Home » Bisikan Gen Z Senjata Tak Berbunyi

Bisikan Gen Z Senjata Tak Berbunyi

Redaksi
A+A-
Reset

( Sumber: Cosmopolitan by Kamala Harris Juni, 2020)

Oleh:Nisrina Firdaus Alumni SLC 2024Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Email: Nisrinafirdaus13@gmail.com

Generasi Z lahir dan tumbuh dalam pelukan teknologi yang telah berkembang pesat, di mana personal komputer, ponsel pintar, internet, dan perangkat gaming menjadi bagian tak terpisahkan dari ke  hidupan sehari-hari. Mereka lahir dimulai  dari  tahun  2001  sampai  tahun  2010.  Generasi Z, dengan rasa penasaran yang tak pernah padam, banyak menghabiskan waktu mereka menjelajahi dunia maya, baik melalui web maupun sosial media. Alih-alih bermain di luar ruangan dan berinteraksi dengan orang banyak, mereka lebih menyukai kegiatan di dalam rumah, terikat oleh kenyamanan teknologi yang selalu di genggaman. Menginginkan hasil yang instan dan menyebabkan kemunculan teknologi  Artificial Intelligent (AI)  yang dapat membuat semua hal menjadi mudah.

Seperti kilat yang menyambar dalam sekejap, generasi Z menemukan cara baru dan efisien untuk menaklukkan tantangan sehari-hari, seolah-olah setiap detik adalah peluang untuk berinovasi. Mereka memanfaatkan sosial media sebagai kanvas tempat mereka melukis identitas digital mereka, menciptakan Personal Branding yang bersinar seperti bintang di langit maya. Di sana, mereka menemukan panggung untuk mengekspresikan diri tanpa batas, menari dalam arus konten yang menghibur, dan terjun dalam gelombang aksi sosial. Instagram menjadi cermin tempat mereka mengeksplorasi dan memahami diri, memantulkan hubungan rumit mereka dengan dunia digital. Seperti pelangi setelah hujan, identitas digital mereka terbentuk dari spektrum pengalaman dan interaksi di jagat sosial media.

Bersumber pada informasi para penelitian badan survey Asosiasi Eksekutor Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pada 2024, statistik pemakai internet di Indonesia terletak pada kisaran 221,5 juta ataupun kurang lebih 79,5% dari keseluruhan jumlah masyarakat. Terhitung sejak 2018, penetrasi internet Indonesia mencapai 64,8%. Kemudian secara berurutan, 73,7% di 2020, 77,01% di 2022, dan 78,19% di 2023. Berdasarkan gender, kontribusi penetrasi internet Indonesia banyak bersumber dari laki-laki 50,7% dan perempuan 49,1%. Sementara dari segi umur, orang yang berselancar di dunia maya ini mayoritas adalah Gen Z (kelahiran 1997-2012) sebanyak 34,40%. Lalu, berusia generasi milenial (kelahiran 1981-1996) sebanyak 30,62%. Kemudian berikutnya, Gen X (kelahiran 1965-1980) sebanyak 18,98%, Post Gen Z (kelahiran kurang dari 2023) sebanyak 9,17%, baby boomers (kelahiran 1946-1964) sebanyak 6,58% dan pre boomer (kelahiran 1945 sebanyak 0,24%.

Media sosial telah berevolusi menjadi senjata yang sangat kuat dalam memfasilitasi perubahan sosial, politik, dan budaya di era modern ini. Platform-platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok telah memberikan suara kepada individu-individu dari berbagai latar belakang untuk menyuarakan keprihatinan mereka, memobilisasi gerakan sosial, dan mengatasi ketidakadilan. Dengan kekuatan ini, media sosial tidak hanya menghubungkan manusia di seluruh penjuru dunia, tetapi juga menjadi katalisator bagi transformasi sosial yang lebih adil dan merata.

Namun, di balik dampak positif media sosial dalam memfasilitasi perubahan, perlu diakui bahwa platform-platform ini juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan, seperti penyebaran disinformasi, kebencian, dan penggunaan yang tidak etis. Oleh karena itu, mengembangkan literasi digital yang kuat menjadi krusial. Penting untuk mengajarkan individu cara menggunakan media sosial dengan bertanggung jawab, memeriksa kebenaran informasi, dan berkontribusi pada diskusi yang konstruktif. Dengan demikian, media sosial dapat terus menjadi senjata yang kuat untuk perubahan, memberikan dampak positif yang signifikan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Melalui pemahaman dan penggunaan yang bijak, potensi media sosial sebagai alat transformasi sosial dapat direalisasikan sepenuhnya, menjadikan dunia maya sebagai landasan bagi masa depan yang lebih cerah dan harmonis.

Perubahan paradigma media sosial telah menjadi pemandangan umum bagi Generasi Z, yang secara unik menerima dan memanfaatkan teknologi ini sebagai alat untuk perubahan sosial yang substansial. Mereka tidak hanya melihat media sosial sebagai alat untuk berbagi momen pribadi atau hiburan semata, tetapi juga sebagai panggung untuk menyuarakan keprihatinan mereka tentang isu-isu global, memobilisasi gerakan sosial, dan menginspirasi perubahan positif.

Secara menyeluruh, sosial media memiliki dampak yang luas dan beragam pada generasi Z, memengaruhi cara mereka berinteraksi, belajar, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Meskipun tantangan dan risiko hadir, sosial media juga membuka peluang untuk inovasi, partisipasi, dan perubahan positif. Generasi Z, yang tumbuh dalam era digital, telah menjadi pionir dalam memobilisasi gerakan perubahan sosial melalui media sosial. Platform-platform tersebut menjadi sarana utama bagi Gen Z untuk menyuarakan pendapat, menggalang aksi kolektif, dan membangun gerakan yang berdampak. Dengan kreativitas dan keberanian, mereka merangkul era digital sebagai panggung untuk memperjuangkan nilai-nilai dan visi mereka, membawa perubahan yang positif dalam tatanan sosial dan politik.

Generasi Z telah menjadi pemimpin dalam gerakan Black Lives Matter (BLM) baik di media sosial maupun di luarnya. Gerakan ini dimulai dengan hashtag #BlackLivesMatter pada tahun 2013 setelah penghinaan George Zimmerman terhadap Trayvon Martin dan berkembang menjadi gerakan yang mengunggah orang untuk bergerak ke jalanan setelah kematian Michael Brown dan Eric Garner. Pada tahun 2014, hashtag ini mencapai puncak dengan lebih dari 146.000 tweet, dan pada Mei 2020, Twitter melaporkan bahwa hashtag tersebut memiliki lebih dari 8 juta tweet . Generasi Z menggunakan platform seperti Instagram dan Twitter sebagai titik transfer antara pemikiran dan tindakan, menggugah orang untuk bergerak ke jalanan di tengah pandemi untuk mendorong perubahan kebijakan.

Gerakan ini tidak hanya terasa lebih nyata berkat percakapan yang merata di media sosial, tetapi juga karena Generasi Z memanfaatkan platform tersebut untuk memperjuangkan isu-isu sosial. Suara mereka dalam gerakan Black Lives Matter mencerminkan kesadaran mendalam dan kepedulian terhadap kesetaraan dan hak asasi manusia. Dengan menggunakan media sosial sebagai panggung, mereka mengutarakan pandangan mereka, menggalang dukungan kolektif, dan membentuk gerakan yang memberi dampak besar. Hal ini menggambarkan bagaimana Generasi Z memanfaatkan teknologi untuk mengadvokasi perubahan sosial dan mengubah cara orang berinteraksi serta memahami isu-isu sosial. Secara keseluruhan, peran Generasi Z dalam gerakan Black Lives Matter menegaskan betapa pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperjuangkan kesetaraan dan hak asasi manusia..

Aktivisme daring bukan hanya tentang membagikan opini, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan memobilisasi tindakan nyata. Gen Z menggunakan kekuatan sosial media untuk menarik perhatian pada isu-isu sosial seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender. Selain menyuarakan aspirasi politik, Generasi Z juga menggunakan media sosial untuk mendorong gerakan sosial. Generasi Z, dengan akses yang luas terhadap teknologi dan media sosial, telah menjadi kekuatan yang mengubah paradigma dalam perubahan sosial.

Kekuatan suara Gen Z terletak pada kemampuan mereka untuk memobilisasi massa, menggerakkan kampanye sosial, dan menuntut perubahan atas isu-isu yang dianggap penting bagi mereka, seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, hak-hak LGBTQ+, dan ketidakadilan rasial. Mereka menggunakan tagar, kampanye online, dan petisi daring untuk memperjuangkan tujuan mereka, sering kali dengan hasil yang signifikan. Media sosial memberikan platform yang memungkinkan Gen Z untuk mengekspresikan pendapat mereka tanpa batasan geografis atau waktu.  Mereka dapat dengan cepat merespons peristiwa-peristiwa dunia dan memicu diskusi yang luas dengan mengunggah konten yang relevan dan membangkitkan kesadaran.

Meskipun begitu, kekuatan suara Generasi Z dalam memanfaatkan media sosial untuk perubahan sangatlah penting dalam merombak pemandangan sosial dan politik saat ini. Mereka telah membuka jalan bagi penggunaan teknologi digital sebagai alat advokasi sosial dan pemberdayaan masyarakat, menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kemampuan besar untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Dengan semangat dan tekad yang kuat, mereka membuktikan bahwa perubahan nyata dapat dimulai dari dunia maya, mengarahkan dunia nyata menuju masa depan yang lebih baik dan inklusif.

 

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?