PADANG, KP – Pakar ekonomi sumber daya manusia dari Universitas Andalas (Unand), Delfia Tanjung Sari, menilai minimnya kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pihak swasta menjadi salah satu kendala utama bagi perkembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sumbar.
“Yang terjadi saat ini, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan swasta masih berjalan sendiri-sendiri dalam mendukung pengembangan UMKM,” ujar Delfia dalam kegiatan ‘The Gade Sociopreneurship Challenge’, sebuah program kolaborasi antara Unand dan PT Pegadaian, di Padang, Kamis (3/10).
Delfia menekankan pentingnya kolaborasi antar berbagai pihak serta penyusunan peta jalan yang komprehensif untuk pengembangan UMKM. Menurutnya, masih ditemukan pelaku usaha yang mendapatkan pendampingan dari tiga instansi berbeda secara bersamaan, sehingga tidak semua pelaku usaha mendapatkan perlakuan yang sama. Hal ini, menurut Delfia, berujung pada banyak UMKM yang akhirnya gulung tikar.
Selain itu, Delfia juga menyoroti kurangnya regenerasi dan dorongan dari lingkungan untuk mencetak wirausaha muda. Ia menilai, pendidikan kewirausahaan di kalangan generasi muda masih minim dibandingkan dengan materi lain, padahal semangat wirausaha sudah menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau sejak dulu.
Sementara, Pimpinan Wilayah Kanwil II Pekanbaru PT Pegadaian, Dede Kurniawan menjelaskan, Kementerian BUMN melalui Pegadaian memiliki program ‘The Gade Sociopreneurship Challenge’ yang bertujuan menciptakan wirausaha muda. Program ini menyasar mahasiswa, termasuk dari Unand, untuk menyusun proposal usaha yang menarik dan mendapatkan pendampingan khusus jika terpilih.
Mahasiswa yang memiliki minat mengembangkan usaha namun terkendala biaya juga bisa mendapatkan bantuan kredit usaha rakyat syariah dari PT Pegadaian dengan bunga ringan, yakni sekitar empat persen dalam jangka waktu setahun. Program ini diharapkan dapat mendukung penciptaan generasi wirausaha muda yang dapat memperkuat sektor UMKM di Sumatera Barat. (ant)