Pelatihan Menjahit di Bukittinggi Terkendala Mesin, Rafdinal Cari Solusi

by Redaksi
A+A-
Reset

BUKITTINGGI, KP — Sebanyak 16 perempuan di Kelurahan Aur Kuning, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), Kota Bukittinggi, mengikuti pelatihan menjahit selama sebulan melalui pokok pikiran (pokir) Anggota DPRD Sumatera Barat Rafdinal.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk membekali peserta dengan keterampilan menjahit pakaian wanita dewasa sekaligus membuka peluang usaha guna meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan merupakan Pelatihan Kerja berdasarkan Klaster Kompetensi Kejuruan Garment Apparel dengan total 240 jam pelajaran (JP). Pelatihan dilaksanakan Balai Pelatihan Kerja (BLK) Payakumbuh, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumatera Barat melalui Tahun Anggaran 2026.

Penutupan pelatihan digelar di Kelurahan Aur Kuning, Rabu (19/8/2026). Kegiatan dihadiri Rafdinal, unsur pemerintahan kecamatan dan kelurahan, Dinas Koperasi, UKM dan Ketenagakerjaan Kota Bukittinggi, serta jajaran BLK Payakumbuh.

Rafdinal mengatakan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Menurutnya, peserta yang sebagian besar masih berada pada usia produktif dapat mengembangkan kemampuan menjahit menjadi usaha mandiri.

“Setelah mengikuti pelatihan ini tentu pengalaman dan keterampilan mereka bertambah. Sebanyak 16 peserta ini diharapkan bisa memanfaatkan ilmu yang didapat untuk menambah pendapatan dan meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Rafdinal.

Ia juga meminta pemerintah daerah, kecamatan, dan kelurahan memantau keberlanjutan usaha peserta setelah pelatihan berakhir.

“Pelatihan ini berada di bawah Dinas Ketenagakerjaan melalui BLK, dan tugas pelatihan sampai di sini sudah selesai. Namun, kita berharap pemerintah daerah, kecamatan maupun kelurahan tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan usaha mereka,” katanya.

Namun, Rafdinal menyoroti keterbatasan peralatan yang dapat menjadi kendala peserta untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha. Peserta, kata dia, tidak mendapatkan mesin jahit dalam program pelatihan.

“Yang menjadi kendala saat ini adalah mereka tidak diberikan alat atau mesin jahit. Padahal, mesin jahit merupakan kebutuhan utama untuk mengembangkan keterampilan ini. Kalau tidak dilengkapi, tentu akan sedikit sulit bagi mereka untuk berkembang,” jelasnya.

Menurut Rafdinal, keterampilan menjahit akan lebih bermanfaat jika peserta memiliki peralatan yang memadai sehingga dapat menerima pesanan dan menghasilkan produk sendiri.

Ia mengakui, secara regulasi kegiatan pelatihan tersebut memang tidak menyediakan mesin jahit bagi peserta. Meski demikian, ia akan berkoordinasi dengan pihak dan dinas terkait untuk mencari kemungkinan bantuan peralatan.

“Secara regulasi memang tidak diberikan alat. Namun, nanti akan kita coba dengan cara lain yang memungkinkan. Kita akan mencari informasi dan mudah-mudahan ada dinas terkait lainnya yang bisa memberikan bantuan,” ujarnya.

Rafdinal mengatakan pada Tahun Anggaran 2026 terdapat tiga kegiatan yang disalurkan melalui dana pokir. Selain pelatihan menjahit, kegiatan tersebut mencakup pelatihan servis telepon seluler dan satu kegiatan di bidang kewirausahaan.

“Di tahun 2026 ini ada tiga kegiatan yang kita salurkan melalui dana pokir. Salah satunya pelatihan menjahit, kemudian servis handphone dan satu lagi kegiatan kewirausahaan. Untuk tiga kegiatan tersebut, total dana pokir sekitar Rp325 juta,” pungkasnya.

Penutupan pelatihan turut dihadiri Lurah Aur Kuning Suhendra, Kasi Pemerintahan Kecamatan ABTB Reza, Pengantar Kerja Fungsional Dinas Koperasi, UKM dan Ketenagakerjaan Kota Bukittinggi Maizar, Kepala BLK Payakumbuh Satria Edi, serta M. Ikhsan dari Tata Usaha BLK Payakumbuh. (fai)

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0