BUKITTINGGI, KP – Gunung Marapi di wilayah Kabupaten Agam meletus dan menyemburkan abu vulkanik, Minggu (3/12) sekitar pukul 14.50 WIB. Erupsi gunung itu melontarkan abu vulkanik dengan ketinggian hingga mencapai tiga kilometer. Akibat letusan Gunung Marapi, wilayah Kabipaten Agam dan Kota Bukittinggi diguyur hujan abu.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api, Ahmad Rifandi mengungkap telah lebih dari tiga kali erupsi yang terjadi.
“Beberapa dampak yang kami amati hujan abu hingga ke Lubuk Basung, hujan abu disertai materil kecil batu di Bukittinggi serta kerikil di wilayah terdekat dari puncak Gunung Marapi,” ujarnya.
Diketahui, Gunung Marapi mengalami erupsi terakhir kali pada 20 Februari 2023 dengan tinggi abu vulkanik 3 kilometer dari puncak gunung.
Belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Marapi saat ini, namun partikel kecil berupa batu-batuan menyebar seperti hujan di seluruh Kota Bukittinggi dan Agam.
Suara letusan yang terdengar keras diiringi getaran kuat itu membuat masyarakat berhamburan ke luar rumah.
“Anak-anak kami menangis karena kaget mendengar suara keras dari arah Gunung Marapi, awalnya kami pikir itu suara petir, ternyata gunung meletus,” kata seorang warga, Widia.
Ia mengatakan, tidak lama setelah terdengar erupsi, material berupa pasir kecil berwarna gelap turun seperti hujan. “Kami sangka awalnya hujan biasa, rupanya abu pasir yang jatuh dari langit,” katanya.
Ade Ria anggota DPRD Agam yang tinggal di Sungai Puar yang berada di kaki Gunung Marapi menceritakan kepanikan masyarakat saat terjadi letusan gunung itu. “Dari masjid dan musala langsung berkumandang takbir,” katanya.
Menurutnya, kepanikan masyarakat semakin menjadi-jadi karena gemuruh dari perut Gunung Marapi berlangsung cukup lama, setidaknya sekitar 10 menit. Lalu terjadi hujan vulkanik, seperti abu, pasir, bahkan batu kerikil.
Pantauan KORAN PADANG, di Simpang Landbouw Bukitinggi, banyak pengendara sepeda motor yang terjatuh karena pandangan mereka tertutup abu yang cukup tebal, bahkan sampai menutupi badan jalan.
Sementara, salah seorang warga Agam, Asep di Lubuk Basung, mengatakan hujan abu vulkanik tersebut membuatnya kesulitan untuk mengendarai sepeda motor, karena partikel abu mengenai mata dan mata jadi perih. Tidak itu saja, pakaian yang dipakai, sepeda motor dan mobil yang parkir diselimuti oleh debu vulkanik tersebut.
“Awalnya saya tidak mengetahui kejadian itu. Namun beberapa menit, jalanan dipenuhi debu termasuk pakaian yang dipakai,” katanya.
Warga lainnya, Lasmi menambahkan di sekitar rumahnya tercium baun balerang cukup kuat. “Bauk balerang cukup menyengat di sekitar rumah dampak dari hujan abu vulkanik tersebut,” ungkapnya.
Wali Kota Bukittinggi Erman Safar meminta warga mengambil sikap aman dengan tidak keluar rumah.
“Kami imbau sementara tidak keluar rumah, petugas BPBD dan lainnya telah melakukan pembersihan material hujan abu karena erupsi Gunung Marapi, termasuk di lokasi Jam Gadang,” katanya.
Ia menegaskan agar warga mematuhi segala imbauan dari pemerintah dan pihak berwenang terkait erupsi yang terjadi.
“Warga kami minta tidak panik, tetaplah tenang dan tetap di dalam rumah. Jika berada di luar rumah, carilah tempat berlindung, gunakanlah masker, sapu tangan, atau pakaian untuk menutup mulut dan hidung dari abu erupsi,” katanya.
Ia mengatakan dampak atau bahaya abu vulkanik utamanya dapat mengganggu pernapasan, khususnya pada anak, orang tua, dan orang dengan penyakit paru-paru, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
EVAKUASI PENDAKI
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengevakuasi para pendaki Gunung Marapi pasca-gunung itu erupsi. Plh Kepala BKSDA Sumbar Dian Indriati menyebut, total ada sekitar 70 pendaki yang terdata yang sedang melakukan pendakian. Sebanyak 13 pendaki naik dari pintu Koto Baru dan 54 orang dari Batu Palano.
Sementara yang sudah turun dari Batu Palano adalah kelompok pendaki dari Pekanbaru sebanyak 10 orang, ditambah 3 orang lainnya yang juga dari Pekanbaru. Sedangkan pendaki yang naik dari Koto Baru sudah turun semuanya. Sehingga, ada 39 orang pendaki lagi yang akan dievakuasi.
“Saat ini petugas BKSDA dan relawan masih melakukan proses evakuasi pendaki. Semoga tidak ada korban jiwa dan semua pendaki selamat,” kata Dian. (eds/ant)