Home » Sampah Disulap Jadi Uang, Perempuan Payakumbuh Buktikan Ini

Sampah Disulap Jadi Uang, Perempuan Payakumbuh Buktikan Ini

Redaksi
A+A-
Reset

PAYAKUMBUH — Pengelolaan sampah di Kota Payakumbuh dikembangkan menjadi peluang ekonomi keluarga melalui berbagai inovasi pemberdayaan perempuan.

Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, mengatakan sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.

“Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi peluang. Kalau dikelola dengan baik, ia bisa melahirkan nilai ekonomi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, pemberdayaan perempuan di Payakumbuh dimulai dari pengolahan sampah rumah tangga menjadi produk bernilai guna dan jual, sehingga mampu membuka peluang usaha baru bagi keluarga.

“Yang sudah ada harus kita maksimalkan. Produksi ditingkatkan, kualitas dijaga, dan jangkauan pemasaran diperluas,” katanya.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pengolahan sampah organik menjadi budidaya maggot. Larva yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak unggas.

“Terdengar biasa, sampah organik jadi maggot lalu kompos. Tapi yang tidak biasa, kita jadikan juga sebagai pakan ternak unggas,” ujarnya.

Program ini mulai diterapkan di kawasan Mancang Labu, Kelurahan Payobasung, Kecamatan Payakumbuh Timur.

Menurutnya, biaya pakan selama ini menjadi beban utama peternak kecil, mencapai 60 hingga 70 persen dari total operasional. Pemanfaatan maggot dinilai mampu menekan biaya tersebut.

“Di sinilah peluangnya. Sampah organik rumah tangga bisa kita olah menjadi pakan alternatif yang lebih ekonomis,” katanya.

Selain itu, sampah anorganik juga diolah menjadi produk seperti paving blok, yang dinilai mampu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang usaha.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga membuka lapangan usaha baru,” ujarnya.

Pemberdayaan perempuan juga dilakukan melalui pengembangan UMKM, khususnya kerajinan rajut. Melalui kelompok dasawisma, perempuan dilatih memproduksi tas, dompet, hingga pakaian.

Ia menyebut, hasil kerajinan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga membangun kepercayaan diri para pengrajin.

“Alhamdulillah, beberapa pengrajin sudah meraup omzet hingga puluhan juta rupiah, dan produknya sudah merambah mancanegara,” katanya.

Eni menegaskan, berbagai program tersebut diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan dampak berkelanjutan.

“Perempuan tidak boleh hanya jadi penonton perubahan. Kita harus jadi penggerak, mengubah yang sederhana menjadi bernilai,” pungkasnya. (dst)

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?