Kemiskinan Kota Sumbar Naik, Beras Jadi Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan

by Redaksi
A+A-
Reset

PADANG, KP — Kemiskinan di wilayah perkotaan Sumatera Barat (Sumbar) justru meningkat pada Maret 2026, saat kemiskinan secara keseluruhan menurun. Jumlah penduduk miskin di perkotaan bertambah 3,50 ribu orang dibandingkan September 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat, persentase penduduk miskin di perkotaan naik dari 3,75 persen pada September 2025 menjadi 3,82 persen pada Maret 2026.

Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin mengatakan, kondisi perkotaan tersebut berbanding terbalik dengan wilayah perdesaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan justru berkurang 4,66 ribu orang dalam periode yang sama.

“Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 3,75 persen menjadi 3,82 persen,” kata Nurul dalam siaran resmi BPS, dikutip Senin (10/8).

Di perdesaan, persentase penduduk miskin turun dari 7,03 persen menjadi 6,88 persen. Penurunan jumlah penduduk miskin di perdesaan tersebut lebih besar dibandingkan kenaikan di perkotaan.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin Sumbar pada Maret 2026 mencapai 311,14 ribu orang. Angka tersebut turun 1,16 ribu orang dibandingkan September 2025 dan berkurang 1,21 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Persentase penduduk miskin Sumbar juga turun menjadi 5,27 persen. Angka tersebut berkurang 0,04 persen poin dibandingkan September 2025 dan 0,08 persen poin dibandingkan Maret 2025.

Garis Kemiskinan Naik

Di tengah penurunan jumlah penduduk miskin secara keseluruhan, Garis Kemiskinan (GK) Sumbar justru meningkat. Pada Maret 2026, GK mencapai Rp808.511 per kapita per bulan, naik 4,12 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp776.517.

Dibandingkan Maret 2025, GK juga meningkat 10,78 persen dari Rp729.806 menjadi Rp808.511 per kapita per bulan.

Berdasarkan wilayah, GK perkotaan meningkat 3,45 persen sepanjang September 2025 hingga Maret 2026. Sementara di perdesaan, kenaikannya mencapai 4,79 persen.

BPS menggunakan GK sebagai batas untuk menentukan penduduk yang masuk kategori miskin. Nilai tersebut dihitung berdasarkan kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi seseorang setiap bulan.

Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar GK Sumbar dengan kontribusi 76,35 persen pada Maret 2026. Di wilayah perkotaan, beras menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar sebesar 21,38 persen.

Selain beras, komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar adalah rokok kretek filter 13,30 persen, cabai merah 4,65 persen, telur ayam ras 4,28 persen, serta tongkol, tuna, dan cakalang 3,81 persen.

Untuk kelompok bukan makanan, perumahan menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 7,04 persen. Berikutnya bensin 3,39 persen, listrik 2,87 persen, dan pendidikan 2,68 persen.

BPS mencatat rata-rata rumah tangga miskin di Sumbar pada Maret 2026 terdiri atas 5,06 anggota rumah tangga. Dengan rata-rata tersebut, GK rumah tangga miskin mencapai Rp4.091.066 per rumah tangga per bulan.

Sejumlah Indikator Ekonomi

Perubahan angka kemiskinan tersebut berlangsung di tengah dinamika sejumlah indikator sosial ekonomi Sumbar.

Inflasi umum Sumbar pada Februari 2026 terhadap September 2025 tercatat 0,77 persen. Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 3,96 persen pada periode yang sama.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumbar pada Februari 2026 berada di level 124,77, turun 4,15 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 130,17.

Dari sisi ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumbar pada Februari 2026 tercatat 5,51 persen, turun 0,11 persen poin dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 5,62 persen.

Data BPS tersebut menunjukkan penurunan kemiskinan Sumbar belum berlangsung merata. Ketika kemiskinan di perdesaan menurun, wilayah perkotaan justru mengalami peningkatan. (sdy)

Apakah berita ini bermanfaat?
Ya0Tidak0

Have any thoughts?

Share your reaction or leave a quick response — we’d love to hear what you think!