Inovasi Anak Bangsa Menuju Medical Device Berbasis Internet of Things

Oleh: Fauzyah Aprillia, S.Tr.T, M.Sc (Dosen Radiologi Universitas Baiturrahmah)

by Redaksi
A+A-
Reset

PERKEMBANGAN teknologi kesehatan di Indonesia menunjukkan kemajuan yang semakin menggembirakan. Tidak hanya berasal dari perusahaan besar atau industri teknologi, berbagai inovasi kini juga lahir dari lingkungan perguruan tinggi. Melalui penelitian yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, para akademisi mulai menghasilkan berbagai perangkat kesehatan yang berpotensi menjadi produk unggulan nasional. Salah satu contohnya adalah pengembangan alat pengukur kadar hemoglobin non-invasif berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan oleh dosen Universitas Baiturrahmah (Unbrah) Padang.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi teknologi. Melalui perpaduan ilmu kesehatan, teknik elektronika, pemrograman komputer, dan teknologi komunikasi, lahirlah sebuah perangkat medis yang mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat akan pemeriksaan kesehatan yang lebih mudah, cepat, dan nyaman.

Selama bertahun-tahun, pemeriksaan kadar hemoglobin masih mengandalkan metode invasif melalui pengambilan sampel darah. Cara tersebut memang telah menjadi standar pelayanan kesehatan karena memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Namun, prosedur tersebut memerlukan tenaga kesehatan, bahan habis pakai, serta fasilitas laboratorium yang tidak selalu tersedia di setiap daerah. Selain itu, sebagian masyarakat masih merasa takut atau kurang nyaman ketika harus menjalani pengambilan darah.

Melihat tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Baiturrahmah mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda. Mereka mengembangkan sebuah perangkat yang mampu memperkirakan kadar hemoglobin tanpa pengambilan darah dengan memanfaatkan sensor optik MAX30100. Sensor tersebut membaca perubahan volume darah melalui pancaran cahaya merah dan inframerah pada ujung jari, kemudian data diproses menggunakan mikrokontroler NodeMCU ESP8266 untuk menghasilkan estimasi kadar hemoglobin. Pengembangan perangkat ini memanfaatkan integrasi sensor MAX30100, NodeMCU ESP8266, serta model kalibrasi untuk memperkirakan kadar hemoglobin secara non-invasif.

Keunggulan lain dari perangkat ini adalah kemampuannya memanfaatkan teknologi Internet of Things. Setelah proses pengukuran selesai, hasil pemeriksaan tidak hanya ditampilkan pada layar LCD, tetapi juga langsung dikirim ke aplikasi Blynk melalui jaringan Wi-Fi. Dengan demikian, pengguna maupun tenaga kesehatan dapat memantau hasil pemeriksaan secara real time melalui telepon pintar. Integrasi IoT memungkinkan perangkat melakukan komunikasi data secara nirkabel sehingga mendukung pemantauan kesehatan berbasis aplikasi seluler.

Keberhasilan penelitian ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan medical device berbasis teknologi digital. Selama ini, sebagian besar alat kesehatan canggih masih berasal dari luar negeri. Padahal, dengan kemampuan penelitian yang terus berkembang, perguruan tinggi Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan perangkat kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal sekaligus lebih terjangkau.

Inovasi seperti ini juga menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kemandirian industri alat kesehatan nasional. Semakin banyak perangkat medis yang dikembangkan di dalam negeri, semakin besar pula peluang mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Selain memberikan manfaat ekonomi, pengembangan alat kesehatan lokal juga memungkinkan proses inovasi dilakukan lebih cepat sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Hasil pengujian terhadap perangkat menunjukkan performa yang sangat menjanjikan. Berdasarkan pengujian terhadap 30 responden, alat mampu mencapai tingkat akurasi rata-rata sebesar 95,91 persen dibandingkan alat pemeriksaan hemoglobin invasif yang digunakan sebagai pembanding. Nilai tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan memiliki potensi besar sebagai perangkat skrining awal yang praktis dan nyaman digunakan masyarakat.

Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah prototipe, penelitian ini juga membuka peluang menuju proses hilirisasi hasil riset. Hilirisasi merupakan tahapan ketika hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang dapat diproduksi, digunakan oleh masyarakat, bahkan dipasarkan secara luas. Bagi perguruan tinggi, hilirisasi menjadi salah satu indikator keberhasilan penelitian karena mampu menghadirkan manfaat nyata di luar lingkungan akademik.

Apabila dikembangkan lebih lanjut, perangkat pemeriksaan hemoglobin ini memiliki peluang besar digunakan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, klinik, rumah sakit, posyandu, pelayanan kesehatan keliling, hingga daerah terpencil yang memiliki keterbatasan laboratorium. Bentuknya yang portabel, penggunaan yang mudah, serta kemampuan mengirimkan data melalui internet menjadi nilai tambah yang sangat relevan dengan perkembangan sistem pelayanan kesehatan modern.

Selain itu, teknologi ini juga dapat mendukung perkembangan telemedicine di Indonesia. Pasien tidak selalu harus datang ke rumah sakit untuk melakukan pemantauan kondisi kesehatannya. Dengan perangkat yang terhubung ke internet, hasil pemeriksaan dapat dikirim secara langsung kepada tenaga kesehatan sehingga proses konsultasi menjadi lebih cepat dan efisien.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan performa yang sangat baik, para peneliti menyadari bahwa perjalanan menuju produk komersial masih memerlukan beberapa tahapan. Pengujian dengan jumlah responden yang lebih besar, penyempurnaan algoritma pengolahan data, peningkatan akurasi, serta proses sertifikasi alat kesehatan menjadi langkah penting sebelum perangkat dapat digunakan secara luas oleh masyarakat. Penelitian juga merekomendasikan validasi lebih lanjut dan pengembangan metode kalibrasi yang lebih komprehensif untuk meningkatkan keandalan perangkat.

Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, rumah sakit, dan investor akan menjadi faktor utama dalam mempercepat lahirnya berbagai inovasi alat kesehatan nasional. Penelitian yang baik memerlukan dukungan agar dapat berkembang menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Keberhasilan dosen Universitas Baiturrahmah mengembangkan perangkat pemeriksaan hemoglobin berbasis Internet of Things menjadi bukti bahwa inovasi besar dapat lahir dari penelitian yang berangkat dari kebutuhan sederhana masyarakat. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan teknologi dan semangat inovasi, hasilnya bukan hanya sebuah publikasi ilmiah, tetapi juga peluang lahirnya medical device karya anak bangsa yang mampu bersaing di masa depan.

Dengan semakin berkembangnya penelitian seperti ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi negara yang tidak hanya menggunakan teknologi kesehatan, tetapi juga mampu menciptakan, mengembangkan, dan memproduksi teknologi medis sendiri. Langkah tersebut menjadi fondasi penting menuju kemandirian industri alat kesehatan nasional sekaligus mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat. *

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0

Have any thoughts?

Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!