PADANG, KP – Yayasan Pelita Jiwa Insani di Kota Padang terus menunjukkan komitmennya dalam membantu kelompok rentan, seperti Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ), gelandangan dan pengemis (gepeng), serta penyalahguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) lainnya. Yayasan ini menawarkan rehabilitasi dan pembinaan untuk membantu mereka menata kembali kehidupan.
Ketua Yayasan Pelita Jiwa Insani, Syafrizal mengungkapkan, yayasan yang didirikan 16 Oktober 2014 silam ini telah memainkan peran penting dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial di Sumbar, khususnya Kota Padang. Salah satu pencapaian penting adalah keberhasilan Kota Padang menjadi daerah pertama di Sumbar yang menuntaskan kasus ODGJ pasung.
“Dukungan dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan berbagai pihak lainnya memungkinkan kami memberikan layanan terbaik bagi pasien,” ujar Syafrizal, Senin (30/12).
Ia menjelaskan, pihaknya menerapkan pendekatan holistik dalam rehabilitasi, dimulai dari terapi medis di rumah sakit hingga terapi spiritual dan keterampilan vokasional. Pasien diajarkan aktivitas harian, seperti membersihkan lingkungan, memasak, hingga keterampilan seperti membuat kue, otomotif, dan barber shop.
“Beberapa pasien berhasil membuka usaha setelah menyelesaikan program rehabilitasi, membuktikan bahwa mereka dapat kembali hidup bermartabat,” tambah Syafrizal.
Sejak awal berdiri, yayasan ini menghadapi berbagai kendala, termasuk stigma masyarakat dan keterbatasan fasilitas. Namun, berkat bantuan APBD Pemprov Sumbar, yayasan kini memiliki gedung baru di Jalan Lolo, Gunung Sarik, yang mampu menampung hingga 150 pasien. Saat ini, yayasan merehabilitasi 121 pasien, terdiri dari 80 ODGJ, 20 Gepeng, dan 21 penyalahguna Napza.
Dewi (55 tahun), seorang wanita asal Payakumbuh, merasakan perubahan besar setelah menjalani rehabilitasi selama sepuluh bulan. “Di sini saya merasa nyaman, bisa bertemu teman, dan mendekatkan diri kepada Allah,” ungkapnya.
Ramadani (28 tahun), seorang pria asal Kota Padang, juga merasakan kedamaian setelah menjalani program selama satu tahun. “Saya diajarkan banyak hal dan merasa lebih dihargai di sini,” katanya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk program ‘jemput bola’ dari Disdukcapil Kota Padang yang mempermudah pasien mendapatkan KTP, yayasan ini terus berupaya memastikan pasien tidak kembali terlantar.
“Ketika kita melihat mereka sebagai saudara, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendampingi mereka hingga pulih,” tutup Syafrizal. (mas)
