PADANG, KP — Pendidikan khusus di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) masih dibayangi sejumlah tantangan krusial di tengah pesatnya pertumbuhan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan layanan pendidikan inklusif. Mulai dari keterbatasan pemanfaatan teknologi pembelajaran adaptif, minimnya sarana ramah disabilitas, hingga kesiapan peserta didik berkebutuhan khusus menembus dunia kerja.
Persoalan tersebut diungkapkan Ketua DPRD Sumbar Muhidi, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus/Guru SLB Angkatan I, di salah satu hotel di Kota Padang, Senin (10/8).
Bimtek yang digagas melalui program pokir Ketua DPRD dan ditumpangkan pada Dinas Pendidikan Sumbar ini diikuti sebanyak 207 tenaga pendidik dari 56 sekolah yang terbagi dalam dua gelombang pelatihan.
Muhidi mengingatkan agar seluruh tenaga pendidik memberikan layanan edukasi tanpa diskriminasi. Selain itu, pemerataan guru serta fasilitas pendukung pembelajaran disabilitas menjadi PR penting yang bakal dikoordinasikannya bersama Pemprov Sumbar.
“Jangan sampai ada diskriminasi. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak,” kata Ketua DPRD Sumbar, Muhidi.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas guru agar proses belajar-mengajar dapat menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan unik tiap siswa.
“Ini menjadi perhatian kita dan akan kita koordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat,” kata Muhidi.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar melalui Kabid PGTK Monica menyebutkan, bimtek angkatan I yang digelar 10 Agustus diikuti 102 guru SLB asal Padang, Pariaman, dan Padang Pariaman, disusul Angkatan II pada 14 Agustus mendatang dengan 105 peserta.
“Pelatihan difokuskan pada penguasaan teknologi serta penyiapan kemandirian siswa,” ujarnya. (fai)
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!