SEPERTI yang sama- sama kita ketahui kekuatan media pada saat sekarang ini berpengaruh sangat pesat, apalagi dalam membentuk opini serta persepsi publik. Media mampu membentuk kekuatan besar dalam masyarakat. Terlepas dari apapun isi medianya, mengharuskan kita berpikir secara kritis dan kreatif tentang media yang kita konsumsi, bagaimana media mempengaruhi kita sebagai individu dan bagaimana media membentuk budaya dan masyarakat kita.
Budaya ini dibentuk melalui pertarungan ideologi dan interpretasi atas pesan media Komunikasi, terutama memiliki peran khusus dalam mempengaruhi budaya populer.
Secara awam kita bisa melihat bagaimana penggambaran laki- laki dan perempuan di lingkungan sosial secara sifat dan emosional, yang mana laki- laki harus dituntut kuat, laki- laki harus dituntut bisa semuanya, laki- laki harus bisa diandalkan, laki- laki akan dianggap lemah jika dia menangis dan mengeluh.
Berbeda dengan perempuan yang digambarkan sebagai makhluk yang lemah lembut, keibuan, gampang sedih dan mengeluarkan air mata. Sedangkan posisi Perempuan dan laki- laki di masyarakat masih kebanyakan bersifat patriarki. Di mana perempuan tidak dipercaya untuk memegang amanah sebagai kepala, atau pimpinan, berbeda dengan laki- laki yang selalu diutamakan, dan pendapatnya cenderung didengar.
Dalam hal ini media juga seringkali berperan dalam pembentukan stereotip gender, melalui isi pesan yang disampaikannya, serta menciptakan stereotip cultural dengan menggunakan pesan yang disampaikannya untuk tujuan pemasaran.
Berbagai gerakan dan usaha mendorong adanya emansipasi perempuan hingga saat ini masih berjuang mencapai keberhasilannya. Gerakan emansipasi ini berusaha mewujudkan di segala aspek kehidupan, memperjuangkan akan adanya persamaan hak serta kedudukan atau posisi sosial politik yang sama antara pria dan perempuan.
Media disini sebenarnya juga memainkan peran dalam membentuk gambaran tentang bagaimana laki – laki dan perempuan, di dalam pikiran individu – individu masyarakat seluruhnya tanpa ada pembedaan. Media ini akan sangat berpengaruh dalam setiap aspek perspektif Masyarakat baik dari segi positif maupun negatif, yang mana pada zaman digital ini tidak bisa kita pungkiri bahwa kita atau generasi Z tidak terlepas dari yang namanya media sosial.
Berbagai macam media sosial yang berkembang pesat dalam membentuk opini publik, seperti majalah, koran, internet, seperti Instagram, TikTok, Twitter dan lain sebagainya.
Seperti dalam tayangan televisi, yang Dimana Perempuan selalu digambarkan dengan seorang yang lemah lembut dan patuh, baik dalam pikiran kaum pria, bahkan Perempuan sendiri hingga anak – anak. Di mana produksi ideology kembali pada “keunggulan laki – laki” yang membuat perempuan tetap berada dalam keadaan yang “menyedihkan”.
Contohnya dalam sebuah film yang disajikan media mereka selalu menjadikan posisi laki- laki atau suami yang menjadi seorang Bos atau CEO di sebuah perusahaan, disegani dan memiliki jabatan yang sangat terhormat.
Berbeda dengan Wanita selalu dijadikan seakan-akan sebagai objek belas kasihan, kebanyakan menjadi ibu rumah tangga, yang hanya selalu di rumah dan dapur, selalu menjadi istri yang patuh, lemah lembut, keibuan, dengan peran selalu di sakiti tetapi tidak bisa melawan, seakan tak berdaya untuk membela dirinya sendiri, yang ujung-ujungnya hanya bisa menangis.
Menjadi seorang ibu rumah tangga tidaklah buruk, melainkan pekerjaan yang sangat mulia, akan tetapi, Perempuan yang memang memiliki potensi, dan bisa bersaing di ranah pekerjaan, politik dan lainnya, kenapa tidak?
Dalam hal ini media Kembali tidak sadar secara tidak langsung menjadi pelaksana tradisi – tradisi yang tidak mampu mengeluarkan Perempuan dari area diskriminasi. Seperti yang sama- sama kita ketahui perempuan dalam media seringkali digambarkan sebagai obyek tatapan pria.
Para model yang nyaris telanjang pada sampul majalah pria menjadi hal yang biasa. Para presenter program televisi populer, seringkali dipilih berdasarkan wajah mereka dan bukannya berdasarkan bakat yang lebih substansial.
Dari sana dapat kita ambil bahwa di balik kemasannya yang bagus banyak hal yang bisa kita pelajari, termasuk isu perempuan di dalamnya seperti ekploitasi, objek kekerasan, gaya hedonisme, konsumtif, bahasa, pencitraan, stereotip.
Citra perempuan hingga saat ini tetap berkisar pada wilayah subordinatnya. Yang mana setiap produk- produk ciptaan baru yang di luncurkan media diarahkan terhadap kaum perempuan sebagai target media terbesar.
Lalu kenapa hal itu terjadi? Sebab media-media patriarki berfikir bahwa iklan atau tayangan-tayangan televisi lainnya akan terasa hambar dan kehilangan segi estetikanya bila tidak menyisipkan objek perempuan. Di sini seakan- akan perempuan dituntut untuk harus memiliki look,face and beauty, yang harus dituntut untuk menjadi modern berparadigma feminis. Hal ini akhirnya berhasil terinternalisasi oleh perempuan masa kini yang di suntik oleh media.
Namun sangat disayangkan sekali saking seringnya dieksploitasi oleh media patriarki, perempuan tidak merasa tengah dijadikan objek fantasi lelaki. Sebaliknya, mereka merasa lebih bebas untuk berekspresi dan mengaktualisasikan dirinya di segala sendi kehidupan.
Hal seperti ini harus kita atasi agar terciptanya kesetaraan gender, persamaan kedudukan. Dan selayaknya media massa berperan dalam turut mengetengahkan keadilan gender. Karena peran media di era sekarang ini memang benar- benar diperlukan.
Apalagi di era teknologi digital yang sangat amat menyebar luas dan sangat berpengaruh merubah pola piker generasi saat ini, bahkan sampai bisa merubah gaya hidupnya. Bias gender dalam media massa telah menyebarluaskan ideologi gender dalam masyarakat, yang berimbas semakin memperlemah posisi perempuan ketika berhadapan dengan ego budaya patriarki yang telah terbentuk selama berabad-abad lamanya dalam nilai-nilai masyarakat. *
