PADANG, KP — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran, Sabtu (28/2). Eskalasi ini memicu kekhawatiran besar di pasar keuangan global seiring laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi yang dijuluki ‘Epic Fury’ tersebut.
Media resmi pemerintah Iran membenarkan bahwa Khamenei tewas bersama anggota keluarga, termasuk putri, cucu, dan menantunya, serta empat pejabat tinggi dan jenderal Iran. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengumumkan dimulainya operasi ofensif besar dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai, situasi ini akan menjadi sentimen positif yang kuat bagi harga emas dunia karena investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven). Ia memprediksi akan terjadi lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
“Serangan yang masif ini mengindikasikan ketegangan akan meningkat. Jika emas dunia naik dan rupiah melemah tajam, harga logam mulia domestik bisa kembali ke kisaran Rp3,3 juta hingga Rp3,4 juta per gram,” ujar Ibrahim, Minggu (1/3).
Selain lonjakan harga emas, pelemahan rupiah akibat konflik ini berpotensi menekan harga barang impor dan bahan baku industri. Jika konflik meluas, dampak rambatannya dikhawatirkan akan memicu inflasi dan mengganggu daya beli masyarakat di tingkat rumah tangga.
“Masyarakat diimbau untuk tetap rasional dan berhati-hati dalam melakukan investasi di tengah volatilitas harga yang tinggi. Jangan hanya ikut sentimen sesaat, tetapi perhatikan risiko,” tegas Ibrahim.
Pemerintah dan otoritas moneter kini diharapkan mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi nasional agar dampak dari gejolak eksternal ini dapat ditekan seminimal mungkin. (ilc)
