Bukittinggi, kota yang pernah punya posisi penting dalam sejarah republik ini. Pada zaman kolonial Belanda, kota berthawa sejuk ini disebut dengan ‘Fort de Kock’ dan mendapat julukan sebagai ‘Parijs van Sumatra’.
Pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatra, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand.
Bukittinggi juga dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Tak hanya itu, Bukittinggi juga pernah jadi ibukota Indonesia. Hal ini disebabkan Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Saat itu, Presiden, Wakil Presiden, dan sejumlah petinggi negara ditawan dan diasingkan ke luar Jawa.
Kota ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah, seperti dituliskan dalam buku ‘Kronik Revolusi Indonesia’ yang diterbitkan Gramedia.
Di sisi lain, Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Sehingga disebut juga Tanah Abang kedua.
Pokoknya, Bukittinggi adalah kota populer di Indonesia dan dunia. Kota yang juga dikenal dengan ‘koto rang Agam’ selalu tampil dinamis, termasuk kepemimpinan kepala daerahnya. Dan kini, Pak Wali Erman Safar jadi ‘tungganai’ kota wisata ini. Beliau sudah mendekati akhir masa jabatannya. Tak pernah muncul gejolak sejak kepemimpinan Pak Wali Erman. Pembangunan berlangsung ibarat air mengalir tenang. Media tampil apa adanya. Bukittinggi semakin percaya diri sebagai kota tujuan utama wisata bagi warga luar daerah. Udaranya sejuk, membuat makan selalu batambuah.
Pak Wali Erman tampaknya tenang-tenang saja. Merapi-Singgalang perkasa menjaga kota wisata ini. Jam Gadang berdiri anggun. Wisata ngarai tetap membanggakan. Bukittinggi luar biasa.
Bagaimanapun juga, era Walikota Erman Safar cukup luar biasa tenangnya kota Jam Gadang ini. Sudah puluhan tahun penulis mengabdi sebagai pekerja media, sekarang inilah begitu tenang rasanya Bukittinggi. Puluhan tahun penulis mengabdi sebagai jurnalis (ketika itu di Harian Singgalang), terkadang sudah pulang ke rumah, disuruh ke kantor lagi. ‘Ada berita baru dari Bukittinggi’. Begitulah. Penulis pun maklum.
Kini, tak lagi seperti dulu. Bukittinggi aman dalam arti sebenarnya. Tentu kening Pak Wali tak pernah berkerut. Syukurlah.
Tak lama lagi jabatan Pak Wali Erman Safar akan berakhir. Insya Allah, Beliau selalu sehat dalam perlindungan Allah SWT. Meski bisik-bisik mulai terdengar jelang pilkada 2024 seperti diberitakan KORAN PADANG edisi Rabu (6/9), namun petahana Erman Safar tetap lah selalu seperti biasa. Nasib, rezeki, hidup, dan mati, kita hanya menjalani saja. Allah punya kuasa.
Tentunya ada yang berminat berteman dengan Pak Erman Safar untuk bergandengan. Kita pun maklum, tidak mungkin kuda berpacu sendirian saja. Begitu tradisi alek pacu kudo di kampung kita. Selamat selalu untuk Pak Wali Erman Safar. *