JAKARTA, KP – Jumlah korban tewas akibat banjar bandang yang melanda negara Libya sudah mencapai 6.000 orang hingga Rabu (13/9). Angka jumlah korban jiwa itu disampaikan petinggi Kementerian Kesehatan Libya Saadeddin Abdul Wakil seperti diberitakan CNN, Kamis (14/9).
Ribuan jasad menumpuk di jalan Kota Derna, wilayah pesisir utara Libya yang porak poranda diterjang banjir bandang imbas hujan deras dan bendungan jebol. Diprediksi 10 ribu orang hilang. Ada kemungkinan hanyut terbawa banjir hingga ke laut atau terkubur dalam puing-puing bangunan.
Sebanyak 3.840 orang tewas di Kota Derna, di mana 3.190 di antaranya telah dikubur otoritas setempat. Dari jumlah tersebut, 400 di antaranya merupakan warga negara asing (WNA). Sebagian besar berasal dari Sudan dan Mesir.
Banjir yang melanda wilayah timur Libya itu terjadi Senin lalu (11/9). Bencana kian parah ketika bendungan di atas Kota Derna jebol. Diduga, seluruh penduduk di Kota Derna hanyut hingga ke laut.
Sejumlah video yang tersebar di media sosial memperlihatkan arus deras mengalir di pusat kota. Hampir seluruh bangunan yang dilewati arus banjir hancur di kedua sisi jalan.
Sejauh ini, Kementerian Luar Negeri RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam banjir besar yang melanda Libya timur. KBRI Tripoli mencatat ada 282 orang WNI yang tinggal di Libya, di mana sebagian besar di antaranya bertempat tinggal di wilayah Libya barat.
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Judha Nugraha menyampaikan, informasi ini diterima setelah KBRI Tripoli melakukan komunikasi dengan Otoritas di Libya Timur dan komunitas masyarakat Indonesia.
“Tidak terdapat informasi adanya WNI yang menjadi korban banjir besar di Libya timur,” kata Judha.
Ia pun meminta WNI segera menghubungi KBRI jika terjadi keadaan darurat.
“Dalam keadaan darurat, WNI di seluruh Libya dapat menghubungi Hotline KBRI Tripoli 24 jam dengan nomor +218 94 481 5608,” ungkap Judha sembari mengatakan KBRI akan terus memantau perkembangan yang terjadi. (cnn)