langsung menyimpulkan bahwa anak kurang makan.

Apakah porsinya belum cukup? Apakah anak sulit makan? Apakah menunya kurang beragam? Apakah anak sedang sakit? Atau keluarga menghadapi kendala ekonomi dan akses pangan?

Setiap penyebab membutuhkan penanganan berbeda. Anjuran menambah porsi tidak akan menyelesaikan masalah jika akar persoalannya adalah penyakit, praktik pemberian makan yang kurang tepat, atau keterbatasan keluarga memperoleh pangan bergizi.

Empat Langkah yang Perlu Ditempuh

Pertama, jadikan pertumbuhan anak sebagai ukuran keberhasilan upaya gizi, di samping capaian layanan seperti jumlah kunjungan, jumlah anak yang ditimbang, dan kelengkapan laporan.

Upaya yang hanya menghitung makanan yang disalurkan tanpa memantau dampaknya pada pertumbuhan baru menjawab separuh pertanyaan.

Kedua, pastikan setiap hasil pengukuran di posyandu dan puskesmas diikuti tindak lanjut: konseling pemberian makan, penelusuran penyebab gangguan pertumbuhan, dan rujukan bila diperlukan.

Ini menuntut kader dan tenaga kesehatan yang terlatih mengukur secara akurat dan membaca hasilnya dengan benar.

Ketiga, perhatikan mutu pangan, bukan hanya jumlahnya. Tingginya defisit zat besi menunjukkan perlunya pangan sumber zat gizi mikro yang lebih beragam dalam menu keluarga, disertai edukasi pemberian makan sesuai usia.

Keempat, rancang intervensi berdasarkan penyebab dan manfaatkan data konsumsi pangan tingkat daerah.

Anak yang terkendala infeksi, praktik pemberian makan, atau akses pangan memerlukan pendekatan berbeda, sehingga kesehatan, pangan, dan pengasuhan perlu digarap bersama lintas sektor.

Pada akhirnya, tujuan pelayanan gizi bukan sekadar memastikan anak sudah makan. Tujuannya memastikan makanan, kesehatan, dan pengasuhan bersama-sama menopang anak untuk tumbuh sesuai potensinya. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0