PADANG, KP – Sumatera Barat kini dalam alarm bahaya. Tak lagi sekadar menjadi daerah perlintasan peredaran gelap narkotika, tetapi diduga kuat telah menjadi lokasi produksi. Mengantisipasi ancaman yang kian mengkhawatirkan tersebut, Gubernur Sumbar Mahyeldi mendadak mengumpulkan seluruh jajaran Forkopimda, BNNP, Polda, BINDA, hingga Kejati Sumbar.
Rapat darurat dalam bentuk ‘Focus Group Discussion’ (FGD) tersebut digelar di Istana Gubernur, Selasa (4/8). Agenda utama FGD itu menyoroti benteng pertahanan sosial daerah yang kian terancam oleh maraknya peredaran barang haram, termasuk juga perilaku LGBT, serta berbagai penyakit masyarakat lainnya.
“Selama ini kita mengira Sumatera Barat hanya menjadi daerah perlintasan. Namun dari informasi yang kami terima dari BNNP, ada indikasi narkoba juga diproduksi di daerah ini. Artinya persoalannya jauh lebih serius dan harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Mahyeldi.
Ia menegaskan, perang melawan narkoba dan pekat tidak bisa lagi hanya membebankan pundak aparat penegak hukum. Pemprov Sumbar bersama Forkopimda menyepakati langkah terpadu berbasis komunal, mulai dari pengawasan ketat di lingkungan sekolah, penguatan peran pemerintahan nagari, hingga pelibatan aktif institusi keluarga.
Langkah konkrit penanganan juga akan diperkuat melalui integrasi data ‘screening’ siswa di sekolah-sekolah serta pendekatan pendampingan intensif terkait ancaman penyimpangan sosial LGBT. Gubernur meminta seluruh jajaran APH dan intelijen memperketat pengawasan lintas sektor demi menutup rapat celah peredaran maupun produksi narkotika di Ranah Minang. (fai)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!