Home » DARI KLIK-KLIK KE AKSI NYATA UNTUK MEMBANGKITKAN GERAKAN MUDA

DARI KLIK-KLIK KE AKSI NYATA UNTUK MEMBANGKITKAN GERAKAN MUDA

Redaksi
A+A-
Reset

Oleh

Jurmiah Lubis

Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Alumni Student Literacy Camp (SLC) 2024

Jurmiahlubis42@gmail.com

Di era digital yang semakin cepat, kaum muda memiliki akses unik terhadap informasi dan teknologi. Media sosial, platform online, dan aplikasi pessan instan telah menjadi alat terpenting bagi kaum muda untuk berkomunikasi, berbagi ide, dan berorganisasi. Penyebaran informasi yang sederhana melalui “klik” pada layar gadget telah menciptakan ruang-ruang baru bagi aktivitas dan partisipasi sosial. Akses terhadap internet dan media sosial memungkinkan masyarakat untuk menyuarakan isu-isu lokalnya, baik dari daerah yang sadar politik maupun dari daerah di mana mereka harus melakukan perjalanan ke perkotaan untuk mendapatkan akses internet. Media sosial, seperti Instagram, Snapchat, TikTok, dan YouTube, telah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Gen Z. Bagi mereka, platform-platform ini bukan sekadar tempat untuk bersosialisasi, melainkan juga menjadi arena untuk mengekspresikan diri, memperoleh pengetahuan, dan terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan pribadi dan sosial. Generasi ini tidak hanya ahli dalam berinteraksi dengan teknologi tersebut, tetapi juga menggunakannya sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan, menyuarakan opini, serta memperjuangkan isu-isu yang mereka pedulikan.

Perubahan zaman telah membawa kita ke era di mana aktivitas tidak lagi terbatas pada dunia fisik, tetapi juga merambah ke wilayah virtual. Internet dan media sosial telah menjadi panggung bagi apa yang kita kenal sebagai aktivisme digital. Ini adalah tempat di mana suara-suara dari masyarakat, penuh dengan protes, dukungan, dan kegelisahan, dapat terdengar oleh khalayak yang lebih luas. Namun, di balik tombol-tombol “like” dan “share” yang sering kita klik di media sosial, tersembunyi sebuah fenomena yang disebut sebagai slacktivism. Meskipun bagian dari gerakan aktivisme digital, slacktivism adalah bentuk dukungan yang lebih pasif, di mana kontribusi kita terhadap suatu isu seringkali hanya melalui dunia maya. Meski begitu, penting untuk dicatat bahwa ranah slacktivism atau clicktivism ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan aktivisme digital. Meskipun mungkin terlihat sederhana, tindakan-tindakan seperti ini tetap memiliki dampak dalam membantu menyuarakan suatu isu di tengah-tengah keramaian media sosial dan platform online.(Ayu Fitri, 2017)

Kesadaran generasi muda terhadap isu-isu sosial telah meningkat secara signifikan. Namun kaum muda sekarang menghadapi tantangan dan tekanan seperti kecanduan media sosial dan tekanan untuk terlihat sempurna di media sosial. Namun yang menjadi tantangan utama di generasi muda adalah bagaimana mengubah kebiasaan  kaum muda dari klik-klik di media sosial menjadi aksi nyata, tidak hanya partisipasi sebatas menyukai, berbagi atau berkomentar saja. Dan menyadarkan kaum muda untuk melakukan tindakan lebih lanjut di dunia nyata.

Dalam channel You Tube dan Instagram , Najwa Shihab mengunggah video berisi konser musik yang diberi nama Konser Musik  #dirumahaja yang digalakkan lewat #dirumahaja. Menurut keterangannya, diperuntukkan bagi masyarakat yang beraktivitas di rumah untuk melawan virus corona dan khususnya yang masih beraktivitas di luar karena tuntutan profesi misalnya saja tenaga medis.(Raissa, 2021). Sebagai respon dari masyarakat, banyak yang mendukung gerakan yang digagas oleh Najwa, hal ini terlihat dari komentar-komentar positif yang setuju dengan gerakan ini. Tidak hanya komentar positif, masyarakat turut menggalakkan Gerakan ini dengan menyuarakan pandangannya tentang beraktivitas di rumah yang dikaitkan dengan hal lucu, percintaan, dan lainnya. Dari respon penggguna media sosial, aktivisme yang dibangun Najwa Shihab melalui  #dirumahaja mampu melibatkan pengguna media sosial untuk ikut berpartisipasi lewat reaksi positif yang diberikan. Lewat #dirumahaja, masyarakat mengetahui urgensi dari social distancing sebagai upaya melawan virus corona sehingga menerapkan pesan dari gerakan sosial ini.

Dari pengguna media sosial yang memberi respon terhadap unggahan Najwa terkait #dirumahja, baik dalam bentuk komentar, retweet, like, membagikan kembali dan lainnya, tidak semua benar-benar melakukan perubahan yang diharapkan dari gerakan yang dikampanyekan oleh Najwa Shihab. Ada yang turut memberi dukungan dengan membagikan kembali, like, retweet dan lainnya, namun dirinya sendiri tidak menerapkan beraktivitas di rumah dan memilih tetap beraktivitas di luar. Pengguna media sosial tidak seluruhnya benar-benar memberi kontribusi nyata, hanya memberi dukungan maya, dan beranggapan bahwa dirinya sudah melakukan perubahan besar sesuai dengan kampanye sosial yang ia dukung. Kepuasan membantu atau berpartisipasi akan diperoleh pengguna media sosial dengan mudah tanpa perlu melakukan usaha besar atau aksi nyata.(Chusna, 2021)

Sukses mengubah slacktivism menjadi aksi nyata yaitu dalam Change.org. Change.org merupakan sebuah petisi online yang disebarkan melalui media sosial sebagai sebuah wadah untuk mendapatkan dukungan dan menarik perhatian netizen serta pihak yang berwewenang dalam menangani isu ataupun permasalahan dalam sosial. Bersumber dari change.org pada tahun 2012 pengguna change.org di Indonesia hanya sebanyak 130.000 orang dan bertumbuh mencapai 18.800.000  orang di tahun 2021.

Ada momen-momen ketika suatu petisi online menjadi tonggak penting dalam membawa perubahan nyata di berbagai sektor. Namun, di balik kesuksesan itu, terdapat juga petisi yang tergelincir dalam ketiadaan tanggapan atau dukungan dari netizen. Petisi-petisi ini mencerminkan kompleksitas dunia digital, di mana kekuatan dan kelemahan saling berdampingan. Salah satu kelemahan yang signifikan adalah masalah kepercayaan terhadap konten. Netizen sering kali dihadapkan pada informasi yang belum terverifikasi atau bahkan dapat dipertanyakan kebenarannya. Ini menimbulkan keraguan dan mempersulit proses pengambilan keputusan untuk mendukung atau menolak suatu petisi.

Pendukung change.org dapat menunjukkan dukungan dengan cara yang sangat mudah (hanya dengan sekali klik) dan tidak memiliki kewajiban untuk berpartisipasi diluar web. Banyak kritik terhadap petisi online dengan menyebut petisi online sebagai “clicktivism” atau “slacktivism” karena dianggap sebagai bentuk advokasi sepele yang tidak bisa mencapai apapun. Namun hal ini terbantahkan karena terdapat “kemenangan” yang dicapai hasil dari petisi online change.org, yang berhasil membuat perubahan nyata.

Meskipun internet telah membuka pintu bagi komunikasi yang lebih inklusif dan dinamis, platform seperti Change.org masih mempertahankan pola komunikasi yang sebagian besar satu arah. Di sini, pembuat petisi berperan sebagai inisiator yang mengarahkan pesan kepada para pendukungnya melalui email. Meskipun demikian, Change.org memberikan sarana untuk menggerakkan dukungan ke dunia nyata melalui fitur pembaruan berita. Dengan fitur ini, pembuat petisi dapat secara otomatis memberi kabar terbaru kepada pendukungnya melalui email, mendorong mereka untuk bertindak sesuai dengan perubahan terbaru dalam isu yang diperjuangkan.

Top of Form

Dengan transisi dari komunikasi analog ke digital, generasi mahasiswa Gen Z diharapkan mampu mengubah slacktivism menjadi tindakan nyata yang lebih efektif dan bertanggung jawab dalam memperjuangkan tujuan mereka. Pendidikan kewarganegaraan menjadi kunci dalam membantu mereka memahami prinsip-prinsip demokrasi dan tujuan dari aktivisme yang mereka lakukan. Namun, dampak dari digitalisasi tidaklah sepenuhnya positif. Meskipun memudahkan akses informasi dan memperpendek jarak komunikasi, media digital juga membuka pintu bagi penyebaran berita palsu dan hoaks oleh individu yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sementara kita merayakan kemudahan yang dibawa oleh teknologi digital, penting bagi kita untuk tetap waspada terhadap risiko-risiko yang menyertainya.

Penting bagi masyarakat untuk mempertimbangkan dengan selektif dan hati-hati setiap informasi yang mereka terima, mengingat meluasnya penyebaran berita palsu dan hoaks di era digital ini. Namun, ironisnya, kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi seringkali mengurangi dorongan untuk bertindak nyata dalam menghadapi isu-isu sosial. Untuk mengubah slacktivism menjadi tindakan yang nyata dan berdampak, diperlukan tidak hanya keinginan, tetapi juga keterampilan dalam melakukan aksi konkret yang mampu membawa perubahan yang diinginkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Lewatkan

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?