Home » Warga Pauh Bangun Huntara dan Surau Bambu dengan Semangat Kearifan Lokal

Warga Pauh Bangun Huntara dan Surau Bambu dengan Semangat Kearifan Lokal

Redaksi
A+A-
Reset

PADANG, KP — Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengapresiasi tinggi inisiatif dan semangat gotong royong masyarakat Kampung Talang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, dalam mempercepat pemulihan pascabencana banjir bandang.

Warga setempat secara mandiri membangun Hunian Sementara (Huntara) dan sarana ibadah ikonik bertajuk Surau Bambu Talang dengan memanfaatkan material alam di lingkungan sekitar.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat meninjau lokasi Huntara sekaligus melakukan peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang, baru-baru ini. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan salah satu titik yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 lalu.

“Kami sangat bangga dan bersyukur. Warga Kampung Talang berperan aktif dalam proses pembangunan huntara, bekerja sama dengan TNI, relawan, serta mahasiswa. Inisiatif masyarakat yang memanfaatkan bambu dari lingkungan sekitar untuk surau menunjukkan kearifan lokal tetap relevan dan ramah lingkungan dalam proses pemulihan pascabencana,” ujar Mahyeldi.

Huntara mandiri yang berlokasi di RT 03 RW 04 Kelurahan Kapalo Koto tersebut berdiri di atas lahan seluas tiga hektare dan mampu menampung 10 kepala keluarga terdampak. Gubernur menilai pola kemandirian ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Minangkabau yang tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi bergerak cepat secara swadaya.

Perwakilan Kelompok Pecinta Alam Bias, Khalid Syaifullah, menjelaskan bahwa penggunaan material bambu untuk sarana ibadah merupakan simbol adaptasi terhadap kondisi alam setempat. Nama Surau Bambu Talang sengaja dipilih karena sebagian besar material utamanya diambil langsung dari kawasan sekitar lokasi pengungsian.

“Kami bersama warga, TNI, mahasiswa, dan relawan berupaya menghadirkan hunian sementara yang layak sekaligus sarana ibadah yang memiliki nilai sosial budaya. Karena menggunakan bambu dari sekitar kawasan, surau ini kami beri nama Surau Bambu Talang,” jelas Khalid.

Kehadiran kompleks Huntara dan surau ini diharapkan tidak hanya sekadar menjadi tempat berlindung sementara dari cuaca, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kembali kehidupan sosial dan spiritual masyarakat pascabencana.

Peletakan batu pertama ini turut dihadiri Kepala Biro Kesra Sumbar, Camat Pauh, tokoh masyarakat, serta warga penghuni Huntara yang kini mulai menata kembali kehidupan mereka. (mas)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?