PAYAKUMBUH, KP – Pemko Payakumbuh berencana menjalin kembali kerjasama sister city dengan Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, China. Kerjasama ini pernah dirintis tahun 2009 silam, didasari oleh sejarah meninggalnya Yu Dafu, sastrawan sekaligus pahlawan nasional Tiongkok, yang tewas di Payakumbuh pada masa pendudukan Jepang.
“Kerjasama sister city antara Payakumbuh dan Nantong dimulai Juni 2009 namun terputus karena berbagai dinamika. Sekarang, kami berencana menyambung kembali kerjasama tersebut. Kami meminta masukan dari seluruh pemangku kepentingan dan tokoh Payakumbuh,” kata Pj. Wali Kota Payakumbuh Suprayitno dalam Focus Group Discussion (FGD) di pendopo rumah jabatan Wali Kota, baru-baru ini.
FGD yang semula direncanakan untuk membahas pendirian museum dan penelusuran sejarah tokoh nasional Payakumbuh itu kemudian lebih fokus pada sosok Yu Dafu dan kerjasama yang pernah terjalin antara Payakumbuh dan Nantong, tanah kelahiran Yu Dafu.
Dalam diskusi itu hadir mantan Wali Kota Payakumbuh Josrizal Zain Dt. Kakondo, mantan Wakil Wali Kota Syamsul Bahri Dt. Bandaro Putiah, mantan Sekko Payakumbuh Irwandi Dt Batujuah, serta M. Fajar Rillah Vesky, penulis sejarah Yu Dafu di Payakumbuh.
Mantan Wali Kota Josrizal Zain mendukung rencana Pemko Payakumbuh untuk menjalin kembali kerjasama dengan Nantong, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan pariwisata. Ia juga mengingatkan bahwa kerjasama ini pernah diapresiasi oleh mantan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu.
Sementara, penulis sejarah Yu Dafu, M. Fajar Rillah Vesky yang baru saja dilantik sebagai anggota DPRD Limapuluh Kota, menyambut baik perhatian Pemko Payakumbuh terhadap sejarah dan kebudayaan serta upaya menyambung kembali kerjasama dengan Nantong. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat asimilasi yang telah lama berlangsung di Payakumbuh, sebagaimana tercermin dalam sejarah Yu Dafu.
Ia menuturkan, Yu Dafu diculik dan dibunuh kempetai Jepang setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, kemudian mayatnya diduga dibuang di sekitaran Batang Agam dan tak ditemukan hingga sekarang.
Ia berharap kerjasama ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Payakumbuh dan Nantong, sekaligus memperkuat identitas dan kebudayaan Payakumbuh sebagai kota yang heterogen dan bersejarah.
Turut hadir pada acara itu sejumlah tokoh masyarakat dan mantan pejabat yang ikut bertolak ke China pada tahun 2009 silam atau sewaktu dijalin kerjasama Payakumbuh-Nantong. Di antara mereka adalah mantan Kadisdik Edvianus, Elfi Joni, Armi, serta pengurus Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dan Himpunan Tjinta Teman (HTT) Payakumbuh. Selain itu juga hadir sejumlah budayawan, sastrawan, sejarawan, dan wartawan. Seperti Iyut Fitra, Yulfian Azrial, Yudilfan Habib, Asnam Rasyid, Yusfa Henda Bahar, Ade Hendra, dan Jeffry Ricardo Magno.
Diskusi yang dipandu Asisten I Setdako Payakumbuh Dafrul Pasi itu juga dihadiri pengurus LKAAM dan Bundo Kanduang se-Payakumbuh, serta pengurus KAN dan Bundo Kanduang dari 10 nagari di Payakumbuh. Para pemangku adat itu hadir bersama Tim Ahli Cagar Budaya Payakumbuh yang terdiri dari Yonni Saputra, Hadiati, Rella Elci Mardiah, dan Muhamad Irsyad Ash-Shidiqie. (dst)