KABAR miris dari Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, membuat kita semua harus mengurut dada dan mengucap istighfar panjang. Kejadian ini sungguh menampar wajah dunia pendidikan kita di Sumatera Barat yang menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Seorang oknum guru berstatus ASN yang seharusnya menjadi teladan malah tertangkap basah melakukan perbuatan tercela di kamar mandi masjid.
Sungguh sulit diterima akal sehat. Pelaku bukan anak muda yang sedang mencari jati diri melainkan seorang bapak berusia 58 tahun yang sudah matang. Lebih menyakitkan lagi, perbuatan itu dilakukan dengan mantan muridnya sendiri dan mengambil tempat di rumah ibadah yang suci.
Ini adalah penghinaan berat terhadap nilai agama dan norma masyarakat kita. Guru yang semestinya digugu dan ditiru justru mempertontonkan perilaku yang merusak moral generasi muda.
Kita sepakat dan mendukung penuh langkah tegas Dinas Pendidikan Sumatera Barat yang langsung memproses pemecatan oknum ini. Tidak boleh ada toleransi sedikit pun bagi pendidik yang merusak marwah sekolah.
Mempertahankan orang seperti ini di lingkungan sekolah sama saja dengan memelihara racun yang perlahan akan mematikan karakter anak-anak kita. Sekolah adalah tempat orang tua menitipkan masa depan anak mereka dengan rasa percaya. Jangan sampai kepercayaan itu hancur karena ulah oknum yang tidak tahu diuntung.
Kita juga merasa sangat miris membaca akhir dari cerita ini di kantor Satpol PP. Bayangkan betapa hancurnya hati sang istri yang harus datang menjemput suaminya setelah berbuat aib dengan sesama jenis. Kesepakatan damai secara kekeluargaan mungkin menyelesaikan masalah di atas kertas. Namun sanksi sosial dan noda hitam yang tertinggal tidak akan mudah hilang begitu saja.
Kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh tenaga pendidik di Ranah Minang. Menjadi guru bukan sekadar urusan mengajar di kelas dan menerima gaji bulanan. Ada beban moral yang sangat berat di pundak Bapak dan Ibu guru.
Pemerintah juga harus lebih ketat dalam mengawasi mental dan perilaku para pengajar kita. Jangan hanya sibuk mengurus administrasi dan kurikulum tapi lupa mengecek akhlak manusianya.
Mari kita jaga sekolah dan anak-anak kita dari pengaruh buruk yang justru datang dari orang terdekat. Jangan sampai pagar yang kita bangun susah payah justru memakan tanaman yang sedang kita rawat. *
