PADANG, KP – Ribuan kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memadati Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) I dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Korps Alumni HMI (KAHMI), Kamis (10/7).
Acara ini dibuka Menteri Pertanian Amran Sulaiman, didampingi sembilan Presidium Majelis Nasional KAHMI, termasuk Saan Mustopa, Dolly Kurnia Tanjung, Abdullah Puteh, Zulfikar Arse Sadikin, dan Sutomo.
Presidium KAHMI Sumatera Barat, Sabar AS, mengusulkan Kota Padang sebagai tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) KAHMI ke-XII tahun 2027. Dalam laporannya, ia meyakinkan bahwa Sumbar akan menjadi ruang strategis untuk merumuskan gagasan besar dan memperkuat kontribusi HMI bagi umat dan bangsa.
“Munas KAHMI di Padang tidak hanya akan menjadi forum musyawarah, tetapi juga momentum menunjukkan potensi Sumatera Barat di kancah nasional,” ujar Sabar.
Ia menekankan kesiapan Padang menyelenggarakan Munas dengan dukungan berbagai pihak untuk memberikan pengalaman berkesan bagi peserta dari seluruh Indonesia.
Sabar menyoroti kekayaan Sumatera Barat, mulai dari destinasi wisata seperti Danau Singkarak, Danau Maninjau, Air Terjun Lembah Anai, perbukitan Harau, hingga pantai di Pesisir Selatan dan Kepulauan Mentawai.
“Munas ini akan jadi ruang silaturahmi dan kontemplasi dengan alam,” katanya.
Lebih lanjut, ia memaparkan warisan tokoh besar dari Ranah Minang, seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Buya Hamka, dan Tan Malaka.
“Sumatera Barat adalah pilar penting dalam sejarah Indonesia,” tegasnya.
Sabar juga menekankan harmoni budaya Minangkabau yang berlandaskan falsafah ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’. Dengan 97 persen penduduk beragama Islam hidup berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lain, sistem matrilineal memupuk kebersamaan dan penghargaan terhadap perempuan.
“Sumatera Barat menawarkan teladan bagaimana agama, adat, dan budaya membangun harmoni di tengah tantangan polarisasi sosial dan krisis keteladanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kuliner Minang seperti rendang, sate Padang, dan gulai itiak lado mudo menjadi kekuatan budaya yang mendunia. “Ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soft power Sumatera Barat,” katanya.
Sabar menegaskan, Sumatera Barat menunjukkan Islam moderat yang selaras dengan budaya lokal dan kebangsaan.
“Di tengah krisis integritas, Ranah Minang menawarkan kejujuran dan keadilan. Di tengah kebutuhan regenerasi kepemimpinan, Sumatera Barat jadi tempat strategis mencetak kader umat yang merawat bangsa,” tutupnya. (nst)