PAYAKUMBUH, KP — Upaya digitalisasi pembelajaran di Kota Payakumbuh melalui penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital terus dilakukan, meski masih menghadapi keterbatasan sarana.
Saat ini, sebagian besar sekolah hanya memiliki satu unit IFP yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Kondisi tersebut membuat penggunaan alat harus dilakukan secara bergantian antar kelas.
Keterbatasan ini menjadi kendala dalam mengoptimalkan proses pembelajaran berbasis digital, mengingat jumlah rombongan belajar (rombel) di sejumlah sekolah mencapai puluhan.
Seorang pelajar di SMP Negeri 4 Payakumbuh, Cantika Alia Khumaira, mengaku penggunaan IFP membuat kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif.
“Kami senang belajar menggunakan IFP karena lebih menarik dan membuat kami lebih aktif,” ujarnya.
Namun, ia menyebut keterbatasan perangkat dan kualitas jaringan internet masih menjadi hambatan.
“Kalau bisa internetnya lebih cepat dan alatnya ditambah, karena sekarang harus pindah-pindah kelas untuk menggunakan IFP,” katanya.
Hal senada disampaikan guru Bahasa Indonesia, Nia Efriani. Ia menyebut keterbatasan jumlah IFP menjadi kendala utama dalam penerapan pembelajaran digital.
“Karena hanya satu unit, siswa harus bergantian atau alatnya yang dipindahkan. Ini tentu kurang efektif,” ujarnya.
Menurutnya, idealnya setiap tingkatan kelas memiliki minimal satu unit IFP agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih optimal.
Plt. Kepala SMP Negeri 4 Payakumbuh, Sri Wahyu Ningsih, mengatakan pihak sekolah telah memanfaatkan IFP dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk untuk peserta didik baru kelas VII.
“Respon siswa sangat positif, mereka menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran,” katanya.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat menambah jumlah IFP di sekolah-sekolah agar digitalisasi pendidikan di Kota Payakumbuh dapat berjalan lebih maksimal. (dst)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!