PASAMAN BARAT, KP – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pasaman Barat mencatat keberhasilan mengungkap peredaran ganja sebanyak 624 kilogram sepanjang tahun 2024. Pengungkapan ini merupakan hasil kolaborasi dengan BNN RI dan BNNP Sumatera Barat, yang mengidentifikasi jalur peredaran antar-provinsi.
“Perlintasannya melewati jalur pesisir barat Sumatera. Ganja diproduksi di Aceh, kemudian diedarkan ke Sumatera Barat dan sekitarnya, dengan pengendali berada di Sumatera Utara,” ungkap Kepala BNNK Pasaman Barat, Rangga Noverio, saat konferensi pers akhir tahun di Simpang Empat, Selasa (24/12).
Ia menjelaskan, jalur penyelundupan narkoba di Indonesia bermula dari Aceh, melintasi Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Jenis narkotika yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah ganja (44,69%), sabu dan ekstasi (22,06%), serta pil koplo atau nipam (11,17%).
Menurutnya, untuk meminimalisir peredaran narkotika, BNN menerapkan lima strategi utama, yaitu penguatan kolaborasi antarinstansi, penguatan intelijen, pengawasan wilayah pesisir, pengawasan wilayah perbatasan, dan pendekatan berbasis ikon dan tema spesifik.
Rangga menegaskan, Kabupaten Pasaman Barat kini menjadi salah satu wilayah tujuan utama peredaran narkotika. Bahkan, beberapa ladang ganja telah ditemukan di wilayah ini.
“Tahun depan, kami akan bekerja sama dengan Polres Pasaman Barat untuk pengungkapan lebih lanjut,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Rangga menyebut BNN berhasil mengungkap sejumlah kasus besar selama 2024, di antaranya penemuan 141 paket besar ganja di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman (April), pengungkapan kasus sabu di Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat, dengan barang bukti dua paket sedang dan satu paket kecil (Juli), dan kasus antar provinsi dengan barang bukti 624 kilogram ganja (Oktober).
Rangga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memerangi narkotika. “Pemberantasan narkotika membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah nagari,” katanya. (rom)