PADANG, KP — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatra Barat, Muhidi dihujani berbagai pertanyaan kritis oleh puluhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Kota Padang. Momentum dialog interaktif tersebut tercipta dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemantapan Nilai Literasi Siswa SMK yang digelar di Hotel Bunda SMKN 9 Padang, Jumat (22/5).
Bimtek yang diinisiasi langsung oleh Ketua DPRD Sumbar ini dirancang sebagai langkah strategis memperkuat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda. Melalui forum tersebut, para siswa ditempa untuk membangun pola pikir kritis, literatif, serta adaptif terhadap akselerasi teknologi digital.
Suasana ruangan mendadak penuh haru dan antusias saat Muhidi membagikan rekam jejak perjalanan hidupnya yang sarat perjuangan. Di hadapan para peserta, ia blak-blakan mengaku pernah melakoni berbagai pekerjaan kasar demi bertahan hidup dan membiayai sekolah, mulai dari menjadi penyelam lokan, tukang kayu, hingga buruh pabrik karet.
“Waktu SMA, pagi saya sekolah, setelah itu bekerja di pabrik karet. Perjalanannya ditempuh sekitar satu jam dengan berjalan kaki,” kenang Muhidi memotivasi para siswa agar tidak mudah menyerah pada keterbatasan.
Kisah masa lalu sang Ketua DPRD itu langsung memantik daya kritis peserta. Salah seorang siswa bahkan langsung mempertanyakan kebijakan konkret kedewanan dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan stabilitas lapangan kerja di Sumatra Barat.
Merespons hal tersebut, Muhidi menegaskan bahwa DPRD Sumbar secara konsisten menjalankan fungsi pengawasan ketenagakerjaan secara ketat demi memastikan seluruh pekerja mendapatkan haknya. Ia juga meminta generasi muda tidak apatis atau alergi terhadap dunia politik karena regulasi publik yang memayungi kesejahteraan masyarakat lahir dari proses politik.
Sementara itu, Sastrawan dan Jurnalis Senior selaku narasumber kegiatan, Yusrizal KW menjelaskan, dalam bimtek ini para siswa tidak hanya diajarkan teori menulis, tetapi juga dibekali kemampuan multimedia berupa teknik videografi dan pembuatan konten digital.
“Sekarang eranya multimedia. Siswa dituntut tidak hanya bisa menulis, tetapi juga memahami pengambilan gambar serta penyajian konten digital yang menarik, informatif, dan bertanggung jawab,” pungkas Yusrizal. (fai)
