PADANG,KP – Keberadaan para badut pengemis, manusia silver, pengemis, hingga ‘Pak Ogah’ kembali marak di beberapa titik lampu lalu lintas di sejumlah ruas -jalan utama di Kota Padang.
Mereka beraksi dengan tujuan meminta belas kasihan dari pengguna jalan. Meskipun telah dilakukan penertiban berulang kali oleh instansi terkait, namun tidak membuat mereka jera.
Anggota Komisi IV DPRD Padang Zulhardi Z Latif mengatakan, persoalan itu merupakan masalah klasik yang sudah terjadi cukup lama. “Perlu keseriusan dari pemerintah kota melalui stakeholder dan instansi terkait untuk mengatasi hal ini,” katanya, Jumat (24/11).
Ia menyebut, ada tiga hal yang menjadikan mereka melakukan pekerjaan mengemis di jalanan. Yakni masalah ekonomi karena betul-betul hidup dalam kondisi perekonomian yang sangat susah.
Kemudian karena ekploitasi oleh orang orang yang memanfaatkan anak-anak untuk meminta-minta sebagai pengemis. Lalu, mata pencarian yang mudah. Padahal mereka bisa dikatakan masih sangat muda untuk melakukan pekerjaan lainnya.
“Kalau Satpol PP hanya bisa melakukan penertiban dan diserahkan ke dinas sosial, ujung-ujungnya mereka akan kembali juga ke jalanan. Jadi perlu keseriusan semua pihak untuk mengatasi persoalan klasik ini,” ungkapnya.
DINAS SOSIAL BERI PELATIHAN BAGI ANJAL
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Padang Eriza Syafani menyampaikan, tidak semua anjal diserahkan ke dinas sosial. Ia menjelaskan, anak jalanan yang dibina dinsos adalah yang di bawah umur.
“Bagi anjal yang diserahkan ke dinas sosial, kita akan mencari orang tua anak tersebut. Kalau mereka berdomisili di dalam kota, diserahkan kembali kepada orang tua mereka. Jika berasal luar kota, kita pulangkan mereka ke tempat asalnya. Namun bagi yang berusia di atas 18 tahun, terlebih dahulu dibina di Satpol PP,” terangnya.
Selain itu, dinas sosial juga memiliki program untuk memberdayakan anak -anak yang dalam pembinaan.
“Mereka diberi pelatihan keterampilan yang bisa mereka praktikkan untuk bekerja atau membuka lapangan kerja sendiri,” tuturnya.
“Pelatihan ini juga terbuka bagi semua anak anak yang putus sekolah yang ingin mendapatkan ilmu ketrampilan yang nantinya berguna untuk peluang kerja,” imbunhya.
Kabid Rehabilitasi Sosial Rustim menambahkan, dinsos juga melakukan kerjasama sama dengan Yonif 133/Yudha Sakti untuk melakukan pembinaan pada anak-anak jalanan yang terjaring razia.
“Anak -anak tersebut akan diberikan bimbingan fisik dan mental selama satu minggu dan menginap di asmara batalion. Namun tahun ini tidak bisa kita lanjutkan karena keterbatasan dana,” ungkapnya.
Kemudian, bagi anak -anak yang putus sekolah diupayakan melalui dinas pendidikan untuk mengambil pendidikan paket A, paket B, dan paket C.
Ia menjelaskan, rehabilitasi sosial terhadap anak dan remaja putus sekolah terlantar khusus laki-laki juga dilakukan di UPTD Panti Sosial Asuhan Anak Bina Remaja (PSAASR) Budi Utama Lubuk Alung. Di sana mereka juga dibekali dengan pelatihan keterampilan, seperti servis elektronika, las, listrik, otomotif, dan pendingin ruangan atau AC.
“Sementara untuk perempuan dibina Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Harapan di Padang Panjang. Materi pelatihan antara lain bordir, konveksi, kostum, dan tata boga. Mereka juga dapat uang saku,” tuturnya., Pelatihan ketrampilan ini dilaksanakan selama enam bulan, dua kali dalam setahun. Tahap pertama bulan Januari-Juni dan tahap kedua Juli-Desember.
“Untuk pelatihan tahap pertama di 2024, Dinas Sosial Kota Padang membuka pendaftaran bagi yang ingin mengikuti pelatihan gratis ketrampilan ini,” pungkasnya. (bim)
