AGAM, KP – Letusan Gunung Marapi pada Minggu sore (3/12) menewaskan 11 pendaki yang saat kejadian berada di puncak gunung. Para korban diduga berada pada jarak 1-1,5 km dari kawah saat gunung itu meletus.
Kepala Kantor SAR Padang Abdul Malik mengatakan, dua dari 11 orang korban yang meninggal dunia tersebut telah berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar. Ia mengungkapkan, dua korban meninggal itu bernama Muhammad Adan (21 tahun) asal Kota Pekanbaru, Riau dan Muhammad Teguh Amanda (20 tahun) asal Kota Padang. Sementara, korban lainnya ada yang dalam perjalanan dievakuasi dan ada yang sudah berhasil dievakuasi.
Jasad pendaki korban erupsi Gunung Marapi itu diserahkan ke petugas DVI di Posko Ante Mortem di Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi untuk diidentifikasi.
Kasubbiddokpol Biddokes Polda Sumbar Eka Purnama Sari mengatakan, posko DVI didirikan untuk mengidentifikasi korban meninggal dunia.
“Posko DVI dipusatkan untuk mengidentifikasi jenazah, kemungkinan ada jenazah yang rusak bisa diidentifikasi agar saat penyerahan jenazah tidak salah orang,” katanya.
“Teknisnya, petugas mengkompulir data antemortem, keluarga atau kerabat korban ditanyakan ciri-ciri khas dari korban untuk dicocokkan di posko antemortem di RSAM Bukittinggi,” terangnya.
Ia mengungkap, pencocokan data bisa berlangsung satu hari jika semua data antemortem dipenuhi.
“Kalau jenazahnya tidak banyak rusak, dalam satu hari sudah bisa diserahkan sesuai data yang lengkap tentunya,” ujarnya.
Eka menambahkan, pengambilan data diperinci seperti sampel DNA, pencocokan data identitas KTP, ijazah, serta foto atau properti korban sebelum melakukan pendakian Gunung Marapi.
Menurutnya, sudah lebih 20 orang yang memberikan laporan terdiri dari beragam latar belakang baik keluarga inti, kerabat, atau rekan satu kampus.
12 PENDAKI MASIH DALAM PENCARIAN
Kepala Kantor SAR Padang Abdul Malik menerangkan, proses pencarian dan evakuasi sempat dihentikan sementara lantaran terjadi erupsi susulan sekitar pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB. Sehingga para tim gabungan kembali ke bawah untuk menyelamatkan diri dari erupsi. Namun, proses pencarian kembali dilanjutkan seiring dengan meredanya erupsi Gunung Marapi.
Abdul Malik memaparkan, jumlah survivor Gunung Marapi yang terdaftar di posko sebanyak 75 orang. Sebanyak 49 orang berhasil dievakuasi selamat. Sementara, 11 orang meninggal dunia. Dalam up[aya pencarian, ditemukan lagi tiga pendaki selamat. Sehingga, masih ada 12 orang pendaki yang dalam pencarian.
Ia menyebut, terdapat ratusan orang yang tergabung dalam tim pencarian dan evakuasi, baik yang berada di Gunung Marapi maupun di posko bawah. Ratusan orang tersebut terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas), pemadam kebakaran, BPBD, TNI, Polri, PMI, pihak nagari, pihak kecamatan, Dompet Dhuafa, Relawan Indonesia, Unit Rescue Mahasiswa UIN Bukittinggi, KSB, Penggiat Alam Sumbar, dan masyarakat.
Selain itu, kata Abdul Malik, Kantor Pusat Basarnas juga berencana mengerahkan Basarnas Special Group (BSG) ke Gunung Marapi dalam proses evakuasi. Tim BSG merupakan ‘satuan elit’ milik Basarnas yang dibekali dengan alat dan kemampuan khusus.
“Mereka punya keahlian sesuai dengan bidang kecelakaan saat ini dan biasa diterjunkan di berbagai kejadian di Indonesia,” katanya.
Pengurus Pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Ruslan Budiarto menyebut mayoritas pendaki yang meninggal dunia merupakan pendaki pemula dan tidak memakai jasa para guide.
“Pendaki newbie atau baru, yang meninggal 20-30 tahun. Kita masih identifikasi karena mayatnya hancur. Terbesar dalam sejarah ini,” kata Ruslan kepada wartawan, Senin (4/12).
“Momennya pas karena terjadi di weekend dan banyak kunjungan. Apalagi banyak pendaki ini yang tidak bertiket masuk,” ucapnya.
Ia menerangkan, Gunung Marapi memang berstatus gunung api aktif. Gunung Marapi juga merupakan salah satu yang paling aktif di Pulau Sumatera. Namun, letusannya kali ini tidak bisa diprediksi atau disebut juga letusan freatik, sehingga menelan jiwa belasan pendaki.
“Yang sekarang mirip freatik, tapi ada wedhus gembel. Letusannya dangkal tapi eksplosif, mirip (Gunung Merapi) yang di Jogjakarta,” tambahanya.
ALAT PENDETEKSI SERING DICURI
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan menjelaskan, status Gunung Marapi saat ini berada pada Level II (Waspada).
Ia mengatakan, sifat erupsi di Gunung Marapi cukup sulit dideteksi. Hal itu diperparah dengan peralatan monitoring di gunung tersebut yang kerap dicuri.
“Pada Maret 2023 alat di stasiun yang ada di timur dicuri. Ini sudah dua kali kecurian, pertama tahun 2020 lalu,” katanya.
Hendra mengaku, pada 14 Oktober 2023 lalu pihaknya telah memotret kawah Gunung Marapi menggunakan drone. Dari gambar tersebut diketahui Gunung Marapi terlihat aman, namun ternyata hal itu berbahaya.
“Secara visual nggak ada apa-apa dan secara kegempaan mungkin hanya ada satu gempa per bulan tapi dalam sejarah erupsi pasti terjadi. Makanya, kita buat rekomendasi 3 km itu berdasarkan statistik adanya erupsi 2-4 tahun, hanya saja tanggal dan bulannya nggak tahu,” tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga selama ini tidak mempunyai wewenang untuk melarang para pendaki mendekati gunung. Pasalnya, yang mempunyai wewenang untuk melarang yakni daerah.
“Dari daerah, wewenang di daerah. Mengenai larangan sudah kami sampaikan, ya sifatnya kita berikan saran dan rekomendasi teknis agar menjadi pertimbangan,” ucapnya. (kcm/ant)